Keluarga Asmara Category

Hadiah Terindah Untuk Ibu Ima

In: Aceminda, Inspirasi, Keluarga Asmara

(Catatan Ramadhan 1431H #4)

Siapakah orang yang paling romantis di dunia?

Buat saya, orang yang paling romantis dan benar-benar saya kenal dalam arti pernah berjumpa dengannya adalah laki-laki itu. Umurnya tak lagi muda. Tak kurang dari 64-65 tahun. Rambutnya sudah memutih. Bersebelas cucu. Tetapi begitu pertama kali tahu bagaimana ia menyambut istrinya di telepon, saya seketika menobatkannya sebagai laki-laki paling romantis di dunia yang pernah saya kenal.

Ya. Laki-laki itu adalah Uncle M. Uncle Manshor H. Sukaemi.

“Halo, sayang! Bagaimana kabarmu siang ini?” begitulah mula pertama saya mendengarnya menerima telepon dari Ibu Ima, istri tercintanya, nun jauh di Singapura sana. “Kamu sedang ada dimana saat ini, sayang?”

KCB Spesial Ramadan di RCTI

In: Breaking News, Keluarga Asmara

Dapat info dari Mas Sakti Wibowo melalui FB-nya, bahwa Ketika Cinta Bertasbih (KCB) akan hadir versi sinetronnya di RCTI untuk menyambut Ramadan 1431 H kali ini. Tayangan perdana 26 Juli mendatang, setiap hari mulai jam 18.00 - 19.00 WIB.

Yang menarik adalah salah seorang penulis skenarionya — disamping Kang Abik, sang penulis KCB — juga Mas Sakti Wibowo!

Encouragement

In: Aceminda, Inspirasi, Keluarga Asmara

Ada kiriman artikel menarik dari seorang teman, ditulis oleh Pak Rhenald Kasali. Mungkin kita sudah pernah tahu secara esensi, tetapi sebagai manusia biasa, kita sering lupa dan khilaf. Maka tak lain tulisan ini semoga mengingatkan kembali kepada kita, bahwa sebagai orang tua kita harus bertindak sebagaimana layaknya “orang tua”. Tua dalam pandangan jawa (tuwo), berarti kenyang terhadap pengalaman hidup. Dimensinya bahkan dunia-akhirat. “Ngelmu tuwo” bukanlah ilmu yang sudah ratusan tahun umurnya, melainkan ilmu yang mendalam secara makna, melintas zaman dan dimensi secara waktu, dan matang secara materi.

Semoga bermanfaat, di tengah saya belum punya ide dan waktu untuk memperbaharui blog ini. (Dasar!)

***

Encouragement
Thursday, 15 July 2010

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.

Laki-laki Di Antara Pelangi

In: Aceminda, Inspirasi, Keluarga Asmara

mbak ais“Ayah.”

“Hmmm?” Saya menoleh pada gadis manis di jok samping saya itu. Gurat kecantikan ibunya ada pada wajahnya. Sementara mobil saya berhentikan ketika lampu lalu lintas perempatan Nginden baru saja menyala merah. “Apa Mbak Ais?”

“Gimana sih supaya kita bisa mimpi bertemu Rasulullah itu?” tanyanya serius, seserius pertanyaan gadis kecil itu.

“Mimpi bertemu Rasulullah?” Alis saya terangkat. Saya terperanjat. Gadis kecil saya menatap mata saya menunggu jawaban dengan penuh harap. O, Mbak Ais, kenapa kamu tanyakan sebuah pertanyaan yang sulit Ayah jawab ini, sayang?

Bahkan Yang Dekatpun Luput

In: Keluarga Asmara, Kultum, Suri-Tauladan

Shubuh baru saja usai. Kokok ayam sudah nyaris tak terdengar karena malu pada matahari yang sinarnya telah menghangatkan bumi. Suasana sekitar pondok Gontor Putri, Mantingan, Ngawi, mulai ramai dengan aktivitas para santri dan wali santri yang datang berkunjung menjenguk putra-putri mereka karena sedang libur panjang Waisak.

Seorang ibu setengah baya pagi itu pun mulai bergerak. Keranjang besar ia letakkan di pinggangnya. Ia telusuri setiap sudut, dari satu tempat sampah ke tempat sampah yang lain. Tangannya cekatan mengorek dan memilah barang yang teronggok di setiap tempat dan mengambil yang masih bisa dimanfaatkan. Botol plastik minuman kemasan, misalnya.

Pak KH berdiri mematung di tempatnya seperti mengalami de javu. Ya. Ibu itu kerap dijumpainya setiap kali mengunjungi putrinya di pondok modern ini. Ibu yang sama, dengan keranjang di pinggang yang sama, aktivitas yang sama, di waktu pagi yang sama. Tetapi entah mengapa, hari itu, wali santri itu tergerak melakukan hal yang berbeda.

Maukah Anda Mewarisi 70 Isteri?

In: Keluarga Asmara, Kultum

Ini perbincangan dengan seorang teman, dalam sebuah taksi yang tengah melaju malam kemarin dari Soekarno-Hatta menuju kawasan Cempaka Emas. Kami berbincang tentang warisan. Ya, lebih tepatnya “al-waaritsun” (orang-orang yang akan mewarisi), yakni mewarisi syurga Firdaus, sebagaimana disinyalir Allah swt. dalam firman-Nya:

أُوْلَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ ـ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun: 10-11)

Sebuah lukisan kaligrafi menghiasi dinding ruang kelas Madrasah ‘Aliyah Negeri (MAN). Adakah yang aneh? Tak ada, bukan? Itulah yang saya perhatikan pagi hari kemarin di MAN Bangkalan yang terletak persis di depan Kantor Departemen Agama Bangkalan itu. Saya sedang mengantar istri, ibunya anak-anak, untuk sebuah urusan di sekolah ini. Dan di kelas XI IPS 2 itulah, di dekat gudang bertuliskan “Drum band”, saya temukan lukisan kaligrafi itu — saya kira hasil prakarya siswa kelas itu sendiri — dipasang menyolok di dinding paling belakang.

Hanya saja, ketika membaca penggalan ayat yang dikaligrafikan itu, saya jadi bertanya-tanya. Mengapa mereka memilih ayat itu?

Tak and the Power of JujuInilah konsekuensi yang harus kami tanggung ketika memutuskan di rumah tidak perlu memutar siaran TV. Ketika lebaran kemarin di rumah mertua di Bangkalan, hampir seharian Ais dan kedua adiknya (yang pada masa kecil mereka sempat melihat TV sebelum kemudian kami buang antenanya, lalu kini saya singkirkan sama sekali dari rumah) duduk mematung di depan TV kakeknya. Tentu saja kakeknya dengan senang hati merelakan TV, tempat, dan waktunya untuk cucu-cucunya. Sementara saya dan ibunya anak-anak terbaring sakit, maka lengkaplah ‘kebahagiaan’ Ais dan adik-adiknya menghabiskan waktunya seharian di depan kotak opera sabun itu.

Ada yang kemudian menarik perhatian saya ketika mereka sedang menyaksikan film kartun. Sebenarnya film kartun anak-anak kita saat ini isinya apa sih? Pada saat itu, di saluran GlobalTV sedang diputar serial Tak and The Power of Juju. Sebuah kartun yang diangkat dari video game untuk Play Station. Cerita ini lalu diadaptasi ke dalam film animasi televisi oleh Nickelodeon dan Nicktoons Network pada 2007.

Ia yang Tak Pernah Bosan Menelepon

In: Inspirasi, Keluarga Asmara

[Catatan Ramadhan 1430H #10]

Rabu, 2 September 2009. Sebentar lagi jam pulang kantor tiba.

“Ada gempa di Jakarta!” tulis Ibu Ita Guntari, financial planner dan konsultan dari Padma Finance, melalui chatting mendadak di facebook saya. “Posisi di mana, Pak?”

“Di kantor Surabaya, Bu,” jawab saya via komunikasi maya itu. “Kapan gempanya, Bu?”

“Baru saja. Ini Jalan Sudirman kalang-kabut. Orang-orang pada turun dari gedung-gedung dan berlarian di jalan.”

Saya lalu membuka detik.com. Ya, memang telah terjadi gempa dengan pusatnya di dekat Tasikmalaya berkekuatan 7,3 skala Richter! Itu melebihi gempa yang akhirnya menimbulkan tsunami di Aceh dulu!

“Pusat gempa di Tasikmalaya, Bu,” tulis saya.

“Ya. Tapi Jakarta terasa sekali goncangannya, Pak! 7,3 Richter katanya!”

“Tapi gempa sedemikian besar kok Ibu masih sempat-sempatnya chatting?”

Percakapan Dua Ahli Syurga

In: Inspirasi, Keluarga Asmara

[Catatan Ramadhan 1430H #9]

Jum’at, ramadhan hari ke-13.

Adzan Isya’ sudah menggema bersahutan dari beberapa masjid. Fia dan Maura masih tampak asyik dengan mainannya. Sementara Ais sudah siap dengan mukenanya.

“Mbak Ais ikut Ayah tarawih ke masjid?” tanya saya pada anak pertama saya itu.

“Ya, dong!” sahut Ais antusias. Ia lalu menenteng mukena bawahnya di tangan. Sementara mukena atas sudah dikenakannya dengan manis.

“Mbak Fia sama mbak Maura ikut shalat tarawih ke masjid yuk!” ajak saya pada kedua adik Ais itu. “Ayah jadi imam lho!”

“Aku shalat di rumah saja!” cetus Fia lantang.

“Aku juga!” sahut Maura sambil mengacungkan tangan.

“Kenapa kok shalat di rumah? Kan lebih baik di masjid?” tanya saya ingin tahu.

“Aku capek!” jawab Fia. Adiknya membebek dengan jawaban yang sama.

Bahtiar HS

Engineer, pembaca, penulis, pencinta ilmu. Suami dari seorang istri dan Ayah dari 6 orang malaikat kecil.


Jajak Pendapat

Sorry, there are no polls available at the moment.

Ikuti posting terbaru

Tulis email Anda:

delivered by FeedBurner

Hari ini

Kalender Posting

September 2010
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Bahtiar Bergerak


Internet Sehat

Blog Bahtiar

Flickr Bahtiar

39_sitou38_sicakep337_sicakep236_sicakep35_naskun34_beer33_anker32_kbgapi31_anker

Statistics

Sejak 17 Sep 2008

Chatting