Aceminda Category

Hadiah Terindah Untuk Ibu Ima

In: Aceminda, Inspirasi, Keluarga Asmara

(Catatan Ramadhan 1431H #4)

Siapakah orang yang paling romantis di dunia?

Buat saya, orang yang paling romantis dan benar-benar saya kenal dalam arti pernah berjumpa dengannya adalah laki-laki itu. Umurnya tak lagi muda. Tak kurang dari 64-65 tahun. Rambutnya sudah memutih. Bersebelas cucu. Tetapi begitu pertama kali tahu bagaimana ia menyambut istrinya di telepon, saya seketika menobatkannya sebagai laki-laki paling romantis di dunia yang pernah saya kenal.

Ya. Laki-laki itu adalah Uncle M. Uncle Manshor H. Sukaemi.

“Halo, sayang! Bagaimana kabarmu siang ini?” begitulah mula pertama saya mendengarnya menerima telepon dari Ibu Ima, istri tercintanya, nun jauh di Singapura sana. “Kamu sedang ada dimana saat ini, sayang?”

BISA! Kenapa Tak Bisa?

In: Aceminda, Inspirasi, Suri-Tauladan, Tokoh

Uncle MTulisan ini dan beberapa tulisan lain sebenarnya saya persiapkan untuk Kompasiana Blogging Day kemarin (29 Juli 2010). Tapi karena server kompasiana ngadat, saya tak bisa mempostingnya pada rentang waktu lomba yang ditetapkan (14.00 - 15.40). Kelihatannya, ratusan peserta yang lain mengalami hal yang sama. Bahkan Admin Kompasiana sampai minta maaf segala.

Tak apalah. Kalaupun tak sempat diikutkan lomba, tulisan ini masih bisa saya posting di blog sederhana ini. Untuk siapa lagi kalau bukan untuk Anda? Semoga bermanfaat. Kayaknya bakal berseri tulisan tentang tokoh ini. Semoga banyak yang bisa saya ingat dan ceritakan kembali.

***

Encouragement

In: Aceminda, Inspirasi, Keluarga Asmara

Ada kiriman artikel menarik dari seorang teman, ditulis oleh Pak Rhenald Kasali. Mungkin kita sudah pernah tahu secara esensi, tetapi sebagai manusia biasa, kita sering lupa dan khilaf. Maka tak lain tulisan ini semoga mengingatkan kembali kepada kita, bahwa sebagai orang tua kita harus bertindak sebagaimana layaknya “orang tua”. Tua dalam pandangan jawa (tuwo), berarti kenyang terhadap pengalaman hidup. Dimensinya bahkan dunia-akhirat. “Ngelmu tuwo” bukanlah ilmu yang sudah ratusan tahun umurnya, melainkan ilmu yang mendalam secara makna, melintas zaman dan dimensi secara waktu, dan matang secara materi.

Semoga bermanfaat, di tengah saya belum punya ide dan waktu untuk memperbaharui blog ini. (Dasar!)

***

Encouragement
Thursday, 15 July 2010

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.

Laki-laki Di Antara Pelangi

In: Aceminda, Inspirasi, Keluarga Asmara

mbak ais“Ayah.”

“Hmmm?” Saya menoleh pada gadis manis di jok samping saya itu. Gurat kecantikan ibunya ada pada wajahnya. Sementara mobil saya berhentikan ketika lampu lalu lintas perempatan Nginden baru saja menyala merah. “Apa Mbak Ais?”

“Gimana sih supaya kita bisa mimpi bertemu Rasulullah itu?” tanyanya serius, seserius pertanyaan gadis kecil itu.

“Mimpi bertemu Rasulullah?” Alis saya terangkat. Saya terperanjat. Gadis kecil saya menatap mata saya menunggu jawaban dengan penuh harap. O, Mbak Ais, kenapa kamu tanyakan sebuah pertanyaan yang sulit Ayah jawab ini, sayang?

Evolusi Pesawat Terbang Azril

In: Aceminda, Inspirasi

AzrilInilah irama musik yang selalu saya rindukan setiap kali membuka pagar pintu rumah saat pulang.

“Ayah datang! Ayah datang!” Bocah-bocah mungil itu lalu menghambur memeluk saya dengan tas ransel masih di pundak, menjabat dan mencium tangan saya. Mereka sepertinya sudah menunggu ayah mereka pulang di depan pintu itu begitu selesai mandi sore. Senyum keceriaan di wajah mereka seketika membuat penat saya pergi entah kemana.

Sudah lama saya tidak menulis di blog ini.

Bolak-balik Surabaya-Jakarta, urusan kantor. Banyak liburan — yang biasanya justru tidak libur, karena mengantar anak-anak jalan-jalan. Juga ibunya, tentu. Disamping itu, juga harus belajar keras untuk menghadapi final exam akhir Desember lalu — yang materi kedua matakuliah itu harus benar-benar saya baca mulai halaman pertama. Rasanya seperti membaca novel penuh misteri karangan seorang penulis baru yang juga baru saya kenal. Grotal-gratul, kata orang Jawa. Tertatih-tatih. Terbentur-bentur. Saya bahkan harus membuat jembatan keledai dengan Mind Mapping untuk setiap bahasannya dalam rangka mempermudah mengingat dan memahaminya.

Sebuah lukisan kaligrafi menghiasi dinding ruang kelas Madrasah ‘Aliyah Negeri (MAN). Adakah yang aneh? Tak ada, bukan? Itulah yang saya perhatikan pagi hari kemarin di MAN Bangkalan yang terletak persis di depan Kantor Departemen Agama Bangkalan itu. Saya sedang mengantar istri, ibunya anak-anak, untuk sebuah urusan di sekolah ini. Dan di kelas XI IPS 2 itulah, di dekat gudang bertuliskan “Drum band”, saya temukan lukisan kaligrafi itu — saya kira hasil prakarya siswa kelas itu sendiri — dipasang menyolok di dinding paling belakang.

Hanya saja, ketika membaca penggalan ayat yang dikaligrafikan itu, saya jadi bertanya-tanya. Mengapa mereka memilih ayat itu?

Tak and the Power of JujuInilah konsekuensi yang harus kami tanggung ketika memutuskan di rumah tidak perlu memutar siaran TV. Ketika lebaran kemarin di rumah mertua di Bangkalan, hampir seharian Ais dan kedua adiknya (yang pada masa kecil mereka sempat melihat TV sebelum kemudian kami buang antenanya, lalu kini saya singkirkan sama sekali dari rumah) duduk mematung di depan TV kakeknya. Tentu saja kakeknya dengan senang hati merelakan TV, tempat, dan waktunya untuk cucu-cucunya. Sementara saya dan ibunya anak-anak terbaring sakit, maka lengkaplah ‘kebahagiaan’ Ais dan adik-adiknya menghabiskan waktunya seharian di depan kotak opera sabun itu.

Ada yang kemudian menarik perhatian saya ketika mereka sedang menyaksikan film kartun. Sebenarnya film kartun anak-anak kita saat ini isinya apa sih? Pada saat itu, di saluran GlobalTV sedang diputar serial Tak and The Power of Juju. Sebuah kartun yang diangkat dari video game untuk Play Station. Cerita ini lalu diadaptasi ke dalam film animasi televisi oleh Nickelodeon dan Nicktoons Network pada 2007.

Tarawih ramadhan hari ketiga sudah usai. Segera saya pulang, membungkusmu, dan menautkanmu pada sepeda motor Luluk, adikku. Modelnya yang matic dengan space yang cukup di bawah kaki seperti model skuter, membuat saya mudah menempatkannya selama dalam perjalanan malam ini.

“Ini pilihan yang paling realistik,” kata saya pada wanita itu. Gurat kelelahan masih terlihat pada mukanya, meski kini telah berbaur dengan kebahagiaan yang tiada tara. “Habis, rumah kita sudah full bangunan. Tak ada tanah lagi bisa digali untuk menguburkannya.”

“Ya, Mas. Kalau minta tolong Ayah di Bangkalan juga tak ada orang,” kata wanita itu menimpali.

“Jangan bilang ibu Ponorogo, ya?” pinta saya sungguh. “Kalau bilang, nanti takutnya malah tidak boleh. Kita juga yang repot.”

Ia tersenyum. Saya orang Jawa. Tetapi kadang repot bin ribet kalau harus berhadapan dengan adat Jawa. Sekali-kali ‘melanggar adat’ kan nggak apa-apa?

Adian HusainiAda satu ungkapan yang menarik perhatian saya pada acara tasyakur dan orasi ilmiah Dr. Adian Husaini di aula SD Integral Luqmanul Hakim PP Hidayatullah, Kejawan Putih Tambak Surabaya pada hari Sabtu, 2 Mei 2009 kemarin. Mengutip kata-kata Muhammad Asad (a.k.a. Leopold Weiss) dalam bukunya Islam at the Crossroads (Islam di Persimpangan Jalan), Mas Adian — yang baru saja mendapatkan gelar doktor bidang peradaban Islam dari ISTAC-IIUM itu — menyatakan,

“Tidak ada satu peradaban dapat menjadi makmur, ataupun hidup, sesudah kehilangan kebanggaan terhadap peradaban itu dan sesudah kehilangan hubungan dengan masa lalunya sendiri.”

Dari pernyataan ini, ada 2 hal yang menjadi kunci makmur dan hidupnya sebuah peradaban. Pertama, kebanggaan umat terhadap peradaban itu sendiri. Dan yang kedua, keterhubungan peradaban itu dengan masa lalunya.

Bahtiar HS

Engineer, pembaca, penulis, pencinta ilmu. Suami dari seorang istri dan Ayah dari 6 orang malaikat kecil.


Jajak Pendapat

Sorry, there are no polls available at the moment.

Ikuti posting terbaru

Tulis email Anda:

delivered by FeedBurner

Hari ini

Kalender Posting

September 2010
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Bahtiar Bergerak


Internet Sehat

Blog Bahtiar

Flickr Bahtiar

39_sitou38_sicakep337_sicakep236_sicakep35_naskun34_beer33_anker32_kbgapi31_anker

Statistics

Sejak 17 Sep 2008

Chatting