rumah berbagi para pencari hikmah
Membaca karya Amin Maalouf memang mengasyikkan. Disamping diajak berpetualang dan hanyut dalam lautan kata nan indah menawan, kita juga diajak berpetualang — melalui tokoh utamanya — dari satu kota ke kota lain. Kota yang memang benar-benar ada, setidaknya dalam sejarah, meski yang kita baca adalah sebuah novel. Bahkan tokohnya pun nyata.
Yang lebih saya suka ketika membaca sesuatu, termasuk novel, adalah menemukan penggal-penggal cerita yang boleh kita pakai sebagai pelajaran sederhana tentang hidup. Penggal-penggal cerita itu lebih mendekati dunia realitas kita — yang multi-colour; selain putih, ada juga hitam — ketimbang cerita-cerita suci yang hampir-hampir tidak bisa kita teladani secara utuh melainkan hanya mendekatinya saja tanpa pernah sampai.
Apa kata peribahasa tentang Cicak dan Buaya, sebelum perseteruan antara keduanya kian merebak akhir-akhir ini?
Buat saya, peribahasa, kutipan, pepatah, kata bijak, atau apalah namanya, sedikit banyak, merupakan kristalisasi dari nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Ia dibentuk sekian lama, lebih lama dari usia rata-rata kita. Boleh jadi kata-kata itu bernada penuh pelecehan dan sarkastis. Boleh jadi kata-kata peribahasa itu serupa lelucon saja. Boleh jadi kata-kata peribahasa itu mengandung nasihat akan budi pekerti yang luhur. Tetapi yang jelas, di sebaliknya terkandung makna, yang seringkali dalam, karena “kebenarannya” sudah dibuktikan secara empiris oleh sejarah itu sendiri.
Banyak omong belum tentu berilmu. Semakin banyak omong, semakin banyak bolong. Semakin banyak salah. Apalagi jika tak dilandasi ilmu.
Karena itu, jika tak bisa ngomong yang baik-baik, maka diam adalah emas. Diam pastilah lebih baik. Dan ingatlah masa lalu kita. Mas Ali Ridho Barakbah mengingatkan saya dan kita semua pada masa lalu itu, yakni ketika awal-awal kita belajar berbicara. Harusnya kita malu jika menyaksikan kembali rekamannya di bawah ini.
Setidaknya ada 10 (sepuluh) hadits yang disampaikan Abina Ust. Ihya Ulumiddin pada taushiyah Ahad pagi kemarin (7/11). Kesepuluhnya menggunakan kata awalan laysa (ليس) yang berarti bukanlah. Laysa biasa digunakan untuk peniadaan. Saya memahaminya sebagai upaya untuk menjelaskan makna atau pengertian yang sebenarnya dibandingkan dengan pengertian yang dipahami orang pada umumnya.
Hadits-hadits dengan kata awalan laysa tersebut tidak lain merupakan salah satu metode Rasulullah saw. dalam tarbiyah untuk memberikan deskripsi nilai-nilai yang tinggi, yang esensial, di belakang atau di balik pemahaman-pemahaman — yang mungkin keliru atau kurang tepat — yang telah berkembang luas di masyarakat.
***
Hari ini saya mengaktifkan plugin baru di bahtiarhs.net ini untuk mencegah adanya spam yang masuk. Bagamanapun, setelah memasang plugin Akismet pun masih banyak spam via comment yang mengganggu dan menambah kerjaan saya untuk menghapusnya.
Pada kuliah Shubuh Ahad ini, 1 November 2009, Pak Muttaqin yang kena giliran kultum menguraikan tentang anjuran untuk bepergian dari Rasulullah saw. Mengutip dari Kitab Fiqhus Sunnah karya Sayyid Sabiq, Pak Muttaqin menyebutkan satu hadits pengantar yang sangat menarik.
عن ابي هريرة راضي الله عنه ان النبي صلى الله عليه وسلم قال سَافِرُوا تَصِحُّوا وَاغْزُوا تَسْتَغْنُوا - رواه أحمد وصححه النواوى
Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda, “Bepergianlah engkau sekalian, maka engkau sekalian akan sehat. Dan berjihadlah engkau sekalian, maka engkau sekalian akan berkecukupan.” ~ HR. Ahmad, yang dishahihkan oleh Imam Nawawy.
Mungkin Lukie Damayanti, sahabat saya sebangku kuliah di Informatika ITS yang kini nungguin sumur minyak Caltex di Duri, Riau, akan kaget membaca posting ini. Lebih tepatnya: surprised. “Masya Allah! Ini blog kamu yang ke berapa, Cak?” Saya rasa ia akan bertanya seperti ini, sebagaimana pertanyaan yang sama ia ajukan ketika saya mempublikasikan blog Rumah Konten pada akhir 2008 yang lalu.
Jakarta, 24 Oktober 2009. Pukul 08.50 WIB.
Saya telah salah kira terlambat datang di gedung SMESCO Building Gatot Soebroto ini. Ternyata tidak. Bahkan jikalau ada kontes 100 peserta pertama yang datang lebih dulu pada kopi darat akbar para blogger Indonesia, Pesta Blogger 2009 ini, maka saya yakin menjadi salah satunya. Inilah karya perdana saya — dengan mengenakan kaos “I am a famous blogger!” yang saya dapatkan semalam — di pintu masuk acara setelah registrasi dan mendapat goodies bag dari panitia.

Setelah serangkaian mozaik kemarin, akhirnya saya datang juga ke acara pengumuman PropertyKita.com Blogging Competition 2009 pada 23 Oktober malam itu. Setelah menyusuri Jalan Aditiawarwan dari ujung ke ujung dengan bantuan GPS, akhirnya Es Teler 77 itu pun dapat saya temukan. Saya harus berterima kasih kepada Ardi yang telah menemani saya keblasuk-blasuk menemukan venue di belantara Kebayoran Baru Jaksel itu, disamping kerelaannya mengambilkan gambar-gambar (saya) selama acara.
Pagi tadi saya mendapat telepon dari ibu Niken dari PropertyKita.com. Dia membawa kabar gembira buat saya, karena katanya saya termasuk 9 finalis PropertyKita.com Blogging Competition 2009 yang diadakan portal property itu sejak 1 Juli 2009 yang lalu. Saya saat itu menulis di blog ini tentang bagaimana proses saya hunting rumah tempat tinggal sekian tahun yang lalu.
Dia meminta saya datang ke acara malam pengumuman para pemenang kompetisi menulis di blog itu. Panitia akan memilih 5 pemenang dan 1 pemenang utama. Mereka akan menyisihkan 223 peserta yang berpartisipasi dalam perhelatan lomba ini.