Aceminda Category

Evolusi Pesawat Terbang Azril

In: Aceminda, Inspirasi

AzrilInilah irama musik yang selalu saya rindukan setiap kali membuka pagar pintu rumah saat pulang.

“Ayah datang! Ayah datang!” Bocah-bocah mungil itu lalu menghambur memeluk saya dengan tas ransel masih di pundak, menjabat dan mencium tangan saya. Mereka sepertinya sudah menunggu ayah mereka pulang di depan pintu itu begitu selesai mandi sore. Senyum keceriaan di wajah mereka seketika membuat penat saya pergi entah kemana.

Sudah lama saya tidak menulis di blog ini.

Bolak-balik Surabaya-Jakarta, urusan kantor. Banyak liburan — yang biasanya justru tidak libur, karena mengantar anak-anak jalan-jalan. Juga ibunya, tentu. Disamping itu, juga harus belajar keras untuk menghadapi final exam akhir Desember lalu — yang materi kedua matakuliah itu harus benar-benar saya baca mulai halaman pertama. Rasanya seperti membaca novel penuh misteri karangan seorang penulis baru yang juga baru saya kenal. Grotal-gratul, kata orang Jawa. Tertatih-tatih. Terbentur-bentur. Saya bahkan harus membuat jembatan keledai dengan Mind Mapping untuk setiap bahasannya dalam rangka mempermudah mengingat dan memahaminya.

Sebuah lukisan kaligrafi menghiasi dinding ruang kelas Madrasah ‘Aliyah Negeri (MAN). Adakah yang aneh? Tak ada, bukan? Itulah yang saya perhatikan pagi hari kemarin di MAN Bangkalan yang terletak persis di depan Kantor Departemen Agama Bangkalan itu. Saya sedang mengantar istri, ibunya anak-anak, untuk sebuah urusan di sekolah ini. Dan di kelas XI IPS 2 itulah, di dekat gudang bertuliskan “Drum band”, saya temukan lukisan kaligrafi itu — saya kira hasil prakarya siswa kelas itu sendiri — dipasang menyolok di dinding paling belakang.

Hanya saja, ketika membaca penggalan ayat yang dikaligrafikan itu, saya jadi bertanya-tanya. Mengapa mereka memilih ayat itu?

Tak and the Power of JujuInilah konsekuensi yang harus kami tanggung ketika memutuskan di rumah tidak perlu memutar siaran TV. Ketika lebaran kemarin di rumah mertua di Bangkalan, hampir seharian Ais dan kedua adiknya (yang pada masa kecil mereka sempat melihat TV sebelum kemudian kami buang antenanya, lalu kini saya singkirkan sama sekali dari rumah) duduk mematung di depan TV kakeknya. Tentu saja kakeknya dengan senang hati merelakan TV, tempat, dan waktunya untuk cucu-cucunya. Sementara saya dan ibunya anak-anak terbaring sakit, maka lengkaplah ‘kebahagiaan’ Ais dan adik-adiknya menghabiskan waktunya seharian di depan kotak opera sabun itu.

Ada yang kemudian menarik perhatian saya ketika mereka sedang menyaksikan film kartun. Sebenarnya film kartun anak-anak kita saat ini isinya apa sih? Pada saat itu, di saluran GlobalTV sedang diputar serial Tak and The Power of Juju. Sebuah kartun yang diangkat dari video game untuk Play Station. Cerita ini lalu diadaptasi ke dalam film animasi televisi oleh Nickelodeon dan Nicktoons Network pada 2007.

Tarawih ramadhan hari ketiga sudah usai. Segera saya pulang, membungkusmu, dan menautkanmu pada sepeda motor Luluk, adikku. Modelnya yang matic dengan space yang cukup di bawah kaki seperti model skuter, membuat saya mudah menempatkannya selama dalam perjalanan malam ini.

“Ini pilihan yang paling realistik,” kata saya pada wanita itu. Gurat kelelahan masih terlihat pada mukanya, meski kini telah berbaur dengan kebahagiaan yang tiada tara. “Habis, rumah kita sudah full bangunan. Tak ada tanah lagi bisa digali untuk menguburkannya.”

“Ya, Mas. Kalau minta tolong Ayah di Bangkalan juga tak ada orang,” kata wanita itu menimpali.

“Jangan bilang ibu Ponorogo, ya?” pinta saya sungguh. “Kalau bilang, nanti takutnya malah tidak boleh. Kita juga yang repot.”

Ia tersenyum. Saya orang Jawa. Tetapi kadang repot bin ribet kalau harus berhadapan dengan adat Jawa. Sekali-kali ‘melanggar adat’ kan nggak apa-apa?

Adian HusainiAda satu ungkapan yang menarik perhatian saya pada acara tasyakur dan orasi ilmiah Dr. Adian Husaini di aula SD Integral Luqmanul Hakim PP Hidayatullah, Kejawan Putih Tambak Surabaya pada hari Sabtu, 2 Mei 2009 kemarin. Mengutip kata-kata Muhammad Asad (a.k.a. Leopold Weiss) dalam bukunya Islam at the Crossroads (Islam di Persimpangan Jalan), Mas Adian — yang baru saja mendapatkan gelar doktor bidang peradaban Islam dari ISTAC-IIUM itu — menyatakan,

“Tidak ada satu peradaban dapat menjadi makmur, ataupun hidup, sesudah kehilangan kebanggaan terhadap peradaban itu dan sesudah kehilangan hubungan dengan masa lalunya sendiri.”

Dari pernyataan ini, ada 2 hal yang menjadi kunci makmur dan hidupnya sebuah peradaban. Pertama, kebanggaan umat terhadap peradaban itu sendiri. Dan yang kedua, keterhubungan peradaban itu dengan masa lalunya.

merayapIni perbincangan ringan menjelang pembukaan acara RUPS kantor kami, 25 April yang lalu. Bukan tentang materi RUPS atau isu-isu terkait dengan perusahaan kami, melainkan soal anak-anak masa kini. Dan pemicunya adalah soal flu Singapura yang kian merebak.

“Jakarta lagi rame soal flu Singapura,” Pak Alkaff buka suara. “Gejalanya seperti flu biasa, tetapi mereka yang terkena mengalami bercak-bercak merah di tangan. Bukan seperti bintik merah demam berdarah, tetapi bercaknya lebih besar dan lebar.”

Peserta yang lain, sekitar sepuluh orang, tampak mengangguk-angguk.

“Saya juga heran,” sambung Pak Abdulkadir. “Beberapa waktu yang lalu, saya menghadiri upacara Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus di SD yang saya kelola. Tempatnya di lapangan. Tidak berapa lama, ada siswa yang jatuh pingsan. Tak lama kemudian, ada lagi yang pingsan. Ada lagi yang pingsan. Ada lagi yang pingsan. Demikian, hingga banyak sekali yang roboh tak kuat berdiri mengikuti upacara di bawah terik matahari.”

Posting ini sebenarnya meneruskan diskusi dengan teman-teman pada posting sebelumnya Pilih Mana: Menjadi Musafir atau Hamba Sahaya? Terutama ketika Mas Khalis Tontowi menyinggung tentang “tafsir” , bahwa manusia diciptakan dalam sebaik-baik bentuk. Tetapi, sebaik-baik bentuk itu tidak sebatas — seperti biasa disampaikan para ustadz — lengkapnya organ anggota badan kita. Lantas apa?

***

Kali ini, saya akan bicarakan tentang kecerdasan. Artikel ini kebetulan dimuat pada Majalah dzikir dan pikir al-Mu’tashim edisi Maret 2009 ini pada rubrik “auladi”.

Apakah anak kita cerdas? Ya? Tidak? Bingung? Kira-kira acuan apa yang kita gunakan untuk menjawabnya? Sebagian besar orangtua biasanya akan menggunakan nilai rapor sebagai acuan kecerdasan anak. Anak-anak yang memperoleh ranking, pandai berhitung dan kuat menghafal cenderung dikategorikan cerdas.

Lalu, bagaimana dengan anak-anak yang tidak mendapatkan ranking? Bagaimana dengan anak-anak perkampungan kumuh Brasil yang jago bermain sepak bola, tetapi mungkin tidak tahu perkalian? Bagaimana pula dengan para pelaut zaman dahulu yang mengarungi samudera hanya dengan mengandalkan konstelasi bintang-bintang di langit? Apakah mereka juga dapat dikategorikan cerdas?

Lelaki Yang Tak Kenal Lelah

In: Aceminda, Suri-Tauladan, Tokoh

Saya dan istri tak kuasa membendung tumpahan air mata sepanjang hari itu. Meski dalam diam, tetapi hati kami bicara. Betapa banyak kenangan bersama lelaki itu di rumah ini. Jika pagi, sehabis sholat shubuh di masjid kampung, kami sering berbincang di teras depan rumah dengan ditemani kopi ireng kesukaannya, serta pisang rebus. Sebuah perbincangan yang penuh nuansa ilmu. Tetapi, itu semua tak akan pernah dapat kami alami lagi. Karena Uncle M tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini.

Selamat jalan pejuang. Selamat jalan sahabatku, ayahku, guruku. Selamat jalan Uncle M. Semoga engkau mendapatkan sa’adah di akhirat seperti cita-citamu. Amin.

Miskomunikasi

In: Aceminda, Tuning

Miskomunikasi adalah penyakit, bahkan mungkin menimpa setiap orang. Bukankah sangat sering kita temui hal-hal yang kita sampaikan kepada seseorang ditindaklanjuti dengan aksi atau reaksi yang melenceng dari apa yang sempat kita bayangkan. Kita menginginkan seseorang melakukan tindakan A, tetapi ia malah mengerjakan tindakan B. Semakin panjang rantai berita atau pesan yang tersampaikan, maka distorsi isi berita atau pesan itu akan semakin lebar.

Bahtiar HS

Engineer, pembaca, penulis, pencinta ilmu. Suami dari seorang istri dan Ayah dari 6 orang malaikat kecil.


Jajak Pendapat

Sorry, there are no polls available at the moment.

Ikuti posting terbaru

Tulis email Anda:

delivered by FeedBurner

Hari ini

Kalender Posting

March 2010
M T W T F S S
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Bahtiar Bergerak


Internet Sehat

Blog Bahtiar

Flickr Bahtiar

39_sitou38_sicakep337_sicakep236_sicakep35_naskun34_beer33_anker32_kbgapi31_anker

Statistics

Sejak 17 Sep 2008

Chatting