Penyesalan, yang selalu datang terlambat itu, bisa bermula dari beraneka sebab. Dan hari ini, penyesalan yang akan saya kenang seumur hidup dan tak kan dapat saya tebus lagi itu bermula dari menunda sebuah kebaikan.

Betapa keteledoran yang menjadi sebab penyesalan saya itu sama sekali tidak sejalan dengan ujar para shalafus-shalih,

ما أحببت أن يكون معك فى الأخرة إفعله اليوم
وما كرهت أن يكون معك فى الأخرة أترك اليوم

Apa yang engkau suka untuk dibawa bersamamu ke akhirat, kerjakan sekarang juga. Dan apa yang engkau tidak suka dibawa bersamamu ke akhirat, tinggalkan sekarang juga.

Maknanya, hidup ini singkat. Kematian itu pasti. Sedangkan sesuatu yang datangnya pasti, maka ia sesungguhnya amat dekat. Jika bekal sesudah kematian itu tidak ada lain kecuali iman dan amal shalih, maka ada tidaknya iman dan banyak sedikitnya amal shalih adalah kunci keselamatan di akhirat kelak. Dengan demikian, amat sangat jelas, jika ada kesempatan berbuat kebaikan (amal shalih), maka bersegera mengerjakannya adalah yang paling utama; mengingat sisa waktu kita tidak banyak. Bahkan Allah memakai redaksional fastabiqul khairat dalam QS. Al-Baqarah: 148. Berlomba-lomba dalam (mengerjakan) kebaikan. Berlomba-lomba bermakna cepet-cepetan (jawa), adu cepat dengan yang lain.

Dalam kata “bersegera” juga terkandung makna “kesungguhan”. Jika memang bersungguh-sungguh dalam melakukan suatu kebaikan, maka seseorang tentu akan bersegera melakukannya. Tidak menunda-nunda. Tidak ada kata ragu. Itulah mengapa Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhush-shalihin memasukkan fastabiqul khairat itu pada awal bab tentang Babul mubaadarah ilal khairaat wa hatstsu man tawajjaha likhairin ‘alal iqbaali ‘alaihi bil jiddi min ghairi taraddud” (bab bersegera dalam melakukan kebaikan dan dorongan bagi orang-orang yang ingin berbuat baik agar segera melakukannya dengan penuh kesungguhan tanpa ada keraguan sedikitpun).

Di sana ada ungkapan “dengan kesungguhan tanpa ada keraguan sedikitpun”. Ini menunjukkan bahwa tidak mungkin kebaikan itu bisa dicapai oleh seseorang yang tak bersungguh, setengah hati — astaghfirullah seperti apa yang saya sesali hari ini — dalam mengerjakannya.

Sungguh jauh rasanya apa yang saya lakukan dibandingkan teladan yang diberikan Nabi saw. dalam bersegera melakukan kebaikan ini.

Suatu hari, Uqbah bin Harits r.a. pernah bercerita: “Aku shalat Ashar di Madinah di belakang Rasulullah saw. Tiba-tiba ketika selesai shalat Rasulullah segera keluar melangkahi barisan shaf para sahabat dan menuju kamar salah seorang istrinya. Para sahabat terkejut melihat tergesa-gesanya Rasulullah saw. Lalu Rasulullah keluar dan terkejut ketika melihat para sahabatnya memandangnya dengan penuh keheranan. Rasulullah saw. lalu bersabda: ‘Aku teringat ada sekeping emas di dalam kamar, dan aku tidak suka kalau emas tersebut masih bersamaku. Maka aku segera perintahkan untuk dibagikan kepada yang berhak’.” (HR. Bukhari).

Malu rasanya jika kelak diberikan ijin bertemu Nabi di surga. Kebaikan yang telah saya niatkan menjadi terbengkalai, akibat tidak segera ditunaikan, tidak seperti teladan yang beliau berikan. Kesempatan itu seketika pupus, karena seseorang kepada siapa kebaikan itu akan saya lakukan telah lebih dahulu dipanggil ke haribaan-Nya pada 31 Januari yang lalu.

Innaalillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun. Selamat jalan saudaraku, Agus Purwanto, dalam usiamu yang masih sangat muda. Semoga ujian demi ujian yang diberikan kepadamu selama hidupmu adalah bentuk cinta-Nya kepadamu. Dan Ia berkenan menggantinya dengan surga-Nya karena kesabaranmu. Amin.

Saudaraku, adakah engkau (juga) sedang menunda kebaikan hari ini?

tanda tangan

***

Bookmark and Share