Suri-Tauladan Category

Mulut besarKemanakah lagi kita hendak berlari, jika semua pintu telah rapat terkunci?

Mengingat kembali kedalaman arti dari sepenggal ayat ini membuat gemetar jemari ini ketika menuliskannya ke dalam rangkaian kata. Apalagi jika membayangkan apa yang nanti bakal terjadi, ketika lisan ini kelak terkunci, hanya kaki dan tangan bersaksi terhadap apa saja yang pernah terjadi sepanjang hidup, terhadap segala ucapan yang telah terucap. Kesaksian yang seadil-adil kesaksian. Kesaksian yang mustahil ditutup-tutupi, apalagi didustakan. Kesaksian yang sungguh paripurna.

Andai satu ayat ini bisa kita pegang erat, mungkin terpegang pula tiket masuk dengan selamat ke taman akhirat.

Pahlawan Sejati di Ujung Dunia

In: Inspirasi, Suri-Tauladan

Sebuah kunjungan akan sangat menarik buat mereka yang hobi berpetualang. Bahkan sebagiannya menjadi tantangan, apalagi jika kunjungan itu ke tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya. Debarnya seperti mendatangi copy darat dengan ‘teman dekat’ yang hanya kau kenal lewat facebook. Kau hanya tahu sekilas paras wajahnya dari gambar yang ia tempelkan di profilnya; gambar yang berusaha kau yakini sebagai dan sebaik aslinya.

Tetapi kunjungan saya kali ini jauh dari menarik, apalagi penuh tantangan. Bukan kunjungan ke Fes di Maroko atau Bukhara di Asia Tengah; dua tempat dari ribuan tempat yang saya mimpikan untuk saya kunjungi suatu saat. Bukan pula sebuah kunjungan wisata, meski kedua tempat itu dekat dengan pantai. Ya. Saya berkunjung ke Sinaboi di ujung Rokan Hilir, di atas Bagan Siapi-api dan Muntai di ujung Pulau Bengkalis yang sepi. Dua tempat yang telah pernah saya kunjungi 3-4 tahun yang lalu. Dan keduanya pun untuk sebuah kunjungan … inspeksi pekerjaan.

Detik demi detik berlalu. Waktu seperti beringsut sedemikian pelahan. Bisa mematikan itu pun mengalir memasuki setiap lekuk tubuhnya yang bisa dijangkau. Sakit menggigit. Perih merambat hingga ke ulu hati. Kakinya pun kebas dan ngilu seperti kehabisan darah. Namun, lelaki itu tak bergerak sedikitpun demi melihat Rasulullah saw. tidur dengan nyenyak di pangkuannya. Tiba-tiba tanpa terasa air matanya mengembang karena tak kuat menahan sakit, luruh satu demi satu melewati pipinya, lalu menetes dan memercik pada raut muka Baginda Nabi di pangkuannya.

Lelaki kinasih itupun terkejut. Ia pun terbangun. Rintih lembut dan isak tertahan itu kini terdengar di telinganya. “Mengapa engkau menangis, wahai Abu Bakar?” tanyanya penuh keheranan.

Abu Bakar menjawab dengan suara tertahan, “Aku… aku digigit ular, ya Rasulullah!”

“Oh, mengapa engkau tidak mengatakannya padaku?” tanya Rasulullah sungguh.

Lelaki itu sejenak terdiam. Ia lantas menjawab, “Aku takut membangunkan engkau.”

Bagi teman-teman atau para pengunjung blog sederhana ini yang memerlukan naskah untuk mengisi Khutbah Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah 1430 H ini (insyaAllah Jum’at, 27 November 2009) bisa memanfaatkan naskah khutbah yang saya siapkan ini — tentu saja jika topik yang dibahas sesuai dan berkenan di hati Anda.

Tinggal dicetak dan dibaca saat khutbah. Naskah bisa diunduh secara gratis di sini. Terima kasih untuk GoogleDocs untuk fasilitas yang disediakan.

Semoga bermanfaat untuk Anda semua yang memerlukan. Amin.

Bahtiar HS

Ada analogi yang saya tak tahu apakah itu hasil othak-athik-gathuk atau memang sebenar analogi. Ust. Ma’ruf Islamudin pada ceramah di sebuah radio swasta di Surabaya beberapa hari yang lalu pernah menyampaikan bahwa “syukur” itu artinya “terima kasih”. Terima. Kasih. Terima (ustadz Ma’ruf kedengarannya sedang mempraktekkan menerima sesuatu), lalu Kasih (diberikannya sesuatu pada orang lain). Terima. Kasih. Setelah menerima, lalu jangan lupa ngasih (ada nggak ya bahasa Indonesia untuk “mengasih”?) pada yang lain. Jadi, syukur itu tak sekedar menerima, tetapi juga mengimplementasikannya dengan berbagi pada orang lain.

Pagi ini saya mendapatkan kado istimewa di bulan Ramadhan. Mas Choirul Anwar, Division Head dari Inti Medina Publishing, grup Tiga Serangkai, mengirimkan kado itu via email ke alamat saya. Setelah menanyakan kabar, ia menulis:

Naskah Doa dan Bungkusan yang Ruwet, insya Allah akan diterbitkan. Untuk itu, jika suatu saat nanti ada editor saya minta untuk merevisi atau menambah halaman (jika diperlukan), saya mohon kesediaan Mas Bahtiar untuk meluangkan waktu dan kerja samanya. Demikian Mas Bahtiar, semoga silaturrahmi ini tidak terputus, amin.

[Catatan Ramadhan 1430 H #6]

Islam sungguh ibarat intan berlian. Dari setiap lekuk kristalnya tidaklah memancar kecuali binar keindahan, yang semakin menunjukkan bahwa ia sungguh tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya (ya’lu wa laa yu’la ‘alaih). Jika masuk ke WC saja ada adab-nya dengan doa ketika masuk dan keluar maupun sopan-santun selama di dalamnya, apatah lagi untuk urusan-urusan yang lebih besar lainnya.

Hadits yang dibaca Ust. Suherman Rosyidi Senin ba’da shubuh Senin kemarin meneguhkan hal itu. Hadits itu berbicara tentang keutamaan salaf. Berikut redaksionalnya:

اِنَّ السَّلَفَ يَجْرِي مَجْرَى شَطْرِ الصَّدَقَةِ

Sesungguhnya salaf itu merupakan sebagian dari sedekah.

Belajar Dari Hati Yang Gelisah

In: Suri-Tauladan

Kamar 32, Hotel Merdeka, Jember, 29 Maret 2009.

Kecipak air di kamar mandi membangunkan saya pagi itu. Suasana masih senyap. Di kejauhan juga belum terdengar aneka suara. Lalu kamar mandi pun terbuka dan Pak Budi keluar dari dalamnya dengan mukanya terguyur air wudhu.

“Sudah Shubuh atau belum ya, Pak Bahtiar?” tanyanya pada saya yang masih meringkuk.

Saya melirik jam. “Belum, Pak,” jawab saya. “Mungkin sebentar lagi. Tarhim saja belum.”

Pak Budi mengenakan sarung dan kemejanya, lalu berbaring di tempat tidurnya. Tetapi saya tahu, ia tidak hendak tidur.

Yang Selemah-lemah Iman

In: Inspirasi, Kultum, Suri-Tauladan

Ada sebuah hadits yang sangat masyhur terkait dengan kewajiban nahi munkar. Hadits tersebut shahih dan diriwayatkan oleh Imam Muslim. Imam Nawawi pun memasukkannya sebagai salah satu dari 40 hadits dalam Arba’in beliau. Berbagai artikel dan dalam banyak bahasan selalu hadits ini diartikan nyaris sama.

Hadits dimaksud adalah seperti di bawah ini:

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ - رواه مسلم

Abu Sa’id Al-Khudri r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah shollallôhu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Barang siapa diantaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya. Dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” ~ H.R. Muslim

Dari hadits ini, yang dimaksud dengan selemah-lemah iman adalah mereka yang hanya mampu berdoa ketika mengetahui sebuah kemungkaran di depan matanya.

Ibu, Aku Tak Menangis

In: Inspirasi, Suri-Tauladan

Rasa haru menyelinap hati ketika membaca satu posting di blog dr. Yusuf Suseno. Beliau membuka posting itu dengan sebait puisi:

Lihat, Bu, aku tak menangis
sebab aku bisa terbang sendiri dengan sayap ke langit
~ Subagio Sastrowardojo

Bahtiar HS

Engineer, pembaca, penulis, pencinta ilmu. Suami dari seorang istri dan Ayah dari 6 orang malaikat kecil.


Jajak Pendapat

Sorry, there are no polls available at the moment.

Ikuti posting terbaru

Tulis email Anda:

delivered by FeedBurner

Hari ini

Kalender Posting

March 2010
M T W T F S S
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Bahtiar Bergerak


Internet Sehat

Blog Bahtiar

Flickr Bahtiar

39_sitou38_sicakep337_sicakep236_sicakep35_naskun34_beer33_anker32_kbgapi31_anker

Statistics

Sejak 17 Sep 2008

Chatting