Sudah lama saya tidak menulis di blog ini.

Bolak-balik Surabaya-Jakarta, urusan kantor. Banyak liburan — yang biasanya justru tidak libur, karena mengantar anak-anak jalan-jalan. Juga ibunya, tentu. Disamping itu, juga harus belajar keras untuk menghadapi final exam akhir Desember lalu — yang materi kedua matakuliah itu harus benar-benar saya baca mulai halaman pertama. Rasanya seperti membaca novel penuh misteri karangan seorang penulis baru yang juga baru saya kenal. Grotal-gratul, kata orang Jawa. Tertatih-tatih. Terbentur-bentur. Saya bahkan harus membuat jembatan keledai dengan Mind Mapping untuk setiap bahasannya dalam rangka mempermudah mengingat dan memahaminya.

Pengalaman ini mengajarkan pada saya, bahwa jembatan keledai atau jembatan dari hewan apapun untuk memudahkan mengingat materi apa saja yang kita buat secara mendadak tidak akan membantu ingatan kita menjadi jauh lebih baik. Yang terjadi malah justru membuat kita tambah bingung. Tidak ada belajar instan, sebagaimana tidak ada kesembuhan instan secepat secelupan batu sakti Ponari.

Meski saya akhirnya lulus (dibaca: lolos) kedua matakuliah itu pada pertengahan Januari lalu, namun belajar yang paling baik kiranya masih seperti konsep belajarnya Ibnu Hajar: ilmu itu kita serap tetes-demi-tetes, detik-demi-detik. Seperti tetesan air pada cadas batu, yang jejaknya semakin membekas lebih dalam, dalam, dan dalam dari waktu ke waktu. Maka demikian pulalah ingatan kita bekerja.

Apakah pada semester depan nanti saya akan mengikuti Ibnu Hajar? Wallahu a’lam. Setidaknya saya berusaha. Tetapi yang pasti, kini saya akan memulai menulis lagi di blog ini setelah sebulan lamanya saya tinggalkan. Kerinduan menulis di sini lebih kuat desakannya ketimbang membuat jembatan keledai itu.

Semoga saya bisa istiqamah.

Apakah Anda sudah membuat jembatan keledai hari ini?

tanda tangan

***

Bookmark and Share