rumah berbagi para pencari hikmah
Ada analogi yang saya tak tahu apakah itu hasil othak-athik-gathuk atau memang sebenar analogi. Ust. Ma’ruf Islamudin pada ceramah di sebuah radio swasta di Surabaya beberapa hari yang lalu pernah menyampaikan bahwa “syukur” itu artinya “terima kasih”. Terima. Kasih. Terima (ustadz Ma’ruf kedengarannya sedang mempraktekkan menerima sesuatu), lalu Kasih (diberikannya sesuatu pada orang lain). Terima. Kasih. Setelah menerima, lalu jangan lupa ngasih (ada nggak ya bahasa Indonesia untuk “mengasih”?) pada yang lain. Jadi, syukur itu tak sekedar menerima, tetapi juga mengimplementasikannya dengan berbagi pada orang lain.
Hari ini saya tambahkan satu page pada blog bahtiarhs.net ini. Saya memanfaatkan plugin Sitemap Generator yang bisa didownload dan dibaca cara instalasinya di situs Dagon Design. Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepadanya atas manfaat dan kemudahan pemakaian plugin ini.
Inilah konsekuensi yang harus kami tanggung ketika memutuskan di rumah tidak perlu memutar siaran TV. Ketika lebaran kemarin di rumah mertua di Bangkalan, hampir seharian Ais dan kedua adiknya (yang pada masa kecil mereka sempat melihat TV sebelum kemudian kami buang antenanya, lalu kini saya singkirkan sama sekali dari rumah) duduk mematung di depan TV kakeknya. Tentu saja kakeknya dengan senang hati merelakan TV, tempat, dan waktunya untuk cucu-cucunya. Sementara saya dan ibunya anak-anak terbaring sakit, maka lengkaplah ‘kebahagiaan’ Ais dan adik-adiknya menghabiskan waktunya seharian di depan kotak opera sabun itu.
Ada yang kemudian menarik perhatian saya ketika mereka sedang menyaksikan film kartun. Sebenarnya film kartun anak-anak kita saat ini isinya apa sih? Pada saat itu, di saluran GlobalTV sedang diputar serial Tak and The Power of Juju. Sebuah kartun yang diangkat dari video game untuk Play Station. Cerita ini lalu diadaptasi ke dalam film animasi televisi oleh Nickelodeon dan Nicktoons Network pada 2007.
Ada 3 buah posisi jam-menit yang sedang dibicarakan orang hari-hari ini. 17:16, 17:58, dan 08:52. Ketiganya adalah jam-menit ketika gempa baru-baru ini meluluhlantakkan kota Padang dan Jambi. Gempa berkekuatan 7,6 Skala Richter itu menghancurkan kota Padang dan sekitarnya tanggal 30 September 2009 lalu pada pukul 17.16 WIB. Gempa susulan kemudian terjadi pada pukul 17.58 WIB. Keesokan harinya, tanggal 1 Oktober, gempa berkekuatan 7 Skala Richter kembali mengguncang Jambi dan sekitarnya tepat pada pukul 08.52 WIB.
Ada yang kemudian menyebar SMS untuk membuka Al-Qur’an dan menemukan ayat-ayat berdasarkan posisi jam itu. Maka, pada QS. Al-Israa’ [17] ayat 16 kita menemukan ayat dimana Allah berfirman:
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

| Judul | The Janissary Tree |
| Dalam Bayangan Pohon Yenicheri | |
| Penulis | Jason Goodwin |
| Penerjemah | Zia Anshor |
| Penyunting | Anton Kurnia |
| Jenis | Novel misteri / detektif |
| Penerbit | PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta |
| Terbit | Cetakan I, Maret 2008 |
| ISBN | 978-979-024-027-8 |
| Tebal | 479 hal |
| Ukuran | 13 x 20 cm |
Inilah salah satu hikmah saya sakit selama lebaran kemarin. Saya berhasil menuntaskan baca satu dari dua buku yang saya bawa selama mudik. Sebuah novel detektif, berjudul: The Janissary Tree; Dalam Bayangan Pohon Yenicheri.
Tak terasa setahun sudah blog pribadi saya, bahtiarhs.net, ini berselancar di jagad persilatan ranah maya sejak 17 September 2008 yang lalu. Ingin rasanya bisa menulis secara kontinyu dengan tetap berkualitas dan bernas berisi, tetapi keterbatasan waktu, tenaga, pikiran, pemikiran, juga skill menulis jualah yang akhirnya membuat ‘prestasi’ blog ini hanya seperti yang Anda saksikan hari-hari. Bagaimanapun, itulah usaha maksimal saya menghidupkan blog ini setahun terakhir. Saya tetap bersyukur, tentu saja, karena setidaknya blog sederhana ini tidak mati di tengah jalan.
Lebaran hari kelima. 24 September. Saya baru tiba di Bangkalan setelah semalaman menyetir mobil dari Ponorogo. Berangkat selepas Isya. Harusnya 6 jam saja. Tetapi karena terjebak kemacetan mahaparah di Saradan (antri 3 jam!), maka baru jam 5 pagi kami tiba di Bangkalan.
Mula-mula kepala pusing, badan meriang panas, dan tenggorokan serak seperti mau terkena flu. Sehari kemudian saya merasa seperti segar kembali. Tetapi tidak lama, karena begitu menginjak malam, timbul ruam merah kecil-kecil di kedua lengan saya, semburat seperti bintang-gemintang memenuhi langit di waktu malam. Badan saya mulai panas-dingin. Demam.
![]() |
Time is like a river.
You cannot touch the same water twice,
because the flow that has passed will never pass again.
~Anonymous
***
Keterangan.
Sumber gambar: istimewa (koleksi pribadi). Rafting di Kasembon, 2007.
Quote tidak ditemukan siapa yang menyatakannya pertama kali. Hanya dapat quote ini dari teman via email.
Alhamdulillah, Allah swt. telah memberikan kepada kita nikmat yang banyak. Dimampukan-Nya kita menyelesaikan etape demi etape Ramadhan kali ini dengan baik. Kini kita telah dientaskan dari kawah candradimuka itu untuk menapaki 11 bulan berikutnya, sebelum kita diperjumpakan-Nya dengan Ramadhan berikutnya. InsyaAllah.
Semoga kita mampu me-Ramadhan-kan hari-hari ke depan yang bakal kita lewati.
Taqobbalallohu minna waminkum Taqobbal ya karim,
Minal ‘aidin wal faizin
Mohon maaf lahir dan batin
Barangkali ada salah kata atau salah ketik pada postingan di blog ini,
maupun khilaf pada kesempatan copy darat dengan Anda semua.
Semoga Allah swt. menerima segala amal dan puasa kita selama Ramadhan kemarin.
Amin.
Selamat Idul Fithri 1430H.
Wassalaamu’alaikum W.W.,
Bahtiar HS
Owner http://bahtiarhs.net
[Catatan Ramadhan 1430H #12]
Ah, kita tentu tak melupakan cerita masyhur ini.
Tiga orang lelaki bepergian bersama. Ketika malam tiba, mereka terpaksa memasuki sebuah gua untuk menginap. Tiba-tiba sebuah batu besar jatuh dari gunung dan menutup pintu gua itu. Mereka pun terjebak, tak bisa keluar.
Salah seorang dari mereka berkata, bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka dari himpitan batu besar itu kecuali memanjat doa pada Tuhan Sang Maha Penolong dengan menyebutkan amal perbuatan mereka yang teramat istimewa.
Seorang kemudian ‘memamerkan’ amalnya kepada Allah, bahwa ia seorang yang sangat berbakti pada kedua orang tuanya. Bakti itu ia tunjukkan dengan tidak akan memberikan minum pada lainnya sebelum kepada kedua orang tuanya.
Pernah suatu kali, ia terlambat datang dari mencari kayu bakar di tempat yang jauh. Ketika kemudian ia memerah susu kambing, kedua orang tuanya sudah keburu tertidur. Ia enggan membangunkannya, hingga rela memegang gelas berisi susu itu sampai fajar menyingsing sekadar untuk menunggu mereka bangun. Bahkan meski anak-anaknya merengek dan menangis di bawah kakinya karena kelaparan, tak jua ia beringsut dari tempatnya. Begitulah, ketika akhirnya kedua orang tuanya bangun, ia berikan susu kambing itu untuk mereka minum.
Ia lalu berdoa, “Ya Allah, jika sekiranya Engkau nilai hamba melakukan itu semata mengharap ridha-Mu, maka lapangkanlah kesukaran yang tengah kami hadapi ini.” Dan batu itu pun bergeser. Sedikit.