rumah berbagi para pencari hikmah
Tulisan ini dan beberapa tulisan lain sebenarnya saya persiapkan untuk Kompasiana Blogging Day kemarin (29 Juli 2010). Tapi karena server kompasiana ngadat, saya tak bisa mempostingnya pada rentang waktu lomba yang ditetapkan (14.00 - 15.40). Kelihatannya, ratusan peserta yang lain mengalami hal yang sama. Bahkan Admin Kompasiana sampai minta maaf segala.
Tak apalah. Kalaupun tak sempat diikutkan lomba, tulisan ini masih bisa saya posting di blog sederhana ini. Untuk siapa lagi kalau bukan untuk Anda? Semoga bermanfaat. Kayaknya bakal berseri tulisan tentang tokoh ini. Semoga banyak yang bisa saya ingat dan ceritakan kembali.
***
Dapat info dari Mas Sakti Wibowo melalui FB-nya, bahwa Ketika Cinta Bertasbih (KCB) akan hadir versi sinetronnya di RCTI untuk menyambut Ramadan 1431 H kali ini. Tayangan perdana 26 Juli mendatang, setiap hari mulai jam 18.00 - 19.00 WIB.
Yang menarik adalah salah seorang penulis skenarionya — disamping Kang Abik, sang penulis KCB — juga Mas Sakti Wibowo!
Selamat buat Kang Abik, Pak Chaerul Umam (Sutradara), Mas Sakti. Juga Sinemart. Semoga menjadi tontotan alternatif di bulan Ramadan ini. Khusus Mas Sakti: Kapan nih aku diajari menulis skenario film? Atau sekalian diajak?
***
Keterangan.
Gambar poster didapat dari FB Mas Sakti Wibowo.
Ada kiriman artikel menarik dari seorang teman, ditulis oleh Pak Rhenald Kasali. Mungkin kita sudah pernah tahu secara esensi, tetapi sebagai manusia biasa, kita sering lupa dan khilaf. Maka tak lain tulisan ini semoga mengingatkan kembali kepada kita, bahwa sebagai orang tua kita harus bertindak sebagaimana layaknya “orang tua”. Tua dalam pandangan jawa (tuwo), berarti kenyang terhadap pengalaman hidup. Dimensinya bahkan dunia-akhirat. “Ngelmu tuwo” bukanlah ilmu yang sudah ratusan tahun umurnya, melainkan ilmu yang mendalam secara makna, melintas zaman dan dimensi secara waktu, dan matang secara materi.
Semoga bermanfaat, di tengah saya belum punya ide dan waktu untuk memperbaharui blog ini. (Dasar!)
***
Encouragement
Thursday, 15 July 2010
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.
Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.
Judul: Bayang-bayang Pohon Delima / Shadow of The Pomegranate Tree
Penulis: Tariq Ali
Penerbit: Serambi, Jakarta
Terbit: Juli 2006
Tebal: +478 halaman, 13×20 cm
Kategori: Fiksi berbasis sejarah
Sejarah telah mencatat begitu banyak dinasti berdiri, lalu tumbang suatu saat; banyak kerajaan dibangun, kemudian roboh pada akhirnya. Juga kesultanan-kesultanan berjaya, baik di Timur maupun di Barat, untuk kemudian terpuruk jatuh ditelan masa. Satu demi satu. Datang dan pergi. Semua menetapi sunatullah, bahwa demikianlah hari-hari kejayaan dan kehancuran itu dipergilirkan diantara manusia agar menjadi pelajaran (QS. Ali Imran: 140).
Tetapi tidak ada yang lebih menyakitkan berbicara tentang jatuhnya sebuah kekuasaan yang pernah ada di muka bumi ini dibandingkan jatuhnya kesultanan Granada.
“Ayah.”
“Hmmm?” Saya menoleh pada gadis manis di jok samping saya itu. Gurat kecantikan ibunya ada pada wajahnya. Sementara mobil saya berhentikan ketika lampu lalu lintas perempatan Nginden baru saja menyala merah. “Apa Mbak Ais?”
“Gimana sih supaya kita bisa mimpi bertemu Rasulullah itu?” tanyanya serius, seserius pertanyaan gadis kecil itu.
“Mimpi bertemu Rasulullah?” Alis saya terangkat. Saya terperanjat. Gadis kecil saya menatap mata saya menunggu jawaban dengan penuh harap. O, Mbak Ais, kenapa kamu tanyakan sebuah pertanyaan yang sulit Ayah jawab ini, sayang?
Pagi ini saya dikagetkan dengan sebuah kabar yang “jelek” secara pribadi buat saya. Kejutan Selasa pagi yang sudah sangat terlambat. Prizes (”Hadiah Nobel”, Gramedia Pustaka Utama, 1996) baru saya baca ulang untuk kedua atau tiga kalinya sambil naik taksi dari apartemen Cempaka Emas ke kantor Kuningan atau ke kantor klien di bilangan Sudirman Jakarta — dan kini baru sampai di halaman 493 dari 596 — ketika saya tahu dari googling bahwa ternyata Erich Segal telah meninggal dunia awal 2010 lalu. New York Times online menulis beritanya tepat pada saat ia meninggal, 19 Januari 2010.
Ini masih ada sangkut pautnya dengan acara Tribute to WS. Rendra pada Selasa, 15 Juni yang lalu di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail. Malam itu, Ken Zuraida, istri almarhum WS. Rendra, sempat membacakan dua puisi Si Burung Merak. Dua puisi itu berjudul “Bumi Hangus” dan “Stanza” yang terkenal itu.
Setelah berdendang seperti tembang Jawa yang saya agak tak bisa menangkap maknanya, Ken lalu berhenti sejenak dan berkata, “Saya akan membacakan puisi yang ditulis oleh seorang anak usia 16 tahun — umur Rendra ketika menulis puisi itu (red) — yang mungkin ada relevansinya dengan apa yang tengah terjadi di Palestina hari ini.” Lalu Ken Zuraida terhanyut dalam puisi ini:
Setelah agak maksa pada Shery, bahwa saya datang dari Surabaya — kota nan jauh dari ibukota Jakarta, maka contact person panitia itu akhirnya mau mencatat saya dalam daftar undangan terbatas peluncuran Film Tiga Hati Dua Dunia Satu Cinta (THDDSC) di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI) di bilangan Kuningan Jakarta, Selasa malam, 15 Juni kemarin. Saya mendapat info acara ini dari Republika seminggu yang lalu. Dan karena venue acaranya segedung dengan kantor Infoglobal tempat saya bekerja di Jakarta dan waktunya pas setelah jam pulang kantor, maka saya tak ingin kehilangan kesempatan ini. Jika Shery sempat membaca laporan pandangan mata ini, saya tentu dengan segala hormat minta maaf atas segala “pemaksaan” saya padanya sore itu.
Shubuh baru saja usai. Kokok ayam sudah nyaris tak terdengar karena malu pada matahari yang sinarnya telah menghangatkan bumi. Suasana sekitar pondok Gontor Putri, Mantingan, Ngawi, mulai ramai dengan aktivitas para santri dan wali santri yang datang berkunjung menjenguk putra-putri mereka karena sedang libur panjang Waisak.
Seorang ibu setengah baya pagi itu pun mulai bergerak. Keranjang besar ia letakkan di pinggangnya. Ia telusuri setiap sudut, dari satu tempat sampah ke tempat sampah yang lain. Tangannya cekatan mengorek dan memilah barang yang teronggok di setiap tempat dan mengambil yang masih bisa dimanfaatkan. Botol plastik minuman kemasan, misalnya.
Pak KH berdiri mematung di tempatnya seperti mengalami de javu. Ya. Ibu itu kerap dijumpainya setiap kali mengunjungi putrinya di pondok modern ini. Ibu yang sama, dengan keranjang di pinggang yang sama, aktivitas yang sama, di waktu pagi yang sama. Tetapi entah mengapa, hari itu, wali santri itu tergerak melakukan hal yang berbeda.
Alhamdulillah, di tengah kondisi sedang ‘drop’ mengisi blog ini, pompaan semangat itu datang. Ya, bayi saya ke-2 telah lahir. Setelah Jejak-jejak Surga Sang Nabi (LPPH, 2008), kini 20 Tahun Mencari Keadilan (Inti Medina, 2010) telah beredar di pasaran. Contoh bukunya sudah dikirim ke rumah akhir minggu lalu.
Alhamdulillah.
Dua tahun, satu buku. Produktivitas yang payah, ya? Tetapi tetap saya syukuri, dengan sangat bahkan. Ketimbang tidak punya karya sama sekali, tentu saja. Tahun ini, 2010, insyaAllah akan saya balik. Sebagai target. Satu tahun, dua buku. Naik 400%! Target kenaikan produktivitas yang tinggi sekali, bukan? Meski dibandingkan dengan Mas Ali Muakhir, yang bukunya lebih dari 300 judul, ya saya hanyalah debu.
Berarti, target saya tinggal satu buku lagi tahun ini.