rumah berbagi para pencari hikmah
Kemanakah lagi kita hendak berlari, jika semua pintu telah rapat terkunci?
Mengingat kembali kedalaman arti dari sepenggal ayat ini membuat gemetar jemari ini ketika menuliskannya ke dalam rangkaian kata. Apalagi jika membayangkan apa yang nanti bakal terjadi, ketika lisan ini kelak terkunci, hanya kaki dan tangan bersaksi terhadap apa saja yang pernah terjadi sepanjang hidup, terhadap segala ucapan yang telah terucap. Kesaksian yang seadil-adil kesaksian. Kesaksian yang mustahil ditutup-tutupi, apalagi didustakan. Kesaksian yang sungguh paripurna.
Andai satu ayat ini bisa kita pegang erat, mungkin terpegang pula tiket masuk dengan selamat ke taman akhirat.
Penyesalan, yang selalu datang terlambat itu, bisa bermula dari beraneka sebab. Dan hari ini, penyesalan yang akan saya kenang seumur hidup dan tak kan dapat saya tebus lagi itu bermula dari menunda kebaikan.
Betapa keteledoran yang saya sesali itu sama sekali tidak sejalan dengan ujar para shalafus-shalih,
ما أحببت أن يكون معك فى الأخرة إفعله اليوم
وما كرهت أن يكون معك فى الأخرة أترك اليوم
Apa yang engkau suka untuk dibawa bersamamu ke akhirat, kerjakan sekarang juga. Dan apa yang engkau tidak suka dibawa bersamamu ke akhirat, tinggalkan sekarang juga.
Surga itu bernuansa maskulin.
Sebagian orang berpendapat seperti itu, bahwa Al-Qur’an hanya menguraikan kenikmatan surgawi untuk kaum laki-laki saja. Salah satu buktinya adalah adanya iming-iming ganjaran untuk para lelaki surga berupa 70 isteri yang suci, perawan, dan berusia belia. Saya telah menuliskan tentang warisan 70 isteri ini pada posting sebelumnya. Dan posting kali ini adalah untuk menyambung pertanyaan Lukie, sahabat saya, melalui komentarnya tentang bagaimana halnya surga buat kaum hawa seperti dirinya?
Ini perbincangan dengan seorang teman, dalam sebuah taksi yang tengah melaju malam kemarin dari Soekarno-Hatta menuju kawasan Cempaka Emas. Kami berbincang tentang warisan. Ya, lebih tepatnya “al-waaritsun” (orang-orang yang akan mewarisi), yakni mewarisi syurga Firdaus, sebagaimana disinyalir Allah swt. dalam firman-Nya:
أُوْلَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ ـ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun: 10-11)
Jika Anda berada di sebuah padang gersang, kering kerontang, tidak nampak tumbuh tanaman apapun, sepi tak ada orang sama sekali, gung liwang liwung-doh lor doh kidul kata orang Jawa (sudah sepi, jauh dari mana-mana lagi), panas membara ketika siang hari, gelap dan dingin menggigit di malam hari, maka apa yang akan Anda lakukan? Jika Anda membawa isteri dan bayi Anda yang masih merah di atas punggung unta, lalu disuruh meninggalkan mereka di tempat yang seperti itu, sendirian, kira-kira apa yang akan Anda lakukan? Sikap apa yang bakal Anda ambil?
Mungkin sebagian besar kita tak akan rela meninggalkan anak dan isteri kita, orang-orang yang kita sayangi, di tempat yang nyaris “tak ada harapan hidup” seperti itu. Meninggalkan mereka di padang gersang nan tandus itu hanya akan mempercepat mengirim mereka ke alam baka.
Tetapi tidak demikian halnya dengan Nabi Ibrahim as.
Bagi teman-teman atau para pengunjung blog sederhana ini yang memerlukan naskah untuk mengisi Khutbah Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah 1430 H ini (insyaAllah Jum’at, 27 November 2009) bisa memanfaatkan naskah khutbah yang saya siapkan ini — tentu saja jika topik yang dibahas sesuai dan berkenan di hati Anda.
Tinggal dicetak dan dibaca saat khutbah. Naskah bisa diunduh secara gratis di sini. Terima kasih untuk GoogleDocs untuk fasilitas yang disediakan.
Semoga bermanfaat untuk Anda semua yang memerlukan. Amin.
Bahtiar HS
Setidaknya ada 10 (sepuluh) hadits yang disampaikan Abina Ust. Ihya Ulumiddin pada taushiyah Ahad pagi kemarin (7/11). Kesepuluhnya menggunakan kata awalan laysa (ليس) yang berarti bukanlah. Laysa biasa digunakan untuk peniadaan. Saya memahaminya sebagai upaya untuk menjelaskan makna atau pengertian yang sebenarnya dibandingkan dengan pengertian yang dipahami orang pada umumnya.
Hadits-hadits dengan kata awalan laysa tersebut tidak lain merupakan salah satu metode Rasulullah saw. dalam tarbiyah untuk memberikan deskripsi nilai-nilai yang tinggi, yang esensial, di belakang atau di balik pemahaman-pemahaman — yang mungkin keliru atau kurang tepat — yang telah berkembang luas di masyarakat.
***
Pada kuliah Shubuh Ahad ini, 1 November 2009, Pak Muttaqin yang kena giliran kultum menguraikan tentang anjuran untuk bepergian dari Rasulullah saw. Mengutip dari Kitab Fiqhus Sunnah karya Sayyid Sabiq, Pak Muttaqin menyebutkan satu hadits pengantar yang sangat menarik.
عن ابي هريرة راضي الله عنه ان النبي صلى الله عليه وسلم قال سَافِرُوا تَصِحُّوا وَاغْزُوا تَسْتَغْنُوا - رواه أحمد وصححه النواوى
Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda, “Bepergianlah engkau sekalian, maka engkau sekalian akan sehat. Dan berjihadlah engkau sekalian, maka engkau sekalian akan berkecukupan.” ~ HR. Ahmad, yang dishahihkan oleh Imam Nawawy.
Ada analogi yang saya tak tahu apakah itu hasil othak-athik-gathuk atau memang sebenar analogi. Ust. Ma’ruf Islamudin pada ceramah di sebuah radio swasta di Surabaya beberapa hari yang lalu pernah menyampaikan bahwa “syukur” itu artinya “terima kasih”. Terima. Kasih. Terima (ustadz Ma’ruf kedengarannya sedang mempraktekkan menerima sesuatu), lalu Kasih (diberikannya sesuatu pada orang lain). Terima. Kasih. Setelah menerima, lalu jangan lupa ngasih (ada nggak ya bahasa Indonesia untuk “mengasih”?) pada yang lain. Jadi, syukur itu tak sekedar menerima, tetapi juga mengimplementasikannya dengan berbagi pada orang lain.
Ada 3 buah posisi jam-menit yang sedang dibicarakan orang hari-hari ini. 17:16, 17:58, dan 08:52. Ketiganya adalah jam-menit ketika gempa baru-baru ini meluluhlantakkan kota Padang dan Jambi. Gempa berkekuatan 7,6 Skala Richter itu menghancurkan kota Padang dan sekitarnya tanggal 30 September 2009 lalu pada pukul 17.16 WIB. Gempa susulan kemudian terjadi pada pukul 17.58 WIB. Keesokan harinya, tanggal 1 Oktober, gempa berkekuatan 7 Skala Richter kembali mengguncang Jambi dan sekitarnya tepat pada pukul 08.52 WIB.
Ada yang kemudian menyebar SMS untuk membuka Al-Qur’an dan menemukan ayat-ayat berdasarkan posisi jam itu. Maka, pada QS. Al-Israa’ [17] ayat 16 kita menemukan ayat dimana Allah berfirman:
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.