rumah berbagi para pencari hikmah
Judul: Bayang-bayang Pohon Delima / Shadow of The Pomegranate Tree
Penulis: Tariq Ali
Penerbit: Serambi, Jakarta
Terbit: Juli 2006
Tebal: +478 halaman, 13×20 cm
Kategori: Fiksi berbasis sejarah
Sejarah telah mencatat begitu banyak dinasti berdiri, lalu tumbang suatu saat; banyak kerajaan dibangun, kemudian roboh pada akhirnya. Juga kesultanan-kesultanan berjaya, baik di Timur maupun di Barat, untuk kemudian terpuruk jatuh ditelan masa. Satu demi satu. Datang dan pergi. Semua menetapi sunatullah, bahwa demikianlah hari-hari kejayaan dan kehancuran itu dipergilirkan diantara manusia agar menjadi pelajaran (QS. Ali Imran: 140).
Tetapi tidak ada yang lebih menyakitkan berbicara tentang jatuhnya sebuah kekuasaan yang pernah ada di muka bumi ini dibandingkan jatuhnya kesultanan Granada.
Membaca karya Amin Maalouf memang mengasyikkan. Disamping diajak berpetualang dan hanyut dalam lautan kata nan indah menawan, kita juga diajak berpetualang — melalui tokoh utamanya — dari satu kota ke kota lain. Kota yang memang benar-benar ada, setidaknya dalam sejarah, meski yang kita baca adalah sebuah novel. Bahkan tokohnya pun nyata.
Yang lebih saya suka ketika membaca sesuatu, termasuk novel, adalah menemukan penggal-penggal cerita yang boleh kita pakai sebagai pelajaran sederhana tentang hidup. Penggal-penggal cerita itu lebih mendekati dunia realitas kita — yang multi-colour; selain putih, ada juga hitam — ketimbang cerita-cerita suci yang hampir-hampir tidak bisa kita teladani secara utuh melainkan hanya mendekatinya saja tanpa pernah sampai.

| Judul | The Janissary Tree |
| Dalam Bayangan Pohon Yenicheri | |
| Penulis | Jason Goodwin |
| Penerjemah | Zia Anshor |
| Penyunting | Anton Kurnia |
| Jenis | Novel misteri / detektif |
| Penerbit | PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta |
| Terbit | Cetakan I, Maret 2008 |
| ISBN | 978-979-024-027-8 |
| Tebal | 479 hal |
| Ukuran | 13 x 20 cm |
Inilah salah satu hikmah saya sakit selama lebaran kemarin. Saya berhasil menuntaskan baca satu dari dua buku yang saya bawa selama mudik. Sebuah novel detektif, berjudul: The Janissary Tree; Dalam Bayangan Pohon Yenicheri.
Ini makalah yang saya siapkan untuk acara Diskusi Film Ramadhan di Masjid Al-Muttaqin Kenjeran. Ini semua gara-gara Andri Utomo a.k.a. Haikal Hira Habibillah, Ketua FLP Jatim 2006-2008, memegang acara ramadhan 1430 H di sana. Jadilah saya kena panah apinya.
Mereka memutar film The Kite Runner, yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Khaled Hosseini. Kebetulan saya pernah membaca dan menulis resensi tentang buku itu beberapa tahun yang lalu, serta juga menyaksikan filmnya. Inilah yang menjadi senjata Haikal memanah saya, meski saya sudah sampaikan berulang kali, “Aku bukan orang film, Cak!” Tetapi menggunakan “waktu publikasi yang mepet” sebagai senjata andalan, jadilah saya dipaksa didapuk membawakan acara itu.

| Judul | : | Imunisasi Anak Cara Islam: |
| Melindungi Fisik, Akal, dan Mental Anak Secara Menyeluruh dan Syar’i | ||
| Penulis | : | Ahmad Syarifuddin |
| Penerbit | : | Tiga Satu Tiga, Sukoharjo |
| Edisi Pertama | : | Jumadil Ula 1430 H | Mei 2009 |
| ISBN | : | 978-979-17178-2-3 |
| Tebal | : | 204 hal; 20,5 cm |
Pada tahun 2003 pernah terbit sebuah buku berjudul “Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi pada Anak” (Gramedia Pustaka Utama). Konon karena kontroversial, buku itu kini sulit didapat di pasaran. Ia memuat informasi yang mengejutkan tentang vaksinasi yang tidak pernah ditemukan pada media informasi apapun. Jika selama ini vaksinasi adalah suatu keharusan untuk dilakukan pada anak-anak kita dan diklaim aman bagi kesehatan mereka, maka buku itu justru mengatakan “Dalam hal vaksinasi anak, mencegah mungkin tidak lebih baik daripada menyembuhkan.”
Betapa tidak? Beberapa vaksin, tulis buku karya Stephanie Cave, M.D. bersama Deborah Mitchell itu, mengandung racun seperti air raksa (merkuri), aluminium, dan formalin. Beberapa vaksin dibuat dari jaringan manusia dari janin yang digugurkan, disamping menggunakan bahan-bahan haram lainnya. Perancis pada 1998 telah menghentikan program imunisasi dengan pemberian vaksin Hepatitis-B pada anak-anak sekolah karena kasus multiple-sklerosis yang terjadi pada mereka telah dikaitkan dengan vaksin itu. Sejak tahun 2000, Amerika telah menghentikan pemberian vaksin polio oral (tetes mulut) dan diganti dengan suntikan, karena terbukti justru menimbulkan hingga 10 kasus polio per tahun dan dituding menyebabkan gangguan serius pada sistem pencernaan, terutama penyumbatan usus. Anehnya, Indonesia justru masih gencar melaksanakan vaksinasi polio oral ini!
Memenuhi permintaan dari Ust. Suherman Rosyidi untuk meng-upload materi kuliah shubuh di masjid dekat rumah, Sabtu, 9 Mei 2009 yang lalu, maka berikut di bawah ini saya tuliskan kembali materi tersebut. Materi ini tidak lain adalah intisari dari buku Menyongsong Umur 40 Tahun. Anggaplah materi ini sebagai resensi buku dimaksud. Semoga bermanfaat.
Judul: Menyambut Umur 40 Tahun: Tahap Terpenting Kehidupan Manusia
Penulis: Ahmad Syarifuddin
Terbit: Cetakan #1, Maulud 1430 H / Maret 2009
Tebal: xv+152 hal, 13 x 20 cm
Editor: Bahtiar HS
Layout: Mohd. Ayub Syafii
ISBN: 978-979-18698-0-5
***
Ketika Al-Qur’an menyebut sesuatu di dalam ayat-ayat-Nya, tentu ada yang sangat penting atau perlu diperhatikan terhadap sesuatu tersebut. Demikian juga ketika Al-Qur’an memberikan apresiasi tersendiri terhadap tahapan manusia kala mencapai usia 40 tahun yang disebutkan di dalam ayatnya secara eksplisit. Allah swt. berfirman,
حَتَّى إَذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Membaca Maryamah Karpov (MK) menjawab teka-teki saya tentang Laskar Pelangi. Alih-alih sebuah memoar seperti dilansir banyak media, termasuk Mizan sendiri yang menerbitkan buku itu, membaca MK justru membuat saya semakin yakin bahwa tetralogi itu sama dengan novel lainnya. Ia tak lebih dari sebuah karya fiksi.
Tidak seperti buku-buku tentang pernikahan yang lain, Ust. Ahmad saya lihat fokus pada upaya beliau menekankan penjelasan bukunya pada tafsir atas QS. Az-Zukhruf: 70-71, bahwa para suami akan masuk surga bersama-sama dengan istri (istri)-nya yang kini menjadi pasangan pengantin di dunia.
Ayat ini memberikan gambaran bahwa jelas-jelas ada pasangan suami istri di dunia ini yang kelak akan bersama-sama kembali di dalam surga. Jadi, pertautan hati dan kebersamaan suami istri itu tidak saja berlangsung semasa di dunia, melainkan hingga ke akhirat yang kekal abadi (hal 12). Dimana kebersamaan ini tidak bisa dikalahkan dengan kebersamaan dengan bidadari sebagaimana telah dijanjikan. Inilah “kebahagiaan tiada tara” itu.
Pagi tadi, saya membaca buku Pak Safir Senduk yang paling baru. “Karyawan Harus Nabung biar Makmur…!” Buku ini berisi kiat-kiat praktis tentang “Menabung dan Berinvestasi” bagi karyawan. Rasanya apa yang dibahan Pak Safir identik atau setidaknya senada dengan uraian khatib tarawih semalam. Karena tepat pada halaman 35, Pak Safir membahas mengapa orang tidak bisa menabung. Dan penyebab paling utama orang tidak bisa menabung adalah penghasilannya yang dirasa kecil atau pas-pasan.
Diasuh oleh Abina KH. Muhammad Ihya Ulumiddin, Tafsir Tematik senantiasa tidak pernah absen hadir pada setiap edisi majalah tersebut yang kini sudah mencapai edisi ke-138 lebih ini. Jika sekali saja tidak muncul, para pembaca akan langsung menanyakan kepada redaksi perihal ketidakhadirannya.
Kajiannya yang berdasar tema yang sedang terjadi di masyarakat (aktual) lebih mendekatkan kajian tersebut kepada para pembacanya. Apalagi ditunjang dengan bahasa yang sederhana — bahkan bahasa gaul, redaksional yang tidak berbelit, maka kajian tafsir tersebut lebih mudah diterima oleh pembaca. Nah, dari kumpulan Tafsir Tematik itulah lahir buku di tangan Anda ini.