Keluarga Asmara Category

Maukah Anda Mewarisi 70 Isteri?

In: Keluarga Asmara, Kultum

Ini perbincangan dengan seorang teman, dalam sebuah taksi yang tengah melaju malam kemarin dari Soekarno-Hatta menuju kawasan Cempaka Emas. Kami berbincang tentang warisan. Ya, lebih tepatnya “al-waaritsun” (orang-orang yang akan mewarisi), yakni mewarisi syurga Firdaus, sebagaimana disinyalir Allah swt. dalam firman-Nya:

أُوْلَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ ـ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun: 10-11)

Sebuah lukisan kaligrafi menghiasi dinding ruang kelas Madrasah ‘Aliyah Negeri (MAN). Adakah yang aneh? Tak ada, bukan? Itulah yang saya perhatikan pagi hari kemarin di MAN Bangkalan yang terletak persis di depan Kantor Departemen Agama Bangkalan itu. Saya sedang mengantar istri, ibunya anak-anak, untuk sebuah urusan di sekolah ini. Dan di kelas XI IPS 2 itulah, di dekat gudang bertuliskan “Drum band”, saya temukan lukisan kaligrafi itu — saya kira hasil prakarya siswa kelas itu sendiri — dipasang menyolok di dinding paling belakang.

Hanya saja, ketika membaca penggalan ayat yang dikaligrafikan itu, saya jadi bertanya-tanya. Mengapa mereka memilih ayat itu?

Tak and the Power of JujuInilah konsekuensi yang harus kami tanggung ketika memutuskan di rumah tidak perlu memutar siaran TV. Ketika lebaran kemarin di rumah mertua di Bangkalan, hampir seharian Ais dan kedua adiknya (yang pada masa kecil mereka sempat melihat TV sebelum kemudian kami buang antenanya, lalu kini saya singkirkan sama sekali dari rumah) duduk mematung di depan TV kakeknya. Tentu saja kakeknya dengan senang hati merelakan TV, tempat, dan waktunya untuk cucu-cucunya. Sementara saya dan ibunya anak-anak terbaring sakit, maka lengkaplah ‘kebahagiaan’ Ais dan adik-adiknya menghabiskan waktunya seharian di depan kotak opera sabun itu.

Ada yang kemudian menarik perhatian saya ketika mereka sedang menyaksikan film kartun. Sebenarnya film kartun anak-anak kita saat ini isinya apa sih? Pada saat itu, di saluran GlobalTV sedang diputar serial Tak and The Power of Juju. Sebuah kartun yang diangkat dari video game untuk Play Station. Cerita ini lalu diadaptasi ke dalam film animasi televisi oleh Nickelodeon dan Nicktoons Network pada 2007.

Ia yang Tak Pernah Bosan Menelepon

In: Inspirasi, Keluarga Asmara

[Catatan Ramadhan 1430H #10]

Rabu, 2 September 2009. Sebentar lagi jam pulang kantor tiba.

“Ada gempa di Jakarta!” tulis Ibu Ita Guntari, financial planner dan konsultan dari Padma Finance, melalui chatting mendadak di facebook saya. “Posisi di mana, Pak?”

“Di kantor Surabaya, Bu,” jawab saya via komunikasi maya itu. “Kapan gempanya, Bu?”

“Baru saja. Ini Jalan Sudirman kalang-kabut. Orang-orang pada turun dari gedung-gedung dan berlarian di jalan.”

Saya lalu membuka detik.com. Ya, memang telah terjadi gempa dengan pusatnya di dekat Tasikmalaya berkekuatan 7,3 skala Richter! Itu melebihi gempa yang akhirnya menimbulkan tsunami di Aceh dulu!

“Pusat gempa di Tasikmalaya, Bu,” tulis saya.

“Ya. Tapi Jakarta terasa sekali goncangannya, Pak! 7,3 Richter katanya!”

“Tapi gempa sedemikian besar kok Ibu masih sempat-sempatnya chatting?”

Percakapan Dua Ahli Syurga

In: Inspirasi, Keluarga Asmara

[Catatan Ramadhan 1430H #9]

Jum’at, ramadhan hari ke-13.

Adzan Isya’ sudah menggema bersahutan dari beberapa masjid. Fia dan Maura masih tampak asyik dengan mainannya. Sementara Ais sudah siap dengan mukenanya.

“Mbak Ais ikut Ayah tarawih ke masjid?” tanya saya pada anak pertama saya itu.

“Ya, dong!” sahut Ais antusias. Ia lalu menenteng mukena bawahnya di tangan. Sementara mukena atas sudah dikenakannya dengan manis.

“Mbak Fia sama mbak Maura ikut shalat tarawih ke masjid yuk!” ajak saya pada kedua adik Ais itu. “Ayah jadi imam lho!”

“Aku shalat di rumah saja!” cetus Fia lantang.

“Aku juga!” sahut Maura sambil mengacungkan tangan.

“Kenapa kok shalat di rumah? Kan lebih baik di masjid?” tanya saya ingin tahu.

“Aku capek!” jawab Fia. Adiknya membebek dengan jawaban yang sama.

Tarawih ramadhan hari ketiga sudah usai. Segera saya pulang, membungkusmu, dan menautkanmu pada sepeda motor Luluk, adikku. Modelnya yang matic dengan space yang cukup di bawah kaki seperti model skuter, membuat saya mudah menempatkannya selama dalam perjalanan malam ini.

“Ini pilihan yang paling realistik,” kata saya pada wanita itu. Gurat kelelahan masih terlihat pada mukanya, meski kini telah berbaur dengan kebahagiaan yang tiada tara. “Habis, rumah kita sudah full bangunan. Tak ada tanah lagi bisa digali untuk menguburkannya.”

“Ya, Mas. Kalau minta tolong Ayah di Bangkalan juga tak ada orang,” kata wanita itu menimpali.

“Jangan bilang ibu Ponorogo, ya?” pinta saya sungguh. “Kalau bilang, nanti takutnya malah tidak boleh. Kita juga yang repot.”

Ia tersenyum. Saya orang Jawa. Tetapi kadang repot bin ribet kalau harus berhadapan dengan adat Jawa. Sekali-kali ‘melanggar adat’ kan nggak apa-apa?

Saya masih ingat, hari itu Juni 2005. Dua bulan lagi rumah kontrakan kami akan segera berakhir. Itu berarti, petualangan mencari tempat berteduh pun akan segera dimulai lagi. Tiga kali mengontrak rumah — dua kali di Malang dan sekali, dua tahun terakhir di Surabaya — telah memberi kami pengalaman pindahan yang luar biasa. Bertumpuk-tumpuk buku, berkarung-karung perkakas rumah tangga, bergunung-gunung kasur-bantal, berbuntal-buntal baju dan pakaian. Ffuiih! Membayangkannya saja membuat lelah sekujur tubuh bahkan sebelum pindahan beneran.

Apalagi pindahan terakhir dari Malang ke Surabaya dua tahun sebelumnya seperti layaknya karnaval: mengangkut semua barang kami hingga menjulang tinggi di sebuah pick-up sewaan, dilepas tetangga kiri-kanan di Malang, dan dilihati orang-orang sepanjang perjalanan. Bagaimana tidak? Tumpukan barang itu miring ke kanan persis seperti menara Pisa bahkan ketika kendaraan pengangkut belum meninggalkan batas kota Malang. Doa saya hanya satu: Ya Allah, jangan Kau kirimkan angin kencang menerpanya seperti Kau kirimkan pada kaum ‘Aad sebelum kami benar-benar tiba di tempat tujuan!

Imunisasi Anak Cara Islam

Judul : Imunisasi Anak Cara Islam:
Melindungi Fisik, Akal, dan Mental Anak Secara Menyeluruh dan Syar’i
Penulis : Ahmad Syarifuddin
Penerbit : Tiga Satu Tiga, Sukoharjo
Edisi Pertama : Jumadil Ula 1430 H | Mei 2009
ISBN : 978-979-17178-2-3
Tebal : 204 hal; 20,5 cm

Pada tahun 2003 pernah terbit sebuah buku berjudul “Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi pada Anak” (Gramedia Pustaka Utama). Konon karena kontroversial, buku itu kini sulit didapat di pasaran. Ia memuat informasi yang mengejutkan tentang vaksinasi yang tidak pernah ditemukan pada media informasi apapun. Jika selama ini vaksinasi adalah suatu keharusan untuk dilakukan pada anak-anak kita dan diklaim aman bagi kesehatan mereka, maka buku itu justru mengatakan “Dalam hal vaksinasi anak, mencegah mungkin tidak lebih baik daripada menyembuhkan.”

Betapa tidak? Beberapa vaksin, tulis buku karya Stephanie Cave, M.D. bersama Deborah Mitchell itu, mengandung racun seperti air raksa (merkuri), aluminium, dan formalin. Beberapa vaksin dibuat dari jaringan manusia dari janin yang digugurkan, disamping menggunakan bahan-bahan haram lainnya. Perancis pada 1998 telah menghentikan program imunisasi dengan pemberian vaksin Hepatitis-B pada anak-anak sekolah karena kasus multiple-sklerosis yang terjadi pada mereka telah dikaitkan dengan vaksin itu. Sejak tahun 2000, Amerika telah menghentikan pemberian vaksin polio oral (tetes mulut) dan diganti dengan suntikan, karena terbukti justru menimbulkan hingga 10 kasus polio per tahun dan dituding menyebabkan gangguan serius pada sistem pencernaan, terutama penyumbatan usus. Anehnya, Indonesia justru masih gencar melaksanakan vaksinasi polio oral ini!

Posting ini sebenarnya meneruskan diskusi dengan teman-teman pada posting sebelumnya Pilih Mana: Menjadi Musafir atau Hamba Sahaya? Terutama ketika Mas Khalis Tontowi menyinggung tentang “tafsir” , bahwa manusia diciptakan dalam sebaik-baik bentuk. Tetapi, sebaik-baik bentuk itu tidak sebatas — seperti biasa disampaikan para ustadz — lengkapnya organ anggota badan kita. Lantas apa?

***

Kali ini, saya akan bicarakan tentang kecerdasan. Artikel ini kebetulan dimuat pada Majalah dzikir dan pikir al-Mu’tashim edisi Maret 2009 ini pada rubrik “auladi”.

Apakah anak kita cerdas? Ya? Tidak? Bingung? Kira-kira acuan apa yang kita gunakan untuk menjawabnya? Sebagian besar orangtua biasanya akan menggunakan nilai rapor sebagai acuan kecerdasan anak. Anak-anak yang memperoleh ranking, pandai berhitung dan kuat menghafal cenderung dikategorikan cerdas.

Lalu, bagaimana dengan anak-anak yang tidak mendapatkan ranking? Bagaimana dengan anak-anak perkampungan kumuh Brasil yang jago bermain sepak bola, tetapi mungkin tidak tahu perkalian? Bagaimana pula dengan para pelaut zaman dahulu yang mengarungi samudera hanya dengan mengandalkan konstelasi bintang-bintang di langit? Apakah mereka juga dapat dikategorikan cerdas?

Dua Lelaki

In: Inspirasi, Keluarga Asmara, Suri-Tauladan

Membaca Facebook hari ini menjadikan saya mengerti, bahwa social network semacam ini tidak sekedar merepotkan kita dengan menjawab puluhan friend requests, event invitations, mengupload album foto, mengubah status ‘What are you doing right now?’ setiap waktu, bahkan ketika kita hendak pergi tidur.

Membaca Facebook hari ini, saya mendapatkan energi positif melalui inspiring story dari notes seorang teman dekat di seberang lautan, yang saya yakin ditulisnya spontaneously mengalir dengan sepenuh hati. Saya bahkan percaya jika ia menulis bait-bait ini dengan tetes air mata cintanya. Membaca catatannya membuat saya sadar akan dua hal. Pertama, cinta itu ternyata bisa dipupuk dengan hal-hal yang sederhana. A little means a lot.

Dan kedua, ternyata masih banyak laki-laki di luar sana yang lebih baik dari diri saya (halah!). Setidaknya, dua lelakinya ini. Beribu terima kasih saya sampaikan padanya yang telah mengijinkan saya menulis ulang ceritanya di blog sederhana ini, untuk kita semua, dengan judul posting yang sama dengan judul notesnya. Sebuah judul yang pasti telah dipilihnya dengan segenap cinta. Sebuah cerita sederhana yang tidak sederhana, yang barangkali darinya kita bisa berkaca diri. Yang ditulis dari hati akan menembus sampai ke hati.I

Bahtiar HS

Engineer, pembaca, penulis, pencinta ilmu. Suami dari seorang istri dan Ayah dari 6 orang malaikat kecil.


Jajak Pendapat

Sorry, there are no polls available at the moment.

Ikuti posting terbaru

Tulis email Anda:

delivered by FeedBurner

Hari ini

Kalender Posting

March 2010
M T W T F S S
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Bahtiar Bergerak


Internet Sehat

Blog Bahtiar

Flickr Bahtiar

39_sitou38_sicakep337_sicakep236_sicakep35_naskun34_beer33_anker32_kbgapi31_anker

Statistics

Sejak 17 Sep 2008

Chatting