rumah berbagi para pencari hikmah
Romi memerah matanya. Gemeretak pula giginya. Betapa tidak? Laporan pekerjaan dari Budi, stafnya di kantor ini, belum juga ia terima hingga hari ini. Padahal, bersama dengan laporan yang lain, ia akan membuat resume untuk presentasi di Rapat Management esok hari.
Kemarahannya semakin memuncak ketika Budi ternyata tak ada khabarnya hingga sesiang ini. Tak ada telepon, minta [...]
Miskomunikasi adalah penyakit, bahkan mungkin menimpa setiap orang. Bukankah sangat sering kita temui hal-hal yang kita sampaikan kepada seseorang ditindaklanjuti dengan aksi atau reaksi yang melenceng dari apa yang sempat kita bayangkan. Kita menginginkan seseorang melakukan tindakan A, tetapi ia malah mengerjakan tindakan B. Semakin panjang rantai berita atau pesan yang tersampaikan, maka distorsi isi berita atau pesan itu akan semakin lebar.
Tampaknya menjadi penting untuk mempertimbangkan sudut pandang lain yang mungkin dibandingkan sudut pandang pribadi Anda sendiri. Hal ini tentu lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Apa susahnya sih mempertimbangkan sudut pandang seorang tunawisma pecandu narkoba? Anda akan dengan mudah berpikir bahwa orang itu pasti membutuhkan: rumah, bantuan, pengobatan, dan rehabilitasi. Kedengarannya masuk akal, bukan? Tetapi boleh jadi hal itu sangat jauh dari sudut pandang si tunawisma itu sendiri – yang mungkin hanya membutuhkan akses terhadap narkoba yang lebih mudah dan murah.
“Dalam mendidik anak,” lanjut Ayah setelah menceritakan tentang sapi ngamuk itu. “aku percaya dan berpegang pada falsafah Jawa ini. Nek kaku dadio pikulan, nek lemes dadio tali.” Kalau kaku jadilah alat pemikul, kalau lemas (tidak kaku, lentur) jadilah tali.
Maksudnya, dalam mendidik anak, kalau saatnya harus kaku, ya kaku, keras. Saatnya harus lemah-lembut, ya lemah-lembut. Tetapi keduanya (kaku atau lembut) haruslah tetap berguna. Ketika harus kaku menjadi pikulan (alat pemikul) sungguh tepat; karena pikulan berguna untuk memikul. Jika pikulan lemes, tidak akan bisa digunakan untuk memikul. Sedangkan ketika lemas menjadi tali juga tepat; karena tali berguna jika ia lemas atau lentur sehingga bisa dipakai mengikat sesuatu. Jika tali kaku, ia tentu tak bisa berfungsi sebagai tali, sehingga kekakuannya tak berguna.
Pagi tadi, saya membaca buku Pak Safir Senduk yang paling baru. “Karyawan Harus Nabung biar Makmur…!” Buku ini berisi kiat-kiat praktis tentang “Menabung dan Berinvestasi” bagi karyawan. Rasanya apa yang dibahan Pak Safir identik atau setidaknya senada dengan uraian khatib tarawih semalam. Karena tepat pada halaman 35, Pak Safir membahas mengapa orang tidak bisa menabung. Dan penyebab paling utama orang tidak bisa menabung adalah penghasilannya yang dirasa kecil atau pas-pasan.
Optimisme sering disalahartikan.
Ia bukanlah kecenderungan untuk percaya bahwa semuanya pasti berubah menjadi lebih baik. Bukan pula kemampuan untuk hanyut dalam kata-kata yang membangkitkan semangat – yang mengulang-ulang hal-hal positif dari diri kita. Persepsi semacam ini hanya akan mengarahkan kita pada jalan buntu, yang gagal ketika berhadapan dengan realitas.