rumah berbagi para pencari hikmah
Sejak penampilannya di Pesta Blogger 2009 Oktober lalu, saya tak pernah mendengar berita lagi tentang Prita Mulyasari. Saya menduga kasusnya sudah selesai, begitu ia dibebaskan setelah mendekam 21 hari di tahanan. Karena toh kasus BLBI yang trilyunan rupiah pun, yang dulu sempat heboh, kini juga sudah tidak ada kabarnya lagi.
Tetapi rupanya saya salah sangka.
Hari ini, saya terpaksa menunda keberangkatan ke kantor barang sebentar karena Minah. Ia seorang nenek beranak tujuh dengan belasan cucu. Dari raut mukanya ia tampak lebih tua dari usianya yang 55 tahun. Dan darah jurnalistik saya memaksa saya duduk dulu merangkai kata untuknya (halah!)
Tanggal 2 Agustus yang lalu, warga Dusun Sidoharjo Desa Darmakradenan Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas itu memanen kedelai di lahan garapannya. Lahan yang dia garap kebetulan sedang dikelola oleh PT Rumpun Sari Antan (RSA) untuk tanaman kakao. Selanjutnya, inilah cerita Republika yang saya baca pagi ini sembari menikmati kopi radix buatan istri.
Apa kata peribahasa tentang Cicak dan Buaya, sebelum perseteruan antara keduanya kian merebak akhir-akhir ini?
Buat saya, peribahasa, kutipan, pepatah, kata bijak, atau apalah namanya, sedikit banyak, merupakan kristalisasi dari nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Ia dibentuk sekian lama, lebih lama dari usia rata-rata kita. Boleh jadi kata-kata itu bernada penuh pelecehan dan sarkastis. Boleh jadi kata-kata peribahasa itu serupa lelucon saja. Boleh jadi kata-kata peribahasa itu mengandung nasihat akan budi pekerti yang luhur. Tetapi yang jelas, di sebaliknya terkandung makna, yang seringkali dalam, karena “kebenarannya” sudah dibuktikan secara empiris oleh sejarah itu sendiri.
Inilah konsekuensi yang harus kami tanggung ketika memutuskan di rumah tidak perlu memutar siaran TV. Ketika lebaran kemarin di rumah mertua di Bangkalan, hampir seharian Ais dan kedua adiknya (yang pada masa kecil mereka sempat melihat TV sebelum kemudian kami buang antenanya, lalu kini saya singkirkan sama sekali dari rumah) duduk mematung di depan TV kakeknya. Tentu saja kakeknya dengan senang hati merelakan TV, tempat, dan waktunya untuk cucu-cucunya. Sementara saya dan ibunya anak-anak terbaring sakit, maka lengkaplah ‘kebahagiaan’ Ais dan adik-adiknya menghabiskan waktunya seharian di depan kotak opera sabun itu.
Ada yang kemudian menarik perhatian saya ketika mereka sedang menyaksikan film kartun. Sebenarnya film kartun anak-anak kita saat ini isinya apa sih? Pada saat itu, di saluran GlobalTV sedang diputar serial Tak and The Power of Juju. Sebuah kartun yang diangkat dari video game untuk Play Station. Cerita ini lalu diadaptasi ke dalam film animasi televisi oleh Nickelodeon dan Nicktoons Network pada 2007.
[Catatan Ramadhan 1430 H #5]
Ini kedua kalinya saya masuk ke Terminal 3 di Bandara Sukarno-Hatta yang baru dibangun sebagai prototipe bandara ramah lingkungan. Setelah diperiksa agak ketat (semua karena ulah si Noordin M. Top!) saya langsung menuju konter 17, tempat check-in Mandala Air.
Beberapa orang penumpang sedang antri. Sambil menunggu antrian, saya seperti biasa memperhatikan sekeliling. Ada yang menarik perhatian rupanya. Ya, tampilan monitor petunjuk check-in di masing-masing konter. Monitor 32 inch itu menampilkan informasi tentang maskapai penerbangan, nomor penerbangan, tujuan, jam berapa check-in dibuka, jam berapa check-in ditutup, dan jam berapa sekarang (current time).
Sebuah prasasti pada 17 Agustus 2009 terukir.
Bangun kesiangan! Jam enam telah lewat! Pesawat take-off jam 07.50 dari Juanda. Hanya tersisa setengah jam untuk segalanya: mandi, makan, persiapan tas, baju-baju, jas, batik, tiket, ….
Setelah mengurusi Malam Tasyakuran HUT Ke-64 RI di kampung (ketua panitia dadakan!), mengajak panitia makan-makan di Warung Gubeng Pojok, dan langsung dilanjutkan menggendong Afa yang sedang rewel karena bangun tidur jam 11 malam, barulah saya bisa tidur pukul 03.00 pagi di samping malaikat kecil itu. Jadilah mata masih mengantuk ketika ngebut ke bandara pagi itu. Tetapi, syukurlah! Tuhan masih memberi kesempatan check-in sesaat sebelum panggilan boarding tiba.
Dan perjalanan perdana ke Manado pun dimulai dengan beberapa barang tercecer tak sempat terbawa: dasi, sikat gigi, odol, sabun, pisau cukur, kemeja untuk setelan jas ….
Pengalaman online pertama saya dimulai dengan kepura-puraan. Bahkan sebagiannya dusta.
Saya masih ingat betul. Kala itu bulan Juni 1997. Kantor tempat saya bekerja sejak mahasiswa semester V sedang pindahan dari Tenggilis Utara ke Pondok Nirwana, sebuah kawasan perumahan baru di wilayah Surabaya Timur. Sebagai perusahaan penyedia solusi di bidang IT (Information Technology), kantor saya, Infoglobal, selalu berusaha mengikuti perkembangan teknologi terkini di bidang ini. Bahkan sering mencoba dan paling awal mengadopsi berbagai teknologi terbaru yang muncul. Boleh dibilang, kantor kami termasuk early adapter. Termasuk internet yang sedang ngetrend saat itu. Alhamdulillah, saya termasuk salah seorang yang beruntung bisa menikmati booming teknologi itu mula pertama melalui fasilitas yang disediakan di kantor sejak sekitar 1993-1994.
Namun demikian, saya sendiri baru benar-benar merasa “online” di internet seperti maksud istilah on-line yang menurut Kamus Merriam-Webster sebagai “connected to a computer or telecommunication system” adalah ketika pertama kali mencoba fasilitas fenomenal itu: chatting. Anda pun pasti familiar dengannya. Saya mengenalnya untuk kali pertama sejak kepindahan kantor pada Juni 12 tahun lalu itu.
Istilah chatting tentu berasal dari kata “chat” (Inggris), yang berarti “obrolan” atau “bertemu untuk mengobrol”. Kamus Webster menjelaskannya sebagai “to talk in an informal or familiar manner”; bercakap-cakap secara informal alias ngobrol juga. Chatting atau disebut juga online chat karena itu biasanya merujuk pada aktivitas mengobrol di internet dengan cara berhadapan secara langsung lewat secara virtual seorang dengan seorang atau dalam sebuah grup chatting bersama dengan beberapa orang menggunakan aplikasi online chat.
Posting ini meneruskan pembicaraan Mas Nizar tentang neoliberalisme beberapa waktu lalu. Jika yang dimaksud dengan neoliberalisme adalah liberalisme beradab melalui dunia pasar yang non-komoditas, lantas bagaimana kita tahu seseorang itu menganut paham neoliberalisme atau tidak?
Di tengah-tengah gencarnya isu tentang neoliberalisme yang bergulir diantara panasnya kampanye capres-cawapres 2009-2014, kita membaca dan mendengar berita di berbagai media massa dan elektronik tentang masuknya pengusaha Israel dalam kepemilikan saham ritel raksasa Carrefour SA. Tidak tanggung-tanggung! Dengan suntikan dana tak kurang dari US$ 886 juta (sekitar Rp 8,8 trilyun), kini Koors Industries Ltd menguasai saham 3% pada perusahaan ritel terbesar kedua di dunia itu. Hal mana ini menempatkan perusahaan milik investor asal Israel, Nochi Dankner, itu sebagai pemegang saham terbesar kedua setelah Blue Capital yang menguasai Carrefour 14% saham.
Apa hubungan masuknya investor Israel ke Carrefour dengan neolib?
Hubungannya terjalin pada saat diskusi tentang Kondisi Terkini Peta Perpolitikan Tanah Air Menjelang Pilpres pada acara Multaqo Sanawy Persyarikatan Dakwah Al-Haramain hari Ahad lalu, tanggal 28 Juni di Tulungagung. Pada saat itu ada 2 orang menjadi nara sumber: Amal Witono Hadi, dosen dari Jakarta dan Nizarul Alim, ketua lembaga penelitian Universitas Trunojoyo, Bangkalan, Madura. Keduanya teman saya.
Ada satu ungkapan yang menarik perhatian saya pada acara tasyakur dan orasi ilmiah Dr. Adian Husaini di aula SD Integral Luqmanul Hakim PP Hidayatullah, Kejawan Putih Tambak Surabaya pada hari Sabtu, 2 Mei 2009 kemarin. Mengutip kata-kata Muhammad Asad (a.k.a. Leopold Weiss) dalam bukunya Islam at the Crossroads (Islam di Persimpangan Jalan), Mas Adian — yang baru saja mendapatkan gelar doktor bidang peradaban Islam dari ISTAC-IIUM itu — menyatakan,
“Tidak ada satu peradaban dapat menjadi makmur, ataupun hidup, sesudah kehilangan kebanggaan terhadap peradaban itu dan sesudah kehilangan hubungan dengan masa lalunya sendiri.”
Dari pernyataan ini, ada 2 hal yang menjadi kunci makmur dan hidupnya sebuah peradaban. Pertama, kebanggaan umat terhadap peradaban itu sendiri. Dan yang kedua, keterhubungan peradaban itu dengan masa lalunya.