rumah berbagi para pencari hikmah
(Catatan Ramadhan 1431H #8)
Ceramah shubuh pagi ini telah usai. Jamaah bergegas membubarkan diri. Saya pun turun dari lantai dua, mencari-cari sandal saya, mengenakannya, dan melangkah pergi.
Orang-orang semburat. Ada yang mengarah ke gang sempit samping masjid. Ada yang menyusuri jalan kampung lebih ke dalam lagi. Ada pula yang berjalan ke arah jalan raya Jendral S. Parman Cempaka Putih. Dan sudah berkali shubuh saya datang ke masjid ini, kiranya hanya saya sendiri sajalah yang datang dari lingkungan apartemen elit itu dan masuk ke masjid kampung ini.
Saya tersentak. Buru-buru membaca berkali istighfar. Betapa hanya dalam sekejap bersit kesombongan itu muncul seperti kilat di hati ini. Plass!! Sedetik saja. Tetapi syetan telah memanfaatkannya begitu rupa.
Saya pun menghentikan langkah. Sejenak tertegun. Menunduk dalam-dalam. Betapa rapuhnya diri ini! Betapa benteng yang telah saya bangun dalam 15 hari selama ramadhan ini runtuh hanya dalam sekali tepuk tangan syetan. Roboh dalam sekali tiupan syetan dalam dada ini.
Dengan gontai saya melanjutkan langkah. Menuju pintu gerbang samping apartemen yang dibuka sejak sahur. Dan … saya sekelebat melihat sosok seorang jamaah shubuh yang juga melewati pintu itu dalam jarak lima belas langkah di depan saya.
(Catatan Ramadhan 1431H #7)
Setelah makan sahur penuh kolesterol — setidaknya demikianlah komentar istri tercinta saat membangunkan saya via telepon begitu mengetahui saya menyebut “bebek goreng” yang saya siapkan sejak semalam sebagai menu sahur — saya keluar dari sangkar raksasa bernama apartemen ini untuk menuju masjid kampung yang terletak persis di sampingnya. Shalat shubuh berjamaah seperti mendapatkan dorongan energi ekstra yang luar biasa pada bulan ramadhan begini meski harus menembus jalan yang cukup jauh dan gelap. Tetapi itu semua tak sebanding seinchi pun dengan Abdullah bin Umi Maktum, yang sekalipun buta, jauh rumahnya, serta tak memiliki penuntun rela tertatih-tatih menuju masjid begitu mendengar adzan.
Setelah shalat, sekitar jam 5 pagi, tampil seorang mubaligh mengisi kuliah shubuh. Tetapi tidak seperti penceramah hari-hari kemarin, mubaligh kali ini tampak terlalu banyak mengulang kata-kata, banyak menceritakan pengalaman dirinya sendiri, dan tutur kata serta cara penyampaian yang kurang menarik. Setidaknya begitulah penilaian saya.
Saya coba bertahan barang sebentar, siapa tahu hanya pembukaannya saja yang kurang menarik. Tetapi lima menit, sepuluh menit berlalu, namun belum ada pembicaraannya yang bisa menarik minat saya. Ibaratnya cerpen begitu, pembukaan ceramah beliau tidak “eye catching”. Padahal, menurut saya, ceramah — sebagaimana cerpen — itu seperti pacuan kuda. Start dan endingnya adalah bagian yang paling menentukan.
(Catatan Ramadhan 1431H #3)
Jam satu siang.
Jum’atan baru saja usai. Segelas jus guava dan buku “Nights in Rodanthe” karya Nicholas Spark –masih dalam bungkus plastik– di tangan. Teman duduk perjalanan pulang ini.
Jakarta seperti terbakar di tiap sudutnya siang itu. Saya harus mengejar pesawat jam tiga sore lewat seperempat take-off dari Soekarno-Hatta. Dua jam dari kawasan Kuningan ke bandara internasional itu sekarang terasa telah membuat terburu. Tak lagi cukup satu jam seperti dulu. Ibarat penyakit, kemacetan Jakarta sudah naik ke stadium yang lebih akut dan celakanya nyaris tanpa terapi.
Setelah agak susah mendapatkan taksi kosong, akhirnya saya mendapatkan sebuah Blue Bird. Taksi langganan. Saya membuka pintu, menaruh tas di jok belakang, duduk, lalu menyebut tujuan. Anak muda, sopir taksi itu, mengangguk sopan. Rasuna Said, Casablanca, dan Sudirman tampak mulai macet. Maklum, hari Jumat. Hari orang-orang pulang kampung, meninggalkan pikuk Jakarta untuk sementara, seperti saya.
Tulisan ini dan beberapa tulisan lain sebenarnya saya persiapkan untuk Kompasiana Blogging Day kemarin (29 Juli 2010). Tapi karena server kompasiana ngadat, saya tak bisa mempostingnya pada rentang waktu lomba yang ditetapkan (14.00 - 15.40). Kelihatannya, ratusan peserta yang lain mengalami hal yang sama. Bahkan Admin Kompasiana sampai minta maaf segala.
Tak apalah. Kalaupun tak sempat diikutkan lomba, tulisan ini masih bisa saya posting di blog sederhana ini. Untuk siapa lagi kalau bukan untuk Anda? Semoga bermanfaat. Kayaknya bakal berseri tulisan tentang tokoh ini. Semoga banyak yang bisa saya ingat dan ceritakan kembali.
***
Shubuh baru saja usai. Kokok ayam sudah nyaris tak terdengar karena malu pada matahari yang sinarnya telah menghangatkan bumi. Suasana sekitar pondok Gontor Putri, Mantingan, Ngawi, mulai ramai dengan aktivitas para santri dan wali santri yang datang berkunjung menjenguk putra-putri mereka karena sedang libur panjang Waisak.
Seorang ibu setengah baya pagi itu pun mulai bergerak. Keranjang besar ia letakkan di pinggangnya. Ia telusuri setiap sudut, dari satu tempat sampah ke tempat sampah yang lain. Tangannya cekatan mengorek dan memilah barang yang teronggok di setiap tempat dan mengambil yang masih bisa dimanfaatkan. Botol plastik minuman kemasan, misalnya.
Pak KH berdiri mematung di tempatnya seperti mengalami de javu. Ya. Ibu itu kerap dijumpainya setiap kali mengunjungi putrinya di pondok modern ini. Ibu yang sama, dengan keranjang di pinggang yang sama, aktivitas yang sama, di waktu pagi yang sama. Tetapi entah mengapa, hari itu, wali santri itu tergerak melakukan hal yang berbeda.
Alhamdulillah, di tengah kondisi sedang ‘drop’ mengisi blog ini, pompaan semangat itu datang. Ya, bayi saya ke-2 telah lahir. Setelah Jejak-jejak Surga Sang Nabi (LPPH, 2008), kini 20 Tahun Mencari Keadilan (Inti Medina, 2010).
Alhamdulillah.
Dua tahun, satu buku. Produktivitas yang payah, ya? Tetapi tetap saya syukuri, dengan sangat bahkan. Ketimbang tidak punya karya sama sekali, tentu saja. Tahun ini, 2010, insyaAllah akan saya balik. Sebagai target. Satu tahun, dua buku. Naik 400%! Target kenaikan produktivitas yang tinggi sekali, bukan? Meski dibandingkan dengan Mas Ali Muakhir, yang bukunya lebih dari 300 judul, ya saya hanyalah debu.
Berarti, target saya tinggal satu buku lagi tahun ini.
Alhamdulillah, inilah cover “calon” buku saya kedua. Diterbitkan oleh Inti Medina, lini penerbitan Tiga Serangkai Group. Sedang dalam proses cetak, kabarnya. Semoga dalam waktu dekat sudah bisa beredar.
Kemanakah lagi kita hendak berlari, jika semua pintu telah rapat terkunci?
Mengingat kembali kedalaman arti dari sepenggal ayat ini membuat gemetar jemari ini ketika menuliskannya ke dalam rangkaian kata. Apalagi jika membayangkan apa yang nanti bakal terjadi, ketika lisan ini kelak terkunci, hanya kaki dan tangan bersaksi terhadap apa saja yang pernah terjadi sepanjang hidup, terhadap segala ucapan yang telah terucap. Kesaksian yang seadil-adil kesaksian. Kesaksian yang mustahil ditutup-tutupi, apalagi didustakan. Kesaksian yang sungguh paripurna.
Andai satu ayat ini bisa kita pegang erat, mungkin terpegang pula tiket masuk dengan selamat ke taman akhirat.
Sebuah kunjungan akan sangat menarik buat mereka yang hobi berpetualang. Bahkan sebagiannya menjadi tantangan, apalagi jika kunjungan itu ke tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya. Debarnya seperti mendatangi copy darat dengan ‘teman dekat’ yang hanya kau kenal lewat facebook. Kau hanya tahu sekilas paras wajahnya dari gambar yang ia tempelkan di profilnya; gambar yang berusaha kau yakini sebagai dan sebaik aslinya.
Tetapi kunjungan saya kali ini jauh dari menarik, apalagi penuh tantangan. Bukan kunjungan ke Fes di Maroko atau Bukhara di Asia Tengah; dua tempat dari ribuan tempat yang saya mimpikan untuk saya kunjungi suatu saat. Bukan pula sebuah kunjungan wisata, meski kedua tempat itu dekat dengan pantai. Ya. Saya berkunjung ke Sinaboi di ujung Rokan Hilir, di atas Bagan Siapi-api dan Muntai di ujung Pulau Bengkalis yang sepi. Dua tempat yang telah pernah saya kunjungi 3-4 tahun yang lalu. Dan keduanya pun untuk sebuah kunjungan … inspeksi pekerjaan.
Detik demi detik berlalu. Waktu seperti beringsut sedemikian pelahan. Bisa mematikan itu pun mengalir memasuki setiap lekuk tubuhnya yang bisa dijangkau. Sakit menggigit. Perih merambat hingga ke ulu hati. Kakinya pun kebas dan ngilu seperti kehabisan darah. Namun, lelaki itu tak bergerak sedikitpun demi melihat Rasulullah saw. tidur dengan nyenyak di pangkuannya. Tiba-tiba tanpa terasa air matanya mengembang karena tak kuat menahan sakit, luruh satu demi satu melewati pipinya, lalu menetes dan memercik pada raut muka Baginda Nabi di pangkuannya.
Lelaki kinasih itupun terkejut. Ia pun terbangun. Rintih lembut dan isak tertahan itu kini terdengar di telinganya. “Mengapa engkau menangis, wahai Abu Bakar?” tanyanya penuh keheranan.
Abu Bakar menjawab dengan suara tertahan, “Aku… aku digigit ular, ya Rasulullah!”
“Oh, mengapa engkau tidak mengatakannya padaku?” tanya Rasulullah sungguh.
Lelaki itu sejenak terdiam. Ia lantas menjawab, “Aku takut membangunkan engkau.”