AzrilInilah irama musik yang selalu saya rindukan setiap kali membuka pagar pintu rumah saat pulang.

“Ayah datang! Ayah datang!” Bocah-bocah mungil itu lalu menghambur memeluk saya dengan tas ransel masih di pundak, menjabat dan mencium tangan saya. Mereka sepertinya sudah menunggu ayah mereka pulang di depan pintu itu semenjak selesai mandi sore. Senyum keceriaan di wajah mereka seketika membuat penat saya pergi entah kemana.

Setelah itu, ritual berikutnya adalah menceritakan apa yang telah mereka lakukan hari itu dengan semangat empat-lima. Tidak satu demi satu, tetapi bersahut-sahutan seperti celoteh anak-anak ayam di sekitar induknya saat mengais mencari makan bersama-sama. Dan kali ini, yang ingin saya bagi dengan Anda adalah “pencapaian” sang ahli konstruksi pesawat terbang di rumah saya. Namanya: Muhammad Azril Haq Bilhaq Abul Ula; dipanggil Azril.

***

Ia berumur 4 tahun. Laki-laki sendiri diantara 6 orang anak saya saat ini. Dan hari itu, ia membawa pesawat rakitannya yang baru dari balok susun plastik berwarna-warni. Tentu saja, setiap rakitannya selalu berbeda dengan rakitannya versi terdahulu.

Ini rakitannya yang kesekian kali. Sebuah konstruksi pesawat terbang yang tersusun dari 10 lapisan. Sebuah model pesawat yang futuristik, berbentuk seperti burung sedang mengepakkan sayapnya. Ia langsung memamerkan hasil konstruksinya, bahkan sebelum saya meletakkan tas pada tempatnya. Lalu ia pun menjelaskan detilnya. Bahwa pesawat itu memiliki ruang kokpit untuk pilot di ujung lapisan 4, tepat pada kepala burung. Dua sayapnya menjulang samping-menyamping, masing-masing membawa peluru-peluru yang siap ditembakkan. Untuk melawan kalau ada musuh, katanya.

Saya memerhatikan konstruksinya dengan rasa takjub, betapa proses belajarnya dari hari ke hari tentang konstruksi pesawat itu membuahkan hasil yang terus meningkat kualitasnya. Bahkan sering di luar dugaan saya bahwa ia mampu melakukannya.

Ia belajar menyusun dengan balok plastik itu secara “serius” sejak 2 tahun yang lalu. Sebetulnya kami belikan mainan itu untuk adiknya. Tetapi, ia lalu “mengambil alih” mainan itu. Dan kemudian lahirlah dari tangannya berbagai konstruksi. Utamanya pesawat dan kereta api.

Mulanya, konstruksi pesawatnya begitu sederhana. Hanya tersusun dari 4-5 balok plastik saja. Seiring hari berlalu, konstruksi pesawatnya bertambah rumit, bertambah kompleks. Jika dulu hanya ada badan dan sayap, kini lebih detil dan kaya dengan adanya kokpit, ekor, baling-baling, peluru kendali, dan kadang roda pesawat. Jika dulu hanya satu atau dua lapis, kini berlapis-lapis. Konstruksi yang saya ceritakan di atas bahkan seperti robot atau pesawat luar angkasa. Jika dulu bersayap tunggal berkokpit tunggal, sekarang bersayap dan berkokpit banyak. Bahkan beberapa hari lalu, kedua kokpitnya moveable. Bisa dipindah-pindah maju-mundur. Jika dulu satu pesawat saja sekali buat, kini ia membuat dua atau tiga; satu besar dan yang lain kecil-kecil, seperti formasi pesawat induk dengan pengawalnya.

Satu hal sangat menarik perhatian saya. Bahwa pesawat-pesawat hasil karyanya itu selalu simetris. Seimbang antara bagian kiri dan kanan. Saya tak pernah mengajari teori pesawat padanya; termasuk bahwa pesawat harus memiliki kesimetrisan seperti itu. Tetapi begitulah pesawat yang ia buat, termasuk yang kompleks seperti konstruksi burung atau robot di atas. Meski sayapnya bertumpuk-tumpuk dengan di sana-sini tergantung peluru kendali menurut kaca mata imajinasinya, tetapi komposisi antara sayap kiri dan kanannya simetris. Sama seperti konstruksi kereta apinya yang kini kian panjang, dimana gerbong satu dengan lainnya identik baik besar maupun bentuknya; lalu di paling ujung ada lokomotif dengan kepala lokonya yang unik — untuk sampai pada pencapaian ini, ia telah mempreteli lebih dari 10 kereta api mainan yang saya belikan dalam berbagai bentuk dan ukuran. Sebagian besar diantaranya hanya berumur sehari. Selebihnya, dua jam saja.

Azril menceritakan pesawatnya itu tanpa putus. Seperti biasanya. Sepertinya selalu ada saja yang ingin ia katakan. Hal demikian tidak saja ketika ia menceritakan tentang pesawatnya, tetapi juga pada kesempatan-kesempatan lain berbincang dengannya tentang segala sesuatu. Parahnya — tetapi saya sama sekali tidak menganggapnya “parah” — pembicaraan tanpa titik itu sering terbawa terus ketika yang lain sudah pada bobok, sementara ia sendiri masih terang-benderang. Ia terus mengajak bicara siapa saja. Sering adiknya ia bangunkan untuk diajaknya berbincang dan bermain. Juga ayahnya, yang sebenarnya ingin terus menemaninya bermain dan berdiskusi, tetapi tak urung sering tertidur tanpa sengaja disampingnya karena kecapekan.

***

Seperti kebanyakan ayah yang lain, saya sering merasa bersalah padanya. Juga pada anak-anak saya yang lain.

Betapa waktu yang saya sediakan untuk mereka begitu kurangnya. Andai mungkin, ingin rasanya saya diberikan waktu 48 jam sehari, agar setidaknya bisa mendampingi mereka 24 jam diantaranya. Jika saja mereka bisa kita dampingi lebih banyak dan dengan kualitas pendampingan yang lebih baik, “pencapaian” mereka pasti lebih dahsyat dari yang kita kira. Saya sulit untuk sependapat bahwa yang penting pada pendampingan anak-anak kita itu kualitas, bukan kuantitas. Pada usia mereka, menurut saya, intensitas bertemu (kuantitas) sangat berperan pada pembentukan kepribadian mereka sejak dini.

Betapa banyak kita jumpai anak-anak yang kehilangan figur ayah mereka. Atau ibu mereka. Na’udzubillah min dzalik! Beberapa keluarga yang saya perhatikan, dimana ayah mereka memiliki masalah sering tidak di rumah (sering bepergian, memiliki affair di tempat lain, dan sebagainya) anak-anaknya lebih sulit untuk dikendalikan. Misalnya, ketika di dalam pertemuan, anak-anak itu merengek-rengek minta sesuatu tanpa memedulikan sekitarnya. Mereka berteriak begitu rupa pada ibunya tanpa bisa dicegah atau dikasih tahu. Tentu saja, pengamatan saya bisa saja salah.

Saya tentu saja tak ingin anak-anak saya seperti itu, meski di satu sisi, sampai detik ini, saya belum juga bisa menambah intensitas pertemuan saya dengan anak-anak. Oleh karena itu, momen seperti kedatangan saya pulang ke rumah tidak ingin saya lewatkan sama sekali untuk bersalam pada mereka, merentangkan kedua tangan saya, merengkuh mereka, memeluk mereka, mencium mereka, dan mendengarkan celoteh mereka tentang apa saja, dan kemudian larut dalam situasi yang mereka ciptakan. Karena saya yakin, itulah salah satu momen dimana mereka ingin didengarkan oleh ayahnya. Saat dimana mereka ingin diperhatikan oleh ayahnya. Karena mereka, meski anak-anak, juga menyadari, bahwa ayah mereka meninggalkan mereka dari pagi hingga petang untuk mereka juga. Dan ayah mereka kembali pulang untuk mereka juga.

Nak, percayalah, Ayah cinta pada kalian semua, lebih dari siapapun.

Apakah Anda sudah memeluk putra-putri Anda hari ini?

tanda tangan

***

Sumber foto: Azril dan pesawatnya (istimewa, jepretan kamera saya).

Bookmark and Share