Inspirasi Category

Sebab Kelak Segalanya Menjadi Penting

In: Inspirasi, Kultum

thefather(Catatan Ramadhan 1431H #9)

Panas terik. Badai pasir gurun sahara tanah Persia masih menyisakan kepulan debu yang membutakan mata.

Dua orang lelaki terseok, merangkak, beringsut setapak demi setapak. Jauh Barat. Jauh Timur. Yang terlihat hanyalah hamparan pasir kerontang hampir tanpa tepi. Kedua orang itu nyaris bagai dua titik hitam dalam lautan kelabu. Bibir keduanya seperti pohon meranggas, pecah-pecah, dan belepotan pasir. Tenggorokan kering dan tersekat. Tetes air terakhir dari bekal yang dibawa telah habis. Bahkan botolnya telah tertinggal berpuluh langkah di belakang.

Laki-laki yang lebih besar diantaranya kini jatuh di atas lutut, kemudian rebah tertelungkup. Kedua kakinya seperti terbenam ke dalam pasir hingga perut. Dadanya sesak. Nafasnya tersengal, satu demi satu. Ia tak berdaya lagi untuk melangkah.

Seorang Malaikat di Lantai 16

In: Inspirasi, Suri-Tauladan

(Catatan Ramadhan 1431H #8)

Ceramah shubuh pagi ini telah usai. Jamaah bergegas membubarkan diri. Saya pun turun dari lantai dua, mencari-cari sandal saya, mengenakannya, dan melangkah pergi.

Orang-orang semburat. Ada yang mengarah ke gang sempit samping masjid. Ada yang menyusuri jalan kampung lebih ke dalam lagi. Ada pula yang berjalan ke arah jalan raya Jendral S. Parman Cempaka Putih. Dan sudah berkali shubuh saya datang ke masjid ini, kiranya hanya saya sendiri sajalah yang datang dari lingkungan apartemen elit itu dan masuk ke masjid kampung ini.

Saya tersentak. Buru-buru membaca berkali istighfar. Betapa hanya dalam sekejap bersit kesombongan itu muncul seperti kilat di hati ini. Plass!! Sedetik saja. Tetapi syetan telah memanfaatkannya begitu rupa.

Saya pun menghentikan langkah. Sejenak tertegun. Menunduk dalam-dalam. Betapa rapuhnya diri ini! Betapa benteng yang telah saya bangun dalam 15 hari selama ramadhan ini runtuh hanya dalam sekali tepuk tangan syetan. Roboh dalam sekali tiupan syetan dalam dada ini.

Dengan gontai saya melanjutkan langkah. Menuju pintu gerbang samping apartemen yang dibuka sejak sahur. Dan … saya sekelebat melihat sosok seorang jamaah shubuh yang juga melewati pintu itu dalam jarak lima belas langkah di depan saya.

Pelajaran Sabar Nomer Empat

In: Inspirasi, Suri-Tauladan

(Catatan Ramadhan 1431H #7)

Setelah makan sahur penuh kolesterol — setidaknya demikianlah komentar istri tercinta saat membangunkan saya via telepon begitu mengetahui saya menyebut “bebek goreng” yang saya siapkan sejak semalam sebagai menu sahur — saya keluar dari sangkar raksasa bernama apartemen ini untuk menuju masjid kampung yang terletak persis di sampingnya. Shalat shubuh berjamaah seperti mendapatkan dorongan energi ekstra yang luar biasa pada bulan ramadhan begini meski harus menembus jalan yang cukup jauh dan gelap. Tetapi itu semua tak sebanding seinchi pun dengan Abdullah bin Umi Maktum, yang sekalipun buta, jauh rumahnya, serta tak memiliki penuntun rela tertatih-tatih menuju masjid begitu mendengar adzan.

Setelah shalat, sekitar jam 5 pagi, tampil seorang mubaligh mengisi kuliah shubuh. Tetapi tidak seperti penceramah hari-hari kemarin, mubaligh kali ini tampak terlalu banyak mengulang kata-kata, banyak menceritakan pengalaman dirinya sendiri, dan tutur kata serta cara penyampaian yang kurang menarik. Setidaknya begitulah penilaian saya.

Saya coba bertahan barang sebentar, siapa tahu hanya pembukaannya saja yang kurang menarik. Tetapi lima menit, sepuluh menit berlalu, namun belum ada pembicaraannya yang bisa menarik minat saya. Ibaratnya cerpen begitu, pembukaan ceramah beliau tidak “eye catching”. Padahal, menurut saya, ceramah — sebagaimana cerpen — itu seperti pacuan kuda. Start dan endingnya adalah bagian yang paling menentukan.

Mereka Berbuka Puasa di Gereja

In: Inspirasi

(Catatan Ramadhan 1431H #6)

Ratusan warga mengantri berdesakan di balik pintu gerbang itu. Tua-muda, laki-perempuan. Bahkan mbah-mbah. Juga anak-anak.

Lalu, ketika waktunya tiba, pintu gerbang itu pun dibuka. Mereka pun berhamburan, berdesakan, berhimbitan, dan berlarian ke arah pembagian ta’jil buka puasa itu berlangsung. Tak sedikit anak-anak kecil terjepit di antara jeruji pintu gerbang, meringis, menahan gencetan tubuh-tubuh lain yang lebih besar dari mereka. Meski kemudian tawa riang tersungging di bibir setelah melewati pintu gerbang itu menuju antrian panjang.

Ya. Mereka mendapatkan ta’jil buka puasa dari gereja Santo Paulus di sebuah tempat di Nganjuk. Menu buka puasa gratis: nasi bungkus.

Saya tak bisa melupakan wajah-wajah itu, meski dari layar kaca. Antrian berdesakan itu. Senyum-senyum itu setelah menerima pembagian nasi bungkus. Ya, benar. Toleransi beragama. Saya tahu. Berbagi. Saling menghormati. Saling membantu sesama. Atas nama kemanusiaan. It’s OK. Tak ada yang salah.

Hanya saya merenung.

Hadiah Terindah Untuk Ibu Ima

In: Aceminda, Inspirasi, Keluarga Asmara

(Catatan Ramadhan 1431H #4)

Siapakah orang yang paling romantis di dunia?

Buat saya, orang yang paling romantis dan benar-benar saya kenal dalam arti pernah berjumpa dengannya adalah laki-laki itu. Umurnya tak lagi muda. Tak kurang dari 64-65 tahun. Rambutnya sudah memutih. Bersebelas cucu. Tetapi begitu pertama kali tahu bagaimana ia menyambut istrinya di telepon, saya seketika menobatkannya sebagai laki-laki paling romantis di dunia yang pernah saya kenal.

Ya. Laki-laki itu adalah Uncle M. Uncle Manshor H. Sukaemi.

“Halo, sayang! Bagaimana kabarmu siang ini?” begitulah mula pertama saya mendengarnya menerima telepon dari Ibu Ima, istri tercintanya, nun jauh di Singapura sana. “Kamu sedang ada dimana saat ini, sayang?”

Gundul, Bekam, dan Ramadhan

In: Breaking News, Inspirasi

Menyambut datangnya ramadhan dengan hal-hal yang terlalu biasa rasanya sudah saya lakukan hampir sepanjang hidup ini. Karena itu, pada ramadhan 1431 H kali ini, saya melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda dari biasanya. Mungkin buat sebagian Anda hal ini begitu lumrah dan tidak tampak luar biasa. Tak apalah. Tapi buat saya sungguh luar biasa.

Saya gundul 1/2 cm! Ini terhitung gundul saya yang kedua (setidaknya sepengetahuan saya). Kalau gundul yang pertama karena terpaksa dalam rangkaian Bakti Kampus (OPSPEK) pada 1990 bertahun lalu, maka kali ini dengan sepenuh kesadaran. Bahkan tidak hanya itu, saya juga membotaki puncak kepala saya berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 3cm.

BISA! Kenapa Tak Bisa?

In: Aceminda, Inspirasi, Suri-Tauladan, Tokoh

Uncle MTulisan ini dan beberapa tulisan lain sebenarnya saya persiapkan untuk Kompasiana Blogging Day kemarin (29 Juli 2010). Tapi karena server kompasiana ngadat, saya tak bisa mempostingnya pada rentang waktu lomba yang ditetapkan (14.00 - 15.40). Kelihatannya, ratusan peserta yang lain mengalami hal yang sama. Bahkan Admin Kompasiana sampai minta maaf segala.

Tak apalah. Kalaupun tak sempat diikutkan lomba, tulisan ini masih bisa saya posting di blog sederhana ini. Untuk siapa lagi kalau bukan untuk Anda? Semoga bermanfaat. Kayaknya bakal berseri tulisan tentang tokoh ini. Semoga banyak yang bisa saya ingat dan ceritakan kembali.

***

Encouragement

In: Aceminda, Inspirasi, Keluarga Asmara

Ada kiriman artikel menarik dari seorang teman, ditulis oleh Pak Rhenald Kasali. Mungkin kita sudah pernah tahu secara esensi, tetapi sebagai manusia biasa, kita sering lupa dan khilaf. Maka tak lain tulisan ini semoga mengingatkan kembali kepada kita, bahwa sebagai orang tua kita harus bertindak sebagaimana layaknya “orang tua”. Tua dalam pandangan jawa (tuwo), berarti kenyang terhadap pengalaman hidup. Dimensinya bahkan dunia-akhirat. “Ngelmu tuwo” bukanlah ilmu yang sudah ratusan tahun umurnya, melainkan ilmu yang mendalam secara makna, melintas zaman dan dimensi secara waktu, dan matang secara materi.

Semoga bermanfaat, di tengah saya belum punya ide dan waktu untuk memperbaharui blog ini. (Dasar!)

***

Encouragement
Thursday, 15 July 2010

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.

pohon delimaJudul: Bayang-bayang Pohon Delima / Shadow of The Pomegranate Tree
Penulis: Tariq Ali
Penerbit: Serambi, Jakarta
Terbit: Juli 2006
Tebal: +478 halaman, 13×20 cm
Kategori: Fiksi berbasis sejarah

Sejarah telah mencatat begitu banyak dinasti berdiri, lalu tumbang suatu saat; banyak kerajaan dibangun, kemudian roboh pada akhirnya. Juga kesultanan-kesultanan berjaya, baik di Timur maupun di Barat, untuk kemudian terpuruk jatuh ditelan masa. Satu demi satu. Datang dan pergi. Semua menetapi sunatullah, bahwa demikianlah hari-hari kejayaan dan kehancuran itu dipergilirkan diantara manusia agar menjadi pelajaran (QS. Ali Imran: 140).

Tetapi tidak ada yang lebih menyakitkan berbicara tentang jatuhnya sebuah kekuasaan yang pernah ada di muka bumi ini dibandingkan jatuhnya kesultanan Granada.

Laki-laki Di Antara Pelangi

In: Aceminda, Inspirasi, Keluarga Asmara

mbak ais“Ayah.”

“Hmmm?” Saya menoleh pada gadis manis di jok samping saya itu. Gurat kecantikan ibunya ada pada wajahnya. Sementara mobil saya berhentikan ketika lampu lalu lintas perempatan Nginden baru saja menyala merah. “Apa Mbak Ais?”

“Gimana sih supaya kita bisa mimpi bertemu Rasulullah itu?” tanyanya serius, seserius pertanyaan gadis kecil itu.

“Mimpi bertemu Rasulullah?” Alis saya terangkat. Saya terperanjat. Gadis kecil saya menatap mata saya menunggu jawaban dengan penuh harap. O, Mbak Ais, kenapa kamu tanyakan sebuah pertanyaan yang sulit Ayah jawab ini, sayang?

Bahtiar HS

Engineer, pembaca, penulis, pencinta ilmu. Suami dari seorang istri dan Ayah dari 6 orang malaikat kecil.


Jajak Pendapat

Sorry, there are no polls available at the moment.

Ikuti posting terbaru

Tulis email Anda:

delivered by FeedBurner

Hari ini

Kalender Posting

September 2010
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Bahtiar Bergerak


Internet Sehat

Blog Bahtiar

Flickr Bahtiar

39_sitou38_sicakep337_sicakep236_sicakep35_naskun34_beer33_anker32_kbgapi31_anker

Statistics

Sejak 17 Sep 2008

Chatting