rumah berbagi para pencari hikmah
Pagi ini saya dikagetkan dengan sebuah kabar yang “jelek” secara pribadi buat saya. Kejutan Selasa pagi yang sudah sangat terlambat. Prizes (”Hadiah Nobel”, Gramedia Pustaka Utama, 1996) baru saya baca ulang untuk kedua atau tiga kalinya sambil naik taksi dari apartemen Cempaka Emas ke kantor Kuningan atau ke kantor klien di bilangan Sudirman Jakarta — dan kini baru sampai di halaman 493 dari 596 — ketika saya tahu dari googling bahwa ternyata Erich Segal telah meninggal dunia awal 2010 lalu. New York Times online menulis beritanya tepat pada saat ia meninggal, 19 Januari 2010.
Penyesalan, yang selalu datang terlambat itu, bisa bermula dari beraneka sebab. Dan hari ini, penyesalan yang akan saya kenang seumur hidup dan tak kan dapat saya tebus lagi itu bermula dari menunda kebaikan.
Betapa keteledoran yang saya sesali itu sama sekali tidak sejalan dengan ujar para shalafus-shalih,
ما أحببت أن يكون معك فى الأخرة إفعله اليوم
وما كرهت أن يكون معك فى الأخرة أترك اليوم
Apa yang engkau suka untuk dibawa bersamamu ke akhirat, kerjakan sekarang juga. Dan apa yang engkau tidak suka dibawa bersamamu ke akhirat, tinggalkan sekarang juga.
Hari-hari ini, saya sedang dikejar target membuat proposal tentang Sistem Penunjang Keputusan (decision support system) untuk perencanaan dan kebutuhan personil pada sebuah institusi. Buku Tugas Akhir (TA) saya, yang dikirim Ayah dari Ponorogo telah tiba. Soalnya copy buku itu di kantor atau rumah saya, hard maupun soft-nya, raib entah kemana. Untung masih ada satu hardcopy lagi di rumah orang tua saya — mereka pajang di lemari tamu!
Buku itulah yang kini saya buka kembali, mengingat TA saya dulu berkaitan dengan DSS untuk perencanaan dan pengendalian kebutuhan sumber daya awak kabin pesawat. Ya, mirip-miriplah dengan proposal itu. Apalagi dulu TA saya dapat ‘A’. Bukan apa, karena para dosen penguji tidak banyak yang paham tentang dunia airline. Jadi kelihatannya saja hebat. Padahal program saya masih ada sedikit “bug”. Alhamdulillah, Allah tidak berkenan memperlihatkan bug itu ketika demo di hadapan mereka.
Apa kata peribahasa tentang Cicak dan Buaya, sebelum perseteruan antara keduanya kian merebak akhir-akhir ini?
Buat saya, peribahasa, kutipan, pepatah, kata bijak, atau apalah namanya, sedikit banyak, merupakan kristalisasi dari nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Ia dibentuk sekian lama, lebih lama dari usia rata-rata kita. Boleh jadi kata-kata itu bernada penuh pelecehan dan sarkastis. Boleh jadi kata-kata peribahasa itu serupa lelucon saja. Boleh jadi kata-kata peribahasa itu mengandung nasihat akan budi pekerti yang luhur. Tetapi yang jelas, di sebaliknya terkandung makna, yang seringkali dalam, karena “kebenarannya” sudah dibuktikan secara empiris oleh sejarah itu sendiri.
Lebaran hari kelima. 24 September. Saya baru tiba di Bangkalan setelah semalaman menyetir mobil dari Ponorogo. Berangkat selepas Isya. Harusnya 6 jam saja. Tetapi karena terjebak kemacetan mahaparah di Saradan (antri 3 jam!), maka baru jam 5 pagi kami tiba di Bangkalan.
Mula-mula kepala pusing, badan meriang panas, dan tenggorokan serak seperti mau terkena flu. Sehari kemudian saya merasa seperti segar kembali. Tetapi tidak lama, karena begitu menginjak malam, timbul ruam merah kecil-kecil di kedua lengan saya, semburat seperti bintang-gemintang memenuhi langit di waktu malam. Badan saya mulai panas-dingin. Demam.
Time is like a river.
You cannot touch the same water twice,
because the flow that has passed will never pass again.
~Anonymous
***
Keterangan.
Sumber gambar: istimewa (koleksi pribadi). Rafting di Kasembon, 2007.
Quote tidak ditemukan siapa yang menyatakannya pertama kali. Hanya dapat quote ini dari teman via email.
“Ketika aku merampok, maling, menjambret, dan segala kejahatan lainnya, keluargaku biasa-biasa saja. Mereka tetap bertemu denganku, berbincang seperti layaknya biasa. Tetapi ketika aku masuk Islam, mereka memusuhiku.”
~ Anton Medan, dalam wawancara di TVOne, Kamis, 27 Agustus 2009
Death never takes the wise man by surprise; He is always ready to go.
~Jean de La Fontaine
Si Rambut Gimbal, Si “I Love You Full”, Si “Tak Gendong Ke Mana-mana”, Si “Bangun Tidur Tidur Lagi”, ya Mbah Surip itu kini sudah tiada. Meski namanya Urip Ahmad Riyanto (’urip’ dalam bahasa Jawa berarti ‘hidup’), tetapi jika ajal telah sampai, tak seorang pun kan bisa lari darinya. Kemarin, 4 Agustus 2009 sekitar jam 10.30, Mbah Surip telah tiada.
Saya suka membaca Mr. Pecut Jawapos setiap hari. Nylekit dan humor. Sebuah paduan antara sedikit sakit hati dan senyum yang kadang terbahak atau penuh cemooh. Dan Mr. Pecut edisi Sabtu, 4 April 2009 kemarin menarik perhatian, sekaligus mengenaskan saya.
Hukuman Al Amin diperberat jadi 10 tahun karena skandal perempuan.
++ Makanya, lain kali sama laki-laki saja!
Pada launching buku “Menyambut Umur 40 Tahun” karya ust. Ahmad Syarifuddin hari Sabtu, 21 Maret kemarin, mendadak saya harus menjadi pembicara dan mengapresiasi buku tersebut. Salah satu yang cukup membuat termenung hingga saat ini adalah ketika saya menemukan sebuah hadits tentang usia “maksimal” kita pada halaman 10 dari buku itu. Hadits tersebut berbunyi:
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يُجَوِّزُ ذلِكَ – رواه الترمذي وابن ماجه
Usia umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan amat sedikit orang yang melewati (melebihi usia itu). (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)