Inspirasi Category

City of VictoriaCity of Victoria, 15 Oktober 1906.

Sun Wen — demikian ia disebut — akan datang dengan sebuah kapal dari balik lautan, merapat ke dermaga kota itu, dibawa ke sebuah tempat yang telah disiapkan, dan bertemu dengan 13 perwakilan kelompok pendukung perubahan. Diperlukan waktu hanya satu jam saja untuk pertemuan itu. Enam puluh menit. Tidak lebih. Tetapi, dalam kesempatan sesingkat itu masa depan sebuah bangsa akan dipertaruhkan.

Pahlawan Sejati di Ujung Dunia

In: Inspirasi, Suri-Tauladan

Sebuah kunjungan akan sangat menarik buat mereka yang hobi berpetualang. Bahkan sebagiannya menjadi tantangan, apalagi jika kunjungan itu ke tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya. Debarnya seperti mendatangi copy darat dengan ‘teman dekat’ yang hanya kau kenal lewat facebook. Kau hanya tahu sekilas paras wajahnya dari gambar yang ia tempelkan di profilnya; gambar yang berusaha kau yakini sebagai dan sebaik aslinya.

Tetapi kunjungan saya kali ini jauh dari menarik, apalagi penuh tantangan. Bukan kunjungan ke Fes di Maroko atau Bukhara di Asia Tengah; dua tempat dari ribuan tempat yang saya mimpikan untuk saya kunjungi suatu saat. Bukan pula sebuah kunjungan wisata, meski kedua tempat itu dekat dengan pantai. Ya. Saya berkunjung ke Sinaboi di ujung Rokan Hilir, di atas Bagan Siapi-api dan Muntai di ujung Pulau Bengkalis yang sepi. Dua tempat yang telah pernah saya kunjungi 3-4 tahun yang lalu. Dan keduanya pun untuk sebuah kunjungan … inspeksi pekerjaan.

Evolusi Pesawat Terbang Azril

In: Aceminda, Inspirasi

AzrilInilah irama musik yang selalu saya rindukan setiap kali membuka pagar pintu rumah saat pulang.

“Ayah datang! Ayah datang!” Bocah-bocah mungil itu lalu menghambur memeluk saya dengan tas ransel masih di pundak, menjabat dan mencium tangan saya. Mereka sepertinya sudah menunggu ayah mereka pulang di depan pintu itu begitu selesai mandi sore. Senyum keceriaan di wajah mereka seketika membuat penat saya pergi entah kemana.

Detik demi detik berlalu. Waktu seperti beringsut sedemikian pelahan. Bisa mematikan itu pun mengalir memasuki setiap lekuk tubuhnya yang bisa dijangkau. Sakit menggigit. Perih merambat hingga ke ulu hati. Kakinya pun kebas dan ngilu seperti kehabisan darah. Namun, lelaki itu tak bergerak sedikitpun demi melihat Rasulullah saw. tidur dengan nyenyak di pangkuannya. Tiba-tiba tanpa terasa air matanya mengembang karena tak kuat menahan sakit, luruh satu demi satu melewati pipinya, lalu menetes dan memercik pada raut muka Baginda Nabi di pangkuannya.

Lelaki kinasih itupun terkejut. Ia pun terbangun. Rintih lembut dan isak tertahan itu kini terdengar di telinganya. “Mengapa engkau menangis, wahai Abu Bakar?” tanyanya penuh keheranan.

Abu Bakar menjawab dengan suara tertahan, “Aku… aku digigit ular, ya Rasulullah!”

“Oh, mengapa engkau tidak mengatakannya padaku?” tanya Rasulullah sungguh.

Lelaki itu sejenak terdiam. Ia lantas menjawab, “Aku takut membangunkan engkau.”

Baru membuka email di hari Senin ini, di sebuah ruangan salah satu departemen pemerintah di bilangan Sudirman, saya mendapatkan surprised: sebuah email dari Ibu Claudia Sitepu. Beliau adalah redaksi Kompasiana dari KCM (Kompas Cyber Media), penyelenggara iB Blogger Competition.

Sebagaimana telah saya singgung pada posting terdahulu, bahwa saya telah melaunching blog baru saya, i.finance, yang melulu berbicara tentang islamic finance (keuangan islam). Momen itu bertepatan dengan tenggat lomba iB Blogger Competition di Kompasiana untuk periode ke-2. Saya menulis sebuah posting perdana di blog tersebut yang kemudian saya ikutkan pula lomba itu. Pada pagi hari yang indah inilah, Ibu Claudia memberikan kabar menggembirakan buat saya via email terkait dengan lomba tersebut.

Apa isinya?

Doa Yang Tak Masuk Akal

In: Inspirasi, Kultum

Jika Anda berada di sebuah padang gersang, kering kerontang, tidak nampak tumbuh tanaman apapun, sepi tak ada orang sama sekali, gung liwang liwung-doh lor doh kidul kata orang Jawa (sudah sepi, jauh dari mana-mana lagi), panas membara ketika siang hari, gelap dan dingin menggigit di malam hari, maka apa yang akan Anda lakukan? Jika Anda membawa isteri dan bayi Anda yang masih merah di atas punggung unta, lalu disuruh meninggalkan mereka di tempat yang seperti itu, sendirian, kira-kira apa yang akan Anda lakukan? Sikap apa yang bakal Anda ambil?

Mungkin sebagian besar kita tak akan rela meninggalkan anak dan isteri kita, orang-orang yang kita sayangi, di tempat yang nyaris “tak ada harapan hidup” seperti itu. Meninggalkan mereka di padang gersang nan tandus itu hanya akan mempercepat mengirim mereka ke alam baka.

Tetapi tidak demikian halnya dengan Nabi Ibrahim as.

Bagi teman-teman atau para pengunjung blog sederhana ini yang memerlukan naskah untuk mengisi Khutbah Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah 1430 H ini (insyaAllah Jum’at, 27 November 2009) bisa memanfaatkan naskah khutbah yang saya siapkan ini — tentu saja jika topik yang dibahas sesuai dan berkenan di hati Anda.

Tinggal dicetak dan dibaca saat khutbah. Naskah bisa diunduh secara gratis di sini. Terima kasih untuk GoogleDocs untuk fasilitas yang disediakan.

Semoga bermanfaat untuk Anda semua yang memerlukan. Amin.

Bahtiar HS

Sebuah lukisan kaligrafi menghiasi dinding ruang kelas Madrasah ‘Aliyah Negeri (MAN). Adakah yang aneh? Tak ada, bukan? Itulah yang saya perhatikan pagi hari kemarin di MAN Bangkalan yang terletak persis di depan Kantor Departemen Agama Bangkalan itu. Saya sedang mengantar istri, ibunya anak-anak, untuk sebuah urusan di sekolah ini. Dan di kelas XI IPS 2 itulah, di dekat gudang bertuliskan “Drum band”, saya temukan lukisan kaligrafi itu — saya kira hasil prakarya siswa kelas itu sendiri — dipasang menyolok di dinding paling belakang.

Hanya saja, ketika membaca penggalan ayat yang dikaligrafikan itu, saya jadi bertanya-tanya. Mengapa mereka memilih ayat itu?

Minah dan Tiga Biji Kakao Basah

In: Inspirasi, Sosiopolitik

Minah di persidanganHari ini, saya terpaksa menunda keberangkatan ke kantor barang sebentar karena Minah. Ia seorang nenek beranak tujuh dengan belasan cucu. Dari raut mukanya ia tampak lebih tua dari usianya yang 55 tahun. Dan darah jurnalistik saya memaksa saya duduk dulu merangkai kata untuknya (halah!)

Tanggal 2 Agustus yang lalu, warga Dusun Sidoharjo Desa Darmakradenan Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas itu memanen kedelai di lahan garapannya. Lahan yang dia garap kebetulan sedang dikelola oleh PT Rumpun Sari Antan (RSA) untuk tanaman kakao. Selanjutnya, inilah cerita Republika yang saya baca pagi ini sembari menikmati kopi radix buatan istri.

Hari-hari ini, saya sedang dikejar target membuat proposal tentang Sistem Penunjang Keputusan (decision support system) untuk perencanaan dan kebutuhan personil pada sebuah institusi. Buku Tugas Akhir (TA) saya, yang dikirim Ayah dari Ponorogo telah tiba. Soalnya copy buku itu di kantor atau rumah saya, hard maupun soft-nya, raib entah kemana. Untung masih ada satu hardcopy lagi di rumah orang tua saya — mereka pajang di lemari tamu!

Buku itulah yang kini saya buka kembali, mengingat TA saya dulu berkaitan dengan DSS untuk perencanaan dan pengendalian kebutuhan sumber daya awak kabin pesawat. Ya, mirip-miriplah dengan proposal itu. Apalagi dulu TA saya dapat ‘A’. Bukan apa, karena para dosen penguji tidak banyak yang paham tentang dunia airline. Jadi kelihatannya saja hebat. Padahal program saya masih ada sedikit “bug”. Alhamdulillah, Allah tidak berkenan memperlihatkan bug itu ketika demo di hadapan mereka.

Bahtiar HS

Engineer, pembaca, penulis, pencinta ilmu. Suami dari seorang istri dan Ayah dari 6 orang malaikat kecil.


Jajak Pendapat

Sorry, there are no polls available at the moment.

Ikuti posting terbaru

Tulis email Anda:

delivered by FeedBurner

Hari ini

Kalender Posting

March 2010
M T W T F S S
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Bahtiar Bergerak


Internet Sehat

Blog Bahtiar

Flickr Bahtiar

39_sitou38_sicakep337_sicakep236_sicakep35_naskun34_beer33_anker32_kbgapi31_anker

Statistics

Sejak 17 Sep 2008

Chatting