rumah berbagi para pencari hikmah
Ada yang layak saya syukuri membuka cakrawala 2010 ini.
Ternyata Lomba KISAH 2009 yang sempat saya ikuti beberapa bulan yang lalu sudah ada pengumuman pemenangnya. Dan inilah yang saya syukuri. Jika sebelumnya sudah masuk 20 finalis, maka kini saya tak termasuk salah seorang pemenang utamanya. Bahkan 10 besar pun tidak.
Sejak penampilannya di Pesta Blogger 2009 Oktober lalu, saya tak pernah mendengar berita lagi tentang Prita Mulyasari. Saya menduga kasusnya sudah selesai, begitu ia dibebaskan setelah mendekam 21 hari di tahanan. Karena toh kasus BLBI yang trilyunan rupiah pun, yang dulu sempat heboh, kini juga sudah tidak ada kabarnya lagi.
Tetapi rupanya saya salah sangka.
Baru membuka email di hari Senin ini, di sebuah ruangan salah satu departemen pemerintah di bilangan Sudirman, saya mendapatkan surprised: sebuah email dari Ibu Claudia Sitepu. Beliau adalah redaksi Kompasiana dari KCM (Kompas Cyber Media), penyelenggara iB Blogger Competition.
Sebagaimana telah saya singgung pada posting terdahulu, bahwa saya telah melaunching blog baru saya, i.finance, yang melulu berbicara tentang islamic finance (keuangan islam). Momen itu bertepatan dengan tenggat lomba iB Blogger Competition di Kompasiana untuk periode ke-2. Saya menulis sebuah posting perdana di blog tersebut yang kemudian saya ikutkan pula lomba itu. Pada pagi hari yang indah inilah, Ibu Claudia memberikan kabar menggembirakan buat saya via email terkait dengan lomba tersebut.
Apa isinya?
Sebuah lukisan kaligrafi menghiasi dinding ruang kelas Madrasah ‘Aliyah Negeri (MAN). Adakah yang aneh? Tak ada, bukan? Itulah yang saya perhatikan pagi hari kemarin di MAN Bangkalan yang terletak persis di depan Kantor Departemen Agama Bangkalan itu. Saya sedang mengantar istri, ibunya anak-anak, untuk sebuah urusan di sekolah ini. Dan di kelas XI IPS 2 itulah, di dekat gudang bertuliskan “Drum band”, saya temukan lukisan kaligrafi itu — saya kira hasil prakarya siswa kelas itu sendiri — dipasang menyolok di dinding paling belakang.
Hanya saja, ketika membaca penggalan ayat yang dikaligrafikan itu, saya jadi bertanya-tanya. Mengapa mereka memilih ayat itu?
Setidaknya ada 10 (sepuluh) hadits yang disampaikan Abina Ust. Ihya Ulumiddin pada taushiyah Ahad pagi kemarin (7/11). Kesepuluhnya menggunakan kata awalan laysa (ليس) yang berarti bukanlah. Laysa biasa digunakan untuk peniadaan. Saya memahaminya sebagai upaya untuk menjelaskan makna atau pengertian yang sebenarnya dibandingkan dengan pengertian yang dipahami orang pada umumnya.
Hadits-hadits dengan kata awalan laysa tersebut tidak lain merupakan salah satu metode Rasulullah saw. dalam tarbiyah untuk memberikan deskripsi nilai-nilai yang tinggi, yang esensial, di belakang atau di balik pemahaman-pemahaman — yang mungkin keliru atau kurang tepat — yang telah berkembang luas di masyarakat.
***
Hari ini saya mengaktifkan plugin baru di bahtiarhs.net ini untuk mencegah adanya spam yang masuk. Bagamanapun, setelah memasang plugin Akismet pun masih banyak spam via comment yang mengganggu dan menambah kerjaan saya untuk menghapusnya.
Mungkin Lukie Damayanti, sahabat saya sebangku kuliah di Informatika ITS yang kini nungguin sumur minyak Caltex di Duri, Riau, akan kaget membaca posting ini. Lebih tepatnya: surprised. “Masya Allah! Ini blog kamu yang ke berapa, Cak?” Saya rasa ia akan bertanya seperti ini, sebagaimana pertanyaan yang sama ia ajukan ketika saya mempublikasikan blog Rumah Konten pada akhir 2008 yang lalu.
Jakarta, 24 Oktober 2009. Pukul 08.50 WIB.
Saya telah salah kira terlambat datang di gedung SMESCO Building Gatot Soebroto ini. Ternyata tidak. Bahkan jikalau ada kontes 100 peserta pertama yang datang lebih dulu pada kopi darat akbar para blogger Indonesia, Pesta Blogger 2009 ini, maka saya yakin menjadi salah satunya. Inilah karya perdana saya di pintu masuk acara setelah registrasi dan mendapat goodies bag dari panitia.

Setelah serangkaian mozaik kemarin, akhirnya saya datang juga ke acara pengumuman PropertyKita.com Blogging Competition 2009 pada 23 Oktober malam itu. Setelah menyusuri Jalan Aditiawarwan dari ujung ke ujung dengan bantuan GPS, akhirnya Es Teler 77 itu pun dapat saya temukan. Saya harus berterima kasih kepada Ardi yang telah menemani saya keblasuk-blasuk menemukan venue di belantara Kebayoran Baru Jaksel itu, disamping kerelaannya mengambilkan gambar-gambar (saya) selama acara.
Pagi tadi saya mendapat telepon dari ibu Niken dari PropertyKita.com. Dia membawa kabar gembira buat saya, karena katanya saya termasuk 9 finalis PropertyKita.com Blogging Competition 2009 yang diadakan portal property itu sejak 1 Juli 2009 yang lalu. Saya saat itu menulis di blog ini tentang bagaimana proses saya hunting rumah tempat tinggal sekian tahun yang lalu.
Dia meminta saya datang ke acara malam pengumuman para pemenang kompetisi menulis di blog itu. Panitia akan memilih 5 pemenang dan 1 pemenang utama. Mereka akan menyisihkan 223 peserta yang berpartisipasi dalam perhelatan lomba ini.