Napak Tilas Category

Yang Berani Bertarung Tumpes-Kelor

In: Napak Tilas

Tiba-tiba sebuah genta bertalu di dalam masjid Nabi! Suaranya menjadi aneh di telinga kaum muslimin yang baru saja usai shalat ashar.

Rupanya utusan Nasrani dari Najran yang memukulnya. Mereka baru datang di Madinah. Enam puluh orang. Berjubah mewah dengan selendang dari sutra tersampir di pundak. Jari-jari mereka terhiasi cincin-cincin emas.

Tak ayal, suara pukulan genta itu terdengar bukan seperti tanda untuk bersembahyang, melainkan tabuhan genderang menantang perang!

Namun suara itu tidak lantas membuat ciut nyali, melainkan justru malah menaikkan darah ke ubun-ubun. Para sahabat sudah hendak bertindak. Tetapi, Nabi saw. mencegahnya. Ia memerintahkan kaum muslimin untuk membiarkan tamu dari Selatan itu melakukan sembahyang sesuai tradisi agama mereka, meski di dalam masjid.

Nikmati Monolog Perdana Napak Tilas

In: Monolog, Napak Tilas

Pagi ini, Ramadhan 1429H hari ke-24, untuk pertama kali saya merekam Monolog Napak Tilas. Saya mengambil salah satu naskah Napak Tilas berjudul: “Teladan Terberat Menjelang Pergi.” Naskah ini juga masuk ke dalam buku Jejak-jejak Surga Sang Nabi, buku saya yang baru terbit.

Ia Yang Bisa Membaca Masa Depan

In: Al-Mu'tashim, Napak Tilas

Bagaimana halnya jika sebuah prediksi atau ramalan tercetus seketika, tanpa data historis sebelumnya, dan tak terbayangkan sebelumnya? Dalam episode Suraqah dan Nabi ini, dimana dari mulut Baginda keluar sebuah janji tentang diberikannya kemuliaan kepada pemuda Baduwi itu akan pakaian kebesaran dari Kisra, suatu saat, bagaimana memahaminya? Bukankah saat janji itu terucapkan Nabi dan kaum muslimin dalam keadaan tertindas, baru segelintir jumlahnya, dan bahkan tak punya apa-apa karena semua harta ditinggalkan di Makkah untuk berhijrah ke Yatsrib? Sementara Suraqah adalah pemuda kampung suku Baduwi, kurus kering hitam legam, belum memeluk cahaya Islam lagi, sedangkan Kisra adalah sebuah imperium nan kuat yang telah berdiri berabad-abad.

Tidakkah apa yang dijanjikan Nabi terlihat mustahil bakal terjadi?

Ia Yang Dipanggil Ke Langit

In: Al-Mu'tashim, Napak Tilas

Mengapa Rasulullah harus bertemu Musa as., yang meminta beliau hingga berulang kali menghadap kembali kepada Allah, untuk meminta keringanan terhadap perintah shalat. Dari 50 menjadi 40, 30, 20, 10, dan akhirnya tinggal 5. Mengapa tidak langsung 5 saja sehari semalam? Apa maksud perulangan ini? Apakah ini skenario Allah agar Muhammad, manusia yang paling dicintai-Nya itu, semata-mata bisa bertemu dengan-Nya berulang kali? Bukankah Ia Maha Tahu, sehingga sangat tahu bahwa 50 kali sehari semalam jelas-jelas tidak akan bisa dilakukan umat manusia? Tetapi mengapa Ia memerintahkan 50 kali sehari semalam? Ataukah ini berarti bahwa bilangan 5 pada akhirnya itu pada hakikatnya sama dengan 50?

Bahtiar HS

Engineer, pembaca, penulis, pencinta ilmu. Suami dari seorang istri dan Ayah dari 6 orang malaikat kecil.


Jajak Pendapat

Sorry, there are no polls available at the moment.

Ikuti posting terbaru

Tulis email Anda:

delivered by FeedBurner

Hari ini

Kalender Posting

September 2010
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Bahtiar Bergerak


Internet Sehat

Blog Bahtiar

Flickr Bahtiar

39_sitou38_sicakep337_sicakep236_sicakep35_naskun34_beer33_anker32_kbgapi31_anker

Statistics

Sejak 17 Sep 2008

Chatting