rumah berbagi para pencari hikmah
(Catatan Ramadhan 1431H #9)
Panas terik. Badai pasir gurun sahara tanah Persia masih menyisakan kepulan debu yang membutakan mata.
Dua orang lelaki terseok, merangkak, beringsut setapak demi setapak. Jauh Barat. Jauh Timur. Yang terlihat hanyalah hamparan pasir kerontang hampir tanpa tepi. Kedua orang itu nyaris bagai dua titik hitam dalam lautan kelabu. Bibir keduanya seperti pohon meranggas, pecah-pecah, dan belepotan pasir. Tenggorokan kering dan tersekat. Tetes air terakhir dari bekal yang dibawa telah habis. Bahkan botolnya telah tertinggal berpuluh langkah di belakang.
Laki-laki yang lebih besar diantaranya kini jatuh di atas lutut, kemudian rebah tertelungkup. Kedua kakinya seperti terbenam ke dalam pasir hingga perut. Dadanya sesak. Nafasnya tersengal, satu demi satu. Ia tak berdaya lagi untuk melangkah.
(Catatan Ramadhan 1431H #5)
Saya merayakan HUT ke-65 RI kali ini di Masjid Istiqlal, Jakarta. Bukan upacara bendera, melainkan mengikuti shalat tarawih di masjid bersejarah itu, 17 Agustus kemarin. Bagaimanapun saya sudah bolak-balik ke Jakarta, tetapi belum sekalipun menapakkan kaki di masjid yang diklaim terbesar se-Asia Tenggara itu. Bukan termasuk dosa besar sih, tetapi kurang afdhol kiranya jika tidak menyempatkan diri bershalat di masjid ini. Setidaknya sekali seumur hidup.
Inilah salah satu masjid yang petugasnya tampak formal (pakai nametag segala), berjas berdasi, berjubah, dan para imam shalatnya hafizh Al-Qur’an. Selesai shalat Isya’, sebelum tarawih, didahului dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh qori’ah pemenang musabaqah tilawatil Quran (MTQ) tingkat internasional serta taushiyah (siraman ruhani).
Uniknya pula, tarawih di masjid ini dilakukan dalam dua kloter. Kloter pertama 8 rakaat plus witir 3 rakaat. Setelah itu, tarawih dilanjutkan untuk kloter kedua dengan imam shalat berbeda, untuk menggenapi 23 rakaat. Jamaah bebas memilih mau mengikuti kloter kedua atau pulang setelah witir.
Dan inilah oleh-oleh dari perayaan HUT ke-65 RI versi saya itu. Semoga termasuk ballighu ‘anni walau ayah. Sampaikan apa-apa dariku meski hanya seayat, kata Nabi saw.
Semoga bermanfaat.
(Catatan Ramadhan 1431H #3)
Jam satu siang.
Jum’atan baru saja usai. Segelas jus guava dan buku “Nights in Rodanthe” karya Nicholas Spark –masih dalam bungkus plastik– di tangan. Teman duduk perjalanan pulang ini.
Jakarta seperti terbakar di tiap sudutnya siang itu. Saya harus mengejar pesawat jam tiga sore lewat seperempat take-off dari Soekarno-Hatta. Dua jam dari kawasan Kuningan ke bandara internasional itu sekarang terasa telah membuat terburu. Tak lagi cukup satu jam seperti dulu. Ibarat penyakit, kemacetan Jakarta sudah naik ke stadium yang lebih akut dan celakanya nyaris tanpa terapi.
Setelah agak susah mendapatkan taksi kosong, akhirnya saya mendapatkan sebuah Blue Bird. Taksi langganan. Saya membuka pintu, menaruh tas di jok belakang, duduk, lalu menyebut tujuan. Anak muda, sopir taksi itu, mengangguk sopan. Rasuna Said, Casablanca, dan Sudirman tampak mulai macet. Maklum, hari Jumat. Hari orang-orang pulang kampung, meninggalkan pikuk Jakarta untuk sementara, seperti saya.
(Catatan Ramadhan 1431H #2)
Suatu hari di tahun 1609, Galileo mengarahkan teleskopnya pertama kali ke langit. Ketika melihat bulan, ia dapat melihat permukaan benda langit itu yang dipenuhi kawah-kawah. Ketika melihat planet Jupiter, ia melihat benda langit berbentuk bulat dan dikelilingi 4 buah bulan. Namun ketika mengarahkan teleskopnya ke bintang-gemintang, astronom kelahiran Pisa (Toscana, Italia) itu tidak dapat melihat bagaimana bentuknya. Ia hanya bisa melihat titik-titik cahaya, sama seperti bila ia lihat dengan mata telanjang. Hanya bedanya, bintang itu terlihat lebih terang dan jumlahnya lebih banyak saat menggunakan teleskop.
Melihat kenyataan itulah, Galileo lalu menyimpulkan bahwa bintang merupakan benda langit yang sangat jauh tanpa bisa menyebutkan berapa jaraknya.
(Catatan Ramadan 1431H #1)
Pada suatu siang (atau malam hari) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumahnya. Beliau lalu berpapasan dengan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a., yang juga keluar rumah pada saat itu. Beliau lalu bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian berdua keluar dari rumah pada saat-saat seperti ini?”
Abu Bakar dan Umar menjawab, “Rasa lapar, wahai Rasulullah!”
Beliau bersabda, “Adapun aku, demi diriku yang ada di tangan-Nya, juga benar-benar keluar seperti yang menyebabkan kalian berdua keluar.” Lalu pintanya kepada kedua sahabat itu, “Sekarang bangkitlah!”
Shubuh baru saja usai. Kokok ayam sudah nyaris tak terdengar karena malu pada matahari yang sinarnya telah menghangatkan bumi. Suasana sekitar pondok Gontor Putri, Mantingan, Ngawi, mulai ramai dengan aktivitas para santri dan wali santri yang datang berkunjung menjenguk putra-putri mereka karena sedang libur panjang Waisak.
Seorang ibu setengah baya pagi itu pun mulai bergerak. Keranjang besar ia letakkan di pinggangnya. Ia telusuri setiap sudut, dari satu tempat sampah ke tempat sampah yang lain. Tangannya cekatan mengorek dan memilah barang yang teronggok di setiap tempat dan mengambil yang masih bisa dimanfaatkan. Botol plastik minuman kemasan, misalnya.
Pak KH berdiri mematung di tempatnya seperti mengalami de javu. Ya. Ibu itu kerap dijumpainya setiap kali mengunjungi putrinya di pondok modern ini. Ibu yang sama, dengan keranjang di pinggang yang sama, aktivitas yang sama, di waktu pagi yang sama. Tetapi entah mengapa, hari itu, wali santri itu tergerak melakukan hal yang berbeda.
Kemanakah lagi kita hendak berlari, jika semua pintu telah rapat terkunci?
Mengingat kembali kedalaman arti dari sepenggal ayat ini membuat gemetar jemari ini ketika menuliskannya ke dalam rangkaian kata. Apalagi jika membayangkan apa yang nanti bakal terjadi, ketika lisan ini kelak terkunci, hanya kaki dan tangan bersaksi terhadap apa saja yang pernah terjadi sepanjang hidup, terhadap segala ucapan yang telah terucap. Kesaksian yang seadil-adil kesaksian. Kesaksian yang mustahil ditutup-tutupi, apalagi didustakan. Kesaksian yang sungguh paripurna.
Andai satu ayat ini bisa kita pegang erat, mungkin terpegang pula tiket masuk dengan selamat ke taman akhirat.
Penyesalan, yang selalu datang terlambat itu, bisa bermula dari beraneka sebab. Dan hari ini, penyesalan yang akan saya kenang seumur hidup dan tak kan dapat saya tebus lagi itu bermula dari menunda kebaikan.
Betapa keteledoran yang saya sesali itu sama sekali tidak sejalan dengan ujar para shalafus-shalih,
ما أحببت أن يكون معك فى الأخرة إفعله اليوم
وما كرهت أن يكون معك فى الأخرة أترك اليوم
Apa yang engkau suka untuk dibawa bersamamu ke akhirat, kerjakan sekarang juga. Dan apa yang engkau tidak suka dibawa bersamamu ke akhirat, tinggalkan sekarang juga.
Surga itu bernuansa maskulin.
Sebagian orang berpendapat seperti itu, bahwa Al-Qur’an hanya menguraikan kenikmatan surgawi untuk kaum laki-laki saja. Salah satu buktinya adalah adanya iming-iming ganjaran untuk para lelaki surga berupa 70 isteri yang suci, perawan, dan berusia belia. Saya telah menuliskan tentang warisan 70 isteri ini pada posting sebelumnya. Dan posting kali ini adalah untuk menyambung pertanyaan Lukie, sahabat saya, melalui komentarnya tentang bagaimana halnya surga buat kaum hawa seperti dirinya?
Ini perbincangan dengan seorang teman, dalam sebuah taksi yang tengah melaju malam kemarin dari Soekarno-Hatta menuju kawasan Cempaka Emas. Kami berbincang tentang warisan. Ya, lebih tepatnya “al-waaritsun” (orang-orang yang akan mewarisi), yakni mewarisi syurga Firdaus, sebagaimana disinyalir Allah swt. dalam firman-Nya:
أُوْلَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ ـ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun: 10-11)