rumah berbagi para pencari hikmah
[Catatan Ramadhan 1430 H #2]
Kemarin Ramadhan hari ke-2 mendapat tugas mendadak dari Ust. Suherman Rosyidi, membaca hadits dalam kitab Shahih Jami’ush Shagir Muhammad Nashiruddin al-Albaniy ba’da shubuh di masjid perumahan. Setiap Ahad selama ramadhan ini.
Dan hadits yang saya baca ba’da shubuh itu berbicara tentang risalah dan kenabian yang telah berakhir.
اِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدِ انْقَطَعَتْ فَلاَ رَسُوْلَ بَعْدِي وَلاَ نَبِيَّ وَلَكِنْ المُبَشِّرَاتُ رُأْياَ الرَّجُلِ المُسْلِمْ فَإِنَّهَا جُزْءٌ مِنْ اَجْزَاءِ النُّبُوَّةِ
Sesungguhnya risalah dan (masa) kenabian telah berakhir. Maka tidak ada rasul setelahku, dan tidak juga nabi. Kecuali (yang ada adalah) pemberi berita gembira; mimpi seorang muslim. Sesungguhnya hal itu merupakan bagian dari kenabian. (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi)
Inilah makalah yang disiapkan Mas Anis Malik Thoha pada presentasinya tentang Pluralisme Agama: Strategi Barat Dalam Penghancuran Umat Islam pada acara Multaqo Tsanawy Persyarikatan Dakwah Al-Haromain tanggal 28 Juni yang lalu — sebagaimana saya janjikan pada posting sebelumnya.
Ada satu ungkapan yang menarik perhatian saya pada acara tasyakur dan orasi ilmiah Dr. Adian Husaini di aula SD Integral Luqmanul Hakim PP Hidayatullah, Kejawan Putih Tambak Surabaya pada hari Sabtu, 2 Mei 2009 kemarin. Mengutip kata-kata Muhammad Asad (a.k.a. Leopold Weiss) dalam bukunya Islam at the Crossroads (Islam di Persimpangan Jalan), Mas Adian — yang baru saja mendapatkan gelar doktor bidang peradaban Islam dari ISTAC-IIUM itu — menyatakan,
“Tidak ada satu peradaban dapat menjadi makmur, ataupun hidup, sesudah kehilangan kebanggaan terhadap peradaban itu dan sesudah kehilangan hubungan dengan masa lalunya sendiri.”
Dari pernyataan ini, ada 2 hal yang menjadi kunci makmur dan hidupnya sebuah peradaban. Pertama, kebanggaan umat terhadap peradaban itu sendiri. Dan yang kedua, keterhubungan peradaban itu dengan masa lalunya.
Tema ini berangkat dari kenyataan dekade terakhir ini dimana banyak pemikir muda Indonesia berlatar pendidikan agama (Islam) melontarkan gugatan dan hujatan terhadap Al-Qur’an. Beberapa kasus sudah terjadi, misalnya penginjak-injakan lafadh Allah oleh Sulhawi Ruba di IAIN Sunan Ampel Surabaya pada 5 Mei 2006, penulisan buku berjudul “Al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar” oleh Dr. Phil. M. Nur Kholis Setiawan (staf pengajar pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) yang murid Nasr Hamid Abu Zayd, secara tidak langsung juga kasus penghujatan Tuhan di IAIN Bandung September 2004, dan kasus-kasus lainnya. Dalam sebuah kesempatan, Adnin mengatakan kasus-kasus tersebut hanyalah fenomena ‘gunung es’. Apa yang sebenarnya terjadi jauh lebih gawat.