Tokoh Category

BISA! Kenapa Tak Bisa?

In: Aceminda, Inspirasi, Suri-Tauladan, Tokoh

Uncle MTulisan ini dan beberapa tulisan lain sebenarnya saya persiapkan untuk Kompasiana Blogging Day kemarin (29 Juli 2010). Tapi karena server kompasiana ngadat, saya tak bisa mempostingnya pada rentang waktu lomba yang ditetapkan (14.00 - 15.40). Kelihatannya, ratusan peserta yang lain mengalami hal yang sama. Bahkan Admin Kompasiana sampai minta maaf segala.

Tak apalah. Kalaupun tak sempat diikutkan lomba, tulisan ini masih bisa saya posting di blog sederhana ini. Untuk siapa lagi kalau bukan untuk Anda? Semoga bermanfaat. Kayaknya bakal berseri tulisan tentang tokoh ini. Semoga banyak yang bisa saya ingat dan ceritakan kembali.

***

Tribute to Erich Segal

In: Breaking News, Inspirasi, Quote, Tokoh

erich segalPagi ini saya dikagetkan dengan sebuah kabar yang “jelek” secara pribadi buat saya. Kejutan Selasa pagi yang sudah sangat terlambat. Prizes (”Hadiah Nobel”, Gramedia Pustaka Utama, 1996) baru saya baca ulang untuk kedua atau tiga kalinya sambil naik taksi dari apartemen Cempaka Emas ke kantor Kuningan atau ke kantor klien di bilangan Sudirman Jakarta — dan kini baru sampai di halaman 493 dari 596 — ketika saya tahu dari googling bahwa ternyata Erich Segal telah meninggal dunia awal 2010 lalu. New York Times online menulis beritanya tepat pada saat ia meninggal, 19 Januari 2010.

Bumi Hangus, Rendra, dan Palestina

In: Breaking News, Inspirasi, Tokoh

kenIni masih ada sangkut pautnya dengan acara Tribute to WS. Rendra pada Selasa, 15 Juni yang lalu di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail. Malam itu, Ken Zuraida, istri almarhum WS. Rendra, sempat membacakan dua puisi Si Burung Merak. Dua puisi itu berjudul “Bumi Hangus” dan “Stanza” yang terkenal itu.

Setelah berdendang seperti tembang Jawa yang saya agak tak bisa menangkap maknanya, Ken lalu berhenti sejenak dan berkata, “Saya akan membacakan puisi yang ditulis oleh seorang anak usia 16 tahun — umur Rendra ketika menulis puisi itu (red) — yang mungkin ada relevansinya dengan apa yang tengah terjadi di Palestina hari ini.” Lalu Ken Zuraida terhanyut dalam puisi ini:

City of VictoriaCity of Victoria, 15 Oktober 1906.

Sun Wen — demikian ia disebut — akan datang dengan sebuah kapal dari balik lautan, merapat ke dermaga kota itu, dibawa ke sebuah tempat yang telah disiapkan, dan bertemu dengan 13 perwakilan kelompok pendukung perubahan. Diperlukan waktu hanya satu jam saja untuk pertemuan itu. Enam puluh menit. Tidak lebih. Tetapi, dalam kesempatan sesingkat itu masa depan sebuah bangsa akan dipertaruhkan.

Bagi teman-teman atau para pengunjung blog sederhana ini yang memerlukan naskah untuk mengisi Khutbah Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah 1430 H ini (insyaAllah Jum’at, 27 November 2009) bisa memanfaatkan naskah khutbah yang saya siapkan ini — tentu saja jika topik yang dibahas sesuai dan berkenan di hati Anda.

Tinggal dicetak dan dibaca saat khutbah. Naskah bisa diunduh secara gratis di sini. Terima kasih untuk GoogleDocs untuk fasilitas yang disediakan.

Semoga bermanfaat untuk Anda semua yang memerlukan. Amin.

Bahtiar HS

Death never takes the wise man by surprise; He is always ready to go.
~Jean de La Fontaine

Si Rambut Gimbal, Si “I Love You Full”, Si “Tak Gendong Ke Mana-mana”, Si “Bangun Tidur Tidur Lagi”, ya Mbah Surip itu kini sudah tiada. Meski namanya Urip Ahmad Riyanto (’urip’ dalam bahasa Jawa berarti ‘hidup’), tetapi jika ajal telah sampai, tak seorang pun kan bisa lari darinya. Kemarin, 4 Agustus 2009 sekitar jam 10.30, Mbah Surip telah tiada.

Sehari Semalam Bersama Mas Anis Malik Thoha

In: Tokoh

Dr. Anis Malik ThohaSebenarnya sudah terlalu siang bagi saya pada Sabtu, 27 Juni yang lalu, untuk berangkat ke Tulungagung. Sebab acara itu dibuka sehabis zhuhur. Sementara penerimaan raport Ais dan Fia, anak saya, di SD Kreatif hari itu baru akan selesai menjelang adzan zhuhur. Dan perjalanan ke kota marmer itu akan menjadi semakin molor dan jauh jaraknya, ketika dr. Abdul Ghofir, direktur INPAS itu, menelepon dan meminta tolong saya untuk menjemput Dr. Anis Malik Thoha yang sedang berada di Universitas Brawijaya Malang. “Beliau mau mengisi acara di tulungagung, iso tho sampean mampir Malang dhisik?” pintanya di telepon.

Biasanya kita enggan molor atau bertambah jauh jarak untuk sampai ke sebuah tempat. Tetapi, tawaran molor dan jauh jarak kali ini justru menggembirakan saya. Jika selama ini hanya kenal nama, insyaAllah kini saya justru akan seperjalanan dengan Mas Anis, asisten profesor pada Department of Ushuluddin and Comparative Religion, International Islamic University Malaysia (IIUM) itu. Maka saya menyambut permintaan Mas Ghofir itu dengan penuh suka-cita, meski harus menembus Porong yang macet dan menyempal ke arah Malang, menjauhi jalan biasanya dari Surabaya menuju Tulungagung.

Orangnya ternyata ramah dan rendah hati — sebetulnya saya sudah menduganya seperti foto dirinya yang sederhana. Rada ndesani dan njawani. Pantas saja, karena ia kelahiran Demak, Jawa Tengah — karena itu saya kerap pakai bahasa Jawa berbincang dengannya — meski sekarang tinggal di Kuala Lumpur bersama keluarga karena mengajar di IIUM. Bahkan beliau dipercaya sebagai Deputy Dean (mungkin setingkat Wakil Dekan) di departemen Ushuludin dan Perbandingan Agama itu.

Rasulullah Muhammad saw.Al-Qur’an selalu saja memuat ayat-ayat yang apabila dikaji benar-benar mengandung makna yang luar biasa. Ini tidaklah mengherankan karena diturunkan dari Dia Yang Maha Sempurna melalui rasul-Nya, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam.

Ada satu ayat yang bagi saya sangat dalam maknanya, terkait dengan pujian Allah subhaanahu wata’aalaa terhadap Baginda Nabi shallallaahu ‘alahi wasallam. Ayat itu adalah Q.S. Al-Qalam: 4,

Q.S. Al-Qalam: 4

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Q.S. Al-Qalam: 4

Lelaki Yang Tak Kenal Lelah

In: Aceminda, Suri-Tauladan, Tokoh

Saya dan istri tak kuasa membendung tumpahan air mata sepanjang hari itu. Meski dalam diam, tetapi hati kami bicara. Betapa banyak kenangan bersama lelaki itu di rumah ini. Jika pagi, sehabis sholat shubuh di masjid kampung, kami sering berbincang di teras depan rumah dengan ditemani kopi ireng kesukaannya, serta pisang rebus. Sebuah perbincangan yang penuh nuansa ilmu. Tetapi, itu semua tak akan pernah dapat kami alami lagi. Karena Uncle M tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini.

Selamat jalan pejuang. Selamat jalan sahabatku, ayahku, guruku. Selamat jalan Uncle M. Semoga engkau mendapatkan sa’adah di akhirat seperti cita-citamu. Amin.

Bagi saya, Barack Obama identik dengan perubahan (change), tema yang diusungnya. Bahkan Obama adalah perubahan itu sendiri. Dia berkulit hitam. Dan sudah bertahun-tahun Amerika tidak memiliki presiden berkulit hitam. Maka, Obama tak ayal merupakan presiden berkulit hitam pertama Amerika.

Bahtiar HS

Engineer, pembaca, penulis, pencinta ilmu. Suami dari seorang istri dan Ayah dari 6 orang malaikat kecil.


Jajak Pendapat

Sorry, there are no polls available at the moment.

Ikuti posting terbaru

Tulis email Anda:

delivered by FeedBurner

Hari ini

Kalender Posting

September 2010
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Bahtiar Bergerak


Internet Sehat

Blog Bahtiar

Flickr Bahtiar

39_sitou38_sicakep337_sicakep236_sicakep35_naskun34_beer33_anker32_kbgapi31_anker

Statistics

Sejak 17 Sep 2008

Chatting