Al-Mu'tashim Category

Posting ini sebenarnya meneruskan diskusi dengan teman-teman pada posting sebelumnya Pilih Mana: Menjadi Musafir atau Hamba Sahaya? Terutama ketika Mas Khalis Tontowi menyinggung tentang “tafsir” , bahwa manusia diciptakan dalam sebaik-baik bentuk. Tetapi, sebaik-baik bentuk itu tidak sebatas — seperti biasa disampaikan para ustadz — lengkapnya organ anggota badan kita. Lantas apa?

***

Kali ini, saya akan bicarakan tentang kecerdasan. Artikel ini kebetulan dimuat pada Majalah dzikir dan pikir al-Mu’tashim edisi Maret 2009 ini pada rubrik “auladi”.

Apakah anak kita cerdas? Ya? Tidak? Bingung? Kira-kira acuan apa yang kita gunakan untuk menjawabnya? Sebagian besar orangtua biasanya akan menggunakan nilai rapor sebagai acuan kecerdasan anak. Anak-anak yang memperoleh ranking, pandai berhitung dan kuat menghafal cenderung dikategorikan cerdas.

Lalu, bagaimana dengan anak-anak yang tidak mendapatkan ranking? Bagaimana dengan anak-anak perkampungan kumuh Brasil yang jago bermain sepak bola, tetapi mungkin tidak tahu perkalian? Bagaimana pula dengan para pelaut zaman dahulu yang mengarungi samudera hanya dengan mengandalkan konstelasi bintang-bintang di langit? Apakah mereka juga dapat dikategorikan cerdas?

‘Umur

In: Al-Mu'tashim, Uzlah

Waktu bergulir. Terus dan tak peduli. Dan inilah yang selalu dibincang orang menjelang pergantian tahun. Umur bertambah, atau sebaliknya, berkurang?

Senyum Yang Nyatanya Tak Sederhana

In: Al-Mu'tashim, Kultum

Senyum adalah “kekuatan terpendam” yang sangat hebat, tulisnya. Aktivitasnya merupakan sedekah berharga yang merawat tubuh agar tetap sehat. Dalam riwayat Tirmidzi, Rasulullah saw. bersabda, “Senyumanmu pada wajah saudaramu adalah (bernilai) sedekah.” Tidaklah heran jika ada sebuah kitab yang khusus membahas tentang senyum Rasulullah saw. Dalam berbagai peristiwa, sebuah senyuman yang dikelola dengan baik, bahkan akan mengalahkan ketajaman pedang sekalipun. Cerita Fadhalah di atas hanya sebagian kecil contoh.

Idul Fitri, Kembali Makan Pagi

In: Al-Mu'tashim, Kultum

Idul Fitri, tulis beliau, telah dimaknai secara salah kaprah oleh banyak orang. Jika merujuk makna asli dalam bahasa Arab, Fitri atau al-Fithri (huruf _tho’_ bukan _ta’_) bermakna makan dan minum. Di kalangan pondok pesantren, untuk menyebut makan pagi alias sarapan digunakan al-futhur atau cukup futhur. Sedangkan ‘id memang bermakna kembali. Sehingga ‘idul fithri seharusnya dimaknai ‘kembali makan dan minum’ sebagaimana sebelum puasa ramadhan.

Ia Yang Bisa Membaca Masa Depan

In: Al-Mu'tashim, Napak Tilas

Bagaimana halnya jika sebuah prediksi atau ramalan tercetus seketika, tanpa data historis sebelumnya, dan tak terbayangkan sebelumnya? Dalam episode Suraqah dan Nabi ini, dimana dari mulut Baginda keluar sebuah janji tentang diberikannya kemuliaan kepada pemuda Baduwi itu akan pakaian kebesaran dari Kisra, suatu saat, bagaimana memahaminya? Bukankah saat janji itu terucapkan Nabi dan kaum muslimin dalam keadaan tertindas, baru segelintir jumlahnya, dan bahkan tak punya apa-apa karena semua harta ditinggalkan di Makkah untuk berhijrah ke Yatsrib? Sementara Suraqah adalah pemuda kampung suku Baduwi, kurus kering hitam legam, belum memeluk cahaya Islam lagi, sedangkan Kisra adalah sebuah imperium nan kuat yang telah berdiri berabad-abad.

Tidakkah apa yang dijanjikan Nabi terlihat mustahil bakal terjadi?

Diasuh oleh Abina KH. Muhammad Ihya Ulumiddin, Tafsir Tematik senantiasa tidak pernah absen hadir pada setiap edisi majalah tersebut yang kini sudah mencapai edisi ke-138 lebih ini. Jika sekali saja tidak muncul, para pembaca akan langsung menanyakan kepada redaksi perihal ketidakhadirannya.

Kajiannya yang berdasar tema yang sedang terjadi di masyarakat (aktual) lebih mendekatkan kajian tersebut kepada para pembacanya. Apalagi ditunjang dengan bahasa yang sederhana — bahkan bahasa gaul, redaksional yang tidak berbelit, maka kajian tafsir tersebut lebih mudah diterima oleh pembaca. Nah, dari kumpulan Tafsir Tematik itulah lahir buku di tangan Anda ini.

Ia Yang Dipanggil Ke Langit

In: Al-Mu'tashim, Napak Tilas

Mengapa Rasulullah harus bertemu Musa as., yang meminta beliau hingga berulang kali menghadap kembali kepada Allah, untuk meminta keringanan terhadap perintah shalat. Dari 50 menjadi 40, 30, 20, 10, dan akhirnya tinggal 5. Mengapa tidak langsung 5 saja sehari semalam? Apa maksud perulangan ini? Apakah ini skenario Allah agar Muhammad, manusia yang paling dicintai-Nya itu, semata-mata bisa bertemu dengan-Nya berulang kali? Bukankah Ia Maha Tahu, sehingga sangat tahu bahwa 50 kali sehari semalam jelas-jelas tidak akan bisa dilakukan umat manusia? Tetapi mengapa Ia memerintahkan 50 kali sehari semalam? Ataukah ini berarti bahwa bilangan 5 pada akhirnya itu pada hakikatnya sama dengan 50?

Bahtiar HS

Engineer, pembaca, penulis, pencinta ilmu. Suami dari seorang istri dan Ayah dari 6 orang malaikat kecil.


Jajak Pendapat

Sorry, there are no polls available at the moment.

Ikuti posting terbaru

Tulis email Anda:

delivered by FeedBurner

Hari ini

Kalender Posting

March 2010
M T W T F S S
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Bahtiar Bergerak


Internet Sehat

Blog Bahtiar

Flickr Bahtiar

39_sitou38_sicakep337_sicakep236_sicakep35_naskun34_beer33_anker32_kbgapi31_anker

Statistics

Sejak 17 Sep 2008

Chatting