rumah berbagi para pencari hikmah
Lebaran hari kelima. 24 September. Saya baru tiba di Bangkalan setelah semalaman menyetir mobil dari Ponorogo. Berangkat selepas Isya. Harusnya 6 jam saja. Tetapi karena terjebak kemacetan mahaparah di Saradan (antri 3 jam!), maka baru jam 5 pagi kami tiba di Bangkalan.
Mula-mula kepala pusing, badan meriang panas, dan tenggorokan serak seperti mau terkena flu. Sehari kemudian saya merasa seperti segar kembali. Tetapi tidak lama, karena begitu menginjak malam, timbul ruam merah kecil-kecil di kedua lengan saya, semburat seperti bintang-gemintang memenuhi langit di waktu malam. Badan saya mulai panas-dingin. Demam.
[Catatan Ramadhan 1430 H #5]
Ini kedua kalinya saya masuk ke Terminal 3 di Bandara Sukarno-Hatta yang baru dibangun sebagai prototipe bandara ramah lingkungan. Setelah diperiksa agak ketat (semua karena ulah si Noordin M. Top!) saya langsung menuju konter 17, tempat check-in Mandala Air.
Beberapa orang penumpang sedang antri. Sambil menunggu antrian, saya seperti biasa memperhatikan sekeliling. Ada yang menarik perhatian rupanya. Ya, tampilan monitor petunjuk check-in di masing-masing konter. Monitor 32 inch itu menampilkan informasi tentang maskapai penerbangan, nomor penerbangan, tujuan, jam berapa check-in dibuka, jam berapa check-in ditutup, dan jam berapa sekarang (current time).
Sebuah prasasti pada 17 Agustus 2009 terukir.
Bangun kesiangan! Jam enam telah lewat! Pesawat take-off jam 07.50 dari Juanda. Hanya tersisa setengah jam untuk segalanya: mandi, makan, persiapan tas, baju-baju, jas, batik, tiket, ….
Setelah mengurusi Malam Tasyakuran HUT Ke-64 RI di kampung (ketua panitia dadakan!), mengajak panitia makan-makan di Warung Gubeng Pojok, dan langsung dilanjutkan menggendong Afa yang sedang rewel karena bangun tidur jam 11 malam, barulah saya bisa tidur pukul 03.00 pagi di samping malaikat kecil itu. Jadilah mata masih mengantuk ketika ngebut ke bandara pagi itu. Tetapi, syukurlah! Tuhan masih memberi kesempatan check-in sesaat sebelum panggilan boarding tiba.
Dan perjalanan perdana ke Manado pun dimulai dengan beberapa barang tercecer tak sempat terbawa: dasi, sikat gigi, odol, sabun, pisau cukur, kemeja untuk setelan jas ….
Pengalaman online pertama saya dimulai dengan kepura-puraan. Bahkan sebagiannya dusta.
Saya masih ingat betul. Kala itu bulan Juni 1997. Kantor tempat saya bekerja sejak mahasiswa semester V sedang pindahan dari Tenggilis Utara ke Pondok Nirwana, sebuah kawasan perumahan baru di wilayah Surabaya Timur. Sebagai perusahaan penyedia solusi di bidang IT (Information Technology), kantor saya, Infoglobal, selalu berusaha mengikuti perkembangan teknologi terkini di bidang ini. Bahkan sering mencoba dan paling awal mengadopsi berbagai teknologi terbaru yang muncul. Boleh dibilang, kantor kami termasuk early adapter. Termasuk internet yang sedang ngetrend saat itu. Alhamdulillah, saya termasuk salah seorang yang beruntung bisa menikmati booming teknologi itu mula pertama melalui fasilitas yang disediakan di kantor sejak sekitar 1993-1994.
Namun demikian, saya sendiri baru benar-benar merasa “online” di internet seperti maksud istilah on-line yang menurut Kamus Merriam-Webster sebagai “connected to a computer or telecommunication system” adalah ketika pertama kali mencoba fasilitas fenomenal itu: chatting. Anda pun pasti familiar dengannya. Saya mengenalnya untuk kali pertama sejak kepindahan kantor pada Juni 12 tahun lalu itu.
Istilah chatting tentu berasal dari kata “chat” (Inggris), yang berarti “obrolan” atau “bertemu untuk mengobrol”. Kamus Webster menjelaskannya sebagai “to talk in an informal or familiar manner”; bercakap-cakap secara informal alias ngobrol juga. Chatting atau disebut juga online chat karena itu biasanya merujuk pada aktivitas mengobrol di internet dengan cara berhadapan secara langsung lewat secara virtual seorang dengan seorang atau dalam sebuah grup chatting bersama dengan beberapa orang menggunakan aplikasi online chat.
Apa kaitan antara baliho caleg yang bertebaran di muka bumi hari-hari ini dengan kolesterol? Ini barangkali seperti kaitan antara batu kali dengan batu ginjal — dengan kata lain, amat jauh untuk saling berkaitan.
Tetapi demikianlah yang terjadi pada sebuah pagi yang gersang, gerah, dan mendung tebal di atas kami seperti tak sabar hendak runtuh menjadi titik-titik hujan. Ketika itu kami — saya, istri, dan Afa — sedang melintas di sebuah jalan besar di Surabaya, jalan kami biasa berlalu-lalang ke pusat kota. Baliho caleg bertebaran di sepanjang jalan, nyungsep diantara spanduk dan baliho pengumuman dan iklan berbagai hal.
Saat melewati sebuah baliho caleg yang sangat besar, saya nyeletuk, “Baliho sebesar ini berapa duit ya yang caleg itu harus keluarkan?”
Istri saya menyahut, tapi agak menyimpang dari pernyataan saya. “Waduh, sayang sekali punya kolesterol!”
Rasanya penat dua hari sejak 17-18 Nopember kemarin akhirnya terbayar lunas sudah. Pada saat pembukaan Indodefence 2008, 19 Nopember 2008, di Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta, aplikasi Display System yang merupakan muara dari Integrated Maritime Surveillance System (IMSS) yang kami pasang di sebuah institusi militer bisa menampilkan data pergerakan kapal di Selat Malaka, khususnya Pangkalan Susu dan Tanjung Balai Asahan. Secara live!
Istri saya semalam menceritakan — tetapi mungkin sebenarnya sudah lama dikembangkan orang, hanya kita tidak tahu — bahwa dengan nanoteknologi deteksi seseorang sedang terkena kanker paru-paru atau tidak bisa dilakukan hanya dengan memeriksa nafasnya! Wow! Kalau dipikir-pikir sih mungkin ada benarnya. Karena kita toh juga sudah bisa menduga seseorang itu ada masalah di lambung dengan mencium bau tak sedang yang keluar dari mulutnya ketika berbicara. Ketika nafas kita diperiksa dengan mikroskop berskala nano, partikel-partikel yang terkandung di dalamnya barangkali membawa tanda-tanda yang bisa diidentifikasi sebagai bawaan penyakit kanker paru-paru.
… bahwa sebenarnya zona refleksi itu terdapat di seluruh tubuh. Tetapi lazimnya terdapat di kaki dan tangan, terutama pada telapaknya. Zona refleksi ini merupakan titik-titik pusat urat syaraf, dimana titik-titik itu berkaitan erat dengan organ-organ tubuh tertentu.
Orangnya — tak seperti bidang yang digelutinya, matematika—ternyata luwes dan humoris. Mungkin matematika telah mengajarinya sedemikian rupa bahwa ada yang lebih baik ketimbang menjadi “killer”. Apalagi ia suka bersastra dan sering mengutip pendapat Sofia Vasilyevna Kovalevskaya (1850-1891), matematikawan plus penyair Rusia perumus teorema Cauchy-Kovalevsky, bahwa “It is impossible to be a mathematician without being a poet in soul.” Ditambah dengan rambut jegraknya –yang kaku ke depan seperti bulu landak – justru semakin menghilangkan kesan kekakuannya dan menambah sisi-sisi humorisnya. (Tapi kini rambutnya sudah disisir menyamping kelihatannya ~red)